Saya akan memakai X/Twitter ini untuk pengarsipan pengetahuan pribadi.
Nantinya pos ini akan dijadikan sebagai indeks atau daftar isi/table-of-contents tak berurutan dari kumpulan komposisi pos.
Badan Bahasa ini bisa hidup karena pajak ya? Artinya publik bukan private kan?
Hanya satu yg saya sayangkan. Mereka ga berani buka data mereka dalam bentuk dataset yg bisa dikonsumsi publik untuk keperluan NLP dan otomasi.
Malah menakuti masyarakat pakai pasal kalau nyolong datanya. Padahal data2 masyarakat yg penting justru bocor karena pemerintah.
Sangat ironis kalau mereka mau ngomongin AI dan pengen bikin model pondasi sendiri dgn data yg tertutup begitu.
Saya tau mas penyebabnya.
Kalau ngomongin soal dunia penulisan fiksi di Barat, ada garis jelas antara genre dan literary fiction --lahir dari sejarah panjang industri penerbitan dan dorongan pasar.
Genre berkembang lewat pola: trope berulang, struktur khas, plot yg "terbaca". Sementara literary lebih bebas, --menggali tema, bereksperimen, dan sering menabrak bentuk.
Di Indonesia, sejarah pasarnya agak beda dan ga terbentuk. Kebanyakan novel yg diterbitkan, kalau dinilai melalui kacamata editor barat, kemungkinan besar masuk literary. Meskipun beberapa mencoba menulis fantasi dan fiksi ilmiah tapi ketinggalan jauh dgn barat.
Mungkin itu kenapa orang2 sini merasa "sastra" itu ada di menara gading dan digatekeep oleh banyak pelakunya.
Nanti ketemu sastra progresi, misalnya progresi fantasi macam di RoyalRoad, atau teori puisi-prosa (bukan puisi, bukan prosa, dan bukan bentuk narasi), pelaku2 sastra di sini yg menduduki istana sastra ini terkejut kaget pula.
Tapi biasanya yg kelihatan polanya itu zero-shot prompting (tanpa kasih contoh pola kalimat), dan one-shot prompting (kasih contoh pola kalimat terbatas). Artinya andil AI lebih banyak daripada kreativitas manusia dalam mengeluarkan output.
Kalau misalnya pakai teknik yg saya ga sengaja temukan: meniru struktur gaya tulisan dari sintaksis dan semantiks tulisan orang lain, baik dari buku fiksi atau non-fiksi atau jurnalisme, dgn menggunakan ekstraksi EBNF tulisan tersebut, maka sangat susah terlihat polanya. Apalagi jika sampai melakukan komposisi gaya tulisan yg satu kluster gayanya.
1. Sebenarnya ada cara yg lebih masuk akal buat ngecek tulisan itu kemungkinan AI atau bukan, tapi memang belum jadi tools praktis.
2. Salah satu pendekatannya: teksnya dipecah dulu per kalimat. Ini bisa dibantu pakai tools kayak ChatGPT, Gemini, atau Claude.
3. Setelah itu, tiap kalimat diubah jadi "vector embedding" (anggap sebagai representasi angka dari makna kalimat). Pakai dimensi sekitar 300-an juga udah cukup buat lihat pola
4. Paragraf juga bisa diperlakukan sama, jadi nanti kita punya kumpulan "titik-titik" yang mewakili kalimat & paragraf dalam bentuk angka
5. Nah, titik-titik ini lalu divisualisasikan (misalnya pakai teknik kayak t-SNE), jadi kelihatan pola sebarannya
6. Dari situ biasanya keliatan: tulisan manusia cenderung punya pola yang lebih "organik" dan beragam, sementara tulisan AI sering lebih konsisten atau terlalu rapi polanya
Masalahnya, cara ini belum dibungkus jadi tools simpel yg tinggal klik jadi ya untuk sekarang.
Btw, soal AI checker ini, saya serius banget, banyak tools AI checker di luar sana itu nggak valid.
Saya sering iseng ngecek tulisan-tulisan di majalah lawas (yang jelas nggak mungkin ditulis pakai AI) di berbagai tools AI checker, dan hasilnya banyak yang hasilnya di atas 75% dianggap AI.
Tulisan-tulisan saya sepuluh tahun lalu pun sering saya masukkan ke tools AI checker, dan hasilnya banyak yg dianggap AI.
Sejujurnya ini jadi kemangkelan tersendiri sih, soalnya dalam setahun terakhir ini, mula sering saya dapati komentar yang menuduh tulisan saya hasil AI berbekal screenshootan hasil test AI checker ini.
@NaamIsPrometheo@lynxluna Apakah sudah membaca semua bentuk2 dan penerapan demokrasi di semua negara yg menganut demokrasi? Atau hanya membaca sekilas bagaimana mereka menerapkan?
@ardi_tama1 Harusnya yg bantu urunan BPJS ga cuma rakyat, itu dana MBG harusnya sebagian ikut masuk patungan, urun dana ke BPJS. Sekolah2 yg rata2 muridnya anak2 mampu harusnya distop MBG-nya.
@novalkomik@piotrj@efenerr Setuju. Mending dibikin rancangan seperti proyek2 open source lainnya. Jadi masyarakat, secara terdesentral, bisa urun-dana dan urun-daya bersama2, dari pada tergantung pada satu organisasi.
AI itu keniscayaan sebenarnya. Banyak yg nyinyir karena kadang skip nonton video penjelasan secara teknis atau baca buku2 sejarah AI kenapa bisa sampai sekarang.
Misalnya semua orang 50% populasi di dunia ini boikot perusahaan AI manapun. Masih ada open model berseliweran dan terus dilatih. Bermunculan paper2 AI dan hal2 teknis mengulik pengembangan arsitektur AI. Dan tentunya masih banyak org yg pake AI.
Selama protokol internet itu seperti sekarang ini, terbuka. AI ga bisa dihentikan. Masih ada orang2, individu2 partikelir yg ngulik.
Dan kadang yg dipermasalahkan itu slopnya. Justru AI harus melewati masa slop, sebelum nanti bisa lebih berguna. Itu gunanya benchmark AI dimana2.
Penolakan AI sifatnya lebih kepada tindakan performative, merasa melakukan perbuatan adiluhung, memaksimalkan ethics, memilih rata-kanan moralisme, menyelamatkan masyarakat, dan sifatnya signaling lomba2an menang siapa yg paling moralis.
@neohistoria_id Bukannya udah menjadi sumber terbuka algoritmanya? Ya tinggal dibahas itu secara storytelling. Pakai bantuan AI dgn loop reasoning jg ga masalah. Asal ga ngarang aja menjelaskan algoritmanya kalau ga tau gmn secara mekanisnya bekerja.
@SoundOfYogi Nyindir Terence Tao, Karpathy, dkk kah? Atau yg malas itu yg tidak baca sejarah kenapa gen AI bisa sampai seperti sekarang. Apa itu Transformers? Apa itu ruang latent? Bagaimana mekanisme arsitekturnya bekerja? Jangan2 belum baca dan memahami ๐
Iya maksud saya, Indonesia perlu sesuatu seperti Stripe. Bahkan mungkin integrasinya smooth antara QRIS dan semua payment gateway dan bank. Selain itu juga programmable dan customer servicenya seperti halnya marketplace. Midtrans memenuhi beberapa kriteria, tetapi mungkin ada sesuatu yang belum dicapai untuk konsumen UMKM.
Mungkin ada benarnya. Ada semacam gelombang yg berayun-ayun seperti bandul. Konsep yg berhubungan:
- Siklusnya Jugler (awal mula istilah boom dan bust).
- Gelombang Kondratieff (50 tahunan), edisi kiri.
- Siklus besarnya Ray Dalio (500 tahunan).
Mungkin butuh model, chart atau grafik seperti gelombang Elliott, yg didalamnya ada skala mikro yg digambarkan seperti candlestick, tapi untuk sejarah (melibatkan data ekonomi, gejolak sosial, politik, pergerakan masyarakat) dan lain sebagainya.
Sebenarnya mungkin bikin simulasi pakai AI dgn segala simulasi ekonomi, sosial dan politik, dalamnya jutaan agen, terus dilakukan fast forward.
1970++
High level programming language to Assembly to Machine codes
2020++
NLP to High level programming language code
2040++
Neural signal from BMI to NLP to Code to Machine codes
2050++
Imagination/pure creativity space to Neural signal to NLP and so on..