BENCONGGGGGGG MONYETTTTT SEMOGA DUBUR LU KELUAR NANAH BUSUK. gue baru nyaksiin framing separah ini ke rakyatnya sendiri.
ya Allah.... sakit banget hati ini. bencana dimana dimana tpi bisa bisanya nih akun post ginian dengan framing sejahat itu
shame on you
I'm against doain orang mati but for this mf i hope lu mati mengenaskan, tiap inci nyawa lu dicabut menyakitkan, pas sakaratul maut gak bakal damai. I hope lo gk pernah tidur nyenyak, mimpi buruk seumur hidup, dosa lu gk diampuni, even tanah makam menolak jasad elu.
Yg lucu ttg crash out adalah, orang-orang mendadak claim they see your true color, seolah you being sabar dan understanding selama ini tuh bukan part of your personality🤷♀️
Dulu suami pas PDKT pake taktik ini. Dari yang excited chat tiap hari nanyain progres aku mencari kerja. Trus tiba-tiba hilang kabar beberapa pekan. Tapi aku ga kegocek, ga aku WhatsApp duluan 🤣
Alasanku ga chat duluan : tangki cintaku tetap full kala itu dari keluarga dan temen
Tbh gue gasuka sama statment toxic positivity macam "gapapa miskin yang penting bahagia." Like, big no. Gaada yang bahagia dalam KEMISKINAN, hidup miskin itu tidak LAYAK, banyak cita-cita yang mati karena jadi MISKIN. Gaya hidup sederhana beda sama nasib hidup jadi orang miskin.
wok liat wok... sumatra sama jawa banjir, kalimantan kebakaran, ntt gempa... lu tuh bawa sial jir buat negara ini mana kagak becus kerjanya. gak mau meninggal aja?? at least turun lah dari jabatannya...
You should be worried if he spends money like a drug dealer.
1. Kebutuhan dasarnya udah terpenuhi belom?
2. Bisa nabung / investasi gak?
3. Sampe ngutang gak?
4. Bisa sampe kapan begitu dengan penghasilan sekarang?
Kalo lo gak mau peduli soal ini sih ya siap2 masalah
Real, aku malah ilfeel sama cowo yang nggak punya financial management yang baik. Even if he’s spending it on us, kalau cara spending-nya kayak drug dealer😂
Financial discipline is hot, impulsive spending is not.
Inilah kenapa hidup itu jangan di-male-centered-male-centered-kan ataupun di-female-centered-female-centered-kan. Hidup itu harus di-Allah-centered-kan. Di sini konteksnya menjalani pernikahan harus berpusat dengan aturan Allah, bukan dengan aturan laki-laki ataupun perempuan.
THIS. I’m 31, and I can assure you: FOCUS ON BUILDING THE LIFE YOU LOVE. Because once you genuinely love your life and have found your peace, when a potential partner comes along, you can REALLY see things clearly: “Will this person add to the peace I already have, or are they going to bring chaos and drama into my life?” And you’ll know whether to let them in or let them go.
gue baru 30 hari nikah, tapi rasanya pengen balik ke kosan lama dan pura-pura nggak pernah kenal dia 😭 ternyata musuh terbesar dalam pernikahan itu bukan mertua atau cicilan, tapi suami yang kalau disuruh nyuci piring aja pura-pura bego biar gue yang beresin.
semalem puncaknya waktu gue lembur ngejar deadline kantor, dia malah minta dibikinin kopi sambil rebahan main ps. pas gue bilang, “ambil sendiri ya, mas, tangan gue lagi ngetik,” dia cuma hela napas panjang seolah-olah gue istri paling tega sedunia 😭
padahal seharian gue juga kerja di scbd, ikut meeting sampai kepala pusing, ngejar target. tapi pas sampai rumah status gue otomatis berubah jadi asisten rumah tangga tak bergaji. giliran piring kotor dibiarin numpuk sampai besok dengan dalih “nanti juga dicuci.”
pas piring itu akhirnya gue diemin sehari penuh karena gue capek banget, dia malah ngomel-ngomel bilang rumah kita udah kayak kapal pecah. dia lupa atau pura-pura amnesia kalau yang numpukin piring dari kemarin malam ya dia sendiri 😭
gue natap dia lama banget semalem, ngerasa asing sama cowok yang dulu pas pacaran kelihatan mandiri dan bisa diandelin. ternyata itu semua cuma topeng, karena begitu sah, dia pengen punya “ibu” baru yang bisa ngurusin baju, makan, sampai beresin kotorannya.
pernikahan ini baru sebulan, tapi pundak gue udah remuk rasanya. bukan karena kurang cinta, tapi karena sadar kalau gue lagi merelakan kewarasan demi maklumin ketidakdewasaan orang lain.