Madame Celeste Amarilla,
Vous êtes une femme méprisable et indigne de sa fonction.
Vous ne représentez pas le Paraguay, ce pays qui a transpiré la passion et l’honneur tout au long de la compétition. Par votre inconscience et votre racisme décomplexé, le monde entier a déjà oublié le parcours et l’effort historique que vos joueurs ont réalisés durant cette coupe du monde pour laisser place à une dame incompétente donnant la pire image possible de son pays.
Je ne laisserai jamais aux gens comme elle, la liberté de laisser propager leur haine et leur racisme à travers le monde.
Kalo ada orang yg nanya ke elu, kenapa jutaan orang banyak yang jatuh cinta sama sepakbola?
Tunjukin ke mereka, Michael Olise.
Bukan gol-golnya. Bukan trofi nya. Cukup perhatikan Olise bergerak.
Cara dia bergerak di lapangan seolah bola menempel di sepatunya. Ketenangannya, Visinya, Umpan-umpan yang terukur sempurna yang selalu dilihat orang lain terlambat sedetik. Sepak bola menjadi seni ketika dimainkan oleh Michael Olise.
Orang-orang akan membicarakan Kylian Mbappé. Dan memang seharusnya begitu. Namun jangan sampai kita salah mengira bahwa Olise berada di bawah bayang-bayangnya. Dia berdiri tepat di sampingnya.
Setiap tim hebat memiliki pemain yang membuat segalanya menjadi masuk akal. Pemain yang menghubungkan setiap serangan, memperlambat permainan saat semua orang terburu-buru, dan entah bagaimana selalu menemukan umpan yang bahkan tidak pernah dibayangkan orang lain.
Dia tidak menuntut perhatian. Dia membiarkan sepak bola yang berbicara.
Piala dunia kali ini telah memperkenalkannya kepada jutaan penggemar di seluruh dunia, tetapi mereka yang telah mengamatinya dengan cermat telah mengetahui sejak lama: ini bukanlah periode performa terbaik sesaat.
Ini adalah salah satu pemain sepak bola paling berbakat yang sedang memasuki masa puncak kariernya.
Remember the name.
Karena di tahun-tahun mendatang, orang-orang tidak hanya akan mengingat Prancis karena gol-golnya.
Mereka akan mengingat seorang pemain yang memungkinkan semua itu terjadi. Michael Olise.
Udah mau bulan Juli, alias babak pertama tahun 2026 udah mau selesai
Buat yg lagi nata hidup atau masih ngerasa ‘gitu-gitu aja’, smoga ada remontada & hal-hal baik buat kita di babak kedua tahun ini
Jadi sebenere boleh kritik government ga ini?
Soale tiap kritik dicounter, seolah2 yg kritik tu “ga nasionalis” bahkan dijawab “nyenyenyenye”
Ditanya “trus solusimu apa!”
Banyak juga yg udah kasi solusi. Ttp aja dibales dengan narasi offensive.
izin mengutip & menambahkan kalimat yang menurut saya bagus dari tulisannya, mas:
“menuntut kemenangan dan pemain mati-matian di lapangan, sementara kita membiarkan tribun menjadi tempat penampungan sampah kebencian.”
Kita sedang memelihara tradisi busuk: menuntut pemain mati-matian di lapangan, sementara kita membiarkan tribun menjadi tempat penampungan sampah kebencian.
𝗦𝗘𝗕𝗨𝗔𝗛 𝗨𝗧𝗔𝗦.
Kapten telah bersabda 🫡
“Begitu kita mengenakan jersey Indonesia, kita semua adalah satu. Kamu adalah bagian dari kami, Beckham. ❤️”
Jay tidak hanya membela Beckham sebagai rekan setim, tetapi juga mengirim pesan bahwa di Timnas tidak ada sekat klub, daerah, atau kelompok suporter.
Seriously? Is this really the best reason you can come up with?
If you can’t handle Beckham’s attitude when he plays against Persija and you carry that grudge over when he’s representing Timnas Indonesia, then you might be the one being immature and problematic.
If the issue is that you find his attitude annoying during matches against Persija, why take it out on him when he’s playing for the national team?
You can criticize him, chant against him, or even be as harsh as you want, but keep it within the context of club rivalry. Don’t bring that negativity into Timnas Indonesia. People come to support the national team with pride and positivity. They don’t need that kind of energy.
And why should Beckham be expected to show respect to a specific group of supporters? Is your respect really that valuable when so many other Timnas Indonesia fans continue to support and respect him?
Lastly, please don’t drag “The Jak” into this. This feels more like a personal grudge than anything else. I believe there are many Persija Jakarta supporters who are far more open-minded than this.