Hi! Saya Raka.
Mengawali pengalaman belajar di dunia psikologi (karena kuliah), loncat ke dunia foto video lalu nggeser ke multimedia, lalu dengan happy masuk ke dunia Public Relation (PR) dan agak keseret ke Jurnalistik tipis tipis.
Respek sebesar-besarnya terhadap manusia-manusia profesional, dedikasi penuh bahkan tak terhingga dan rasa tanggungjawab yang memenuhi ruang kemanusiaan -->> para pejuang di GAZA...
terimakasih sudah mempertontonkan perilaku-perilaku mulia meski dalam tekanan penjajahan!
@PresidenKopi Lanjut. Kita boycott karena keberpihakan. Bukan sekedar karena peperangan.. Kalo keberpihakan mereka ganti ke palestina baru kita maafkan π
Kalo Branding itu kayak masak.
Customer insight = bahan,
Piramida positioning = resep,
komunikasi = penyajian.
Enak gak enak tergantung chef-nya...
Mbahas piramida positioning nya besok tapi ya π
The best brands know: Customer ga cuma beli produk, tapi beli PEACE OF MIND.
Dalam bisnis, the smallest touchpoints often create the strongest connections. Details don't just matter, they multiply! π½β¨
Sering terjadi kan;
yang bikin loyal customer kadang bukan produk, tapi pengalaman, karena mereka merasa "dihargai" lewat detail-detail kecil.
Produk sering dianggap "minimum requirement" yang udah harus ada.
Ya katakan Resto dengan toilet bersih, toko parkir luas.
Jadi inget kata Oom Seth Godin:
'Jangan cari customer untuk produkmu, tapi carilah produk untuk customermu.'
Focus on what they need, not what we think they need! π―
Jujur, kamu ada dimana saat ini? :
Fokus ke produk atau fokus ke customer?
Kalau Simple Branding sih jelas: Customer is your compass! π§
Kenapa customer jadi kompas? Karena keputusan membeli itu ada di tangan mereka.
Ingat kata Theodore Levitt:
'Orang tidak ingin membeli bor seperempat inci, mereka menginginkan lubang seperempat inci.'
Konsumen tidak mencari produk β mereka mencari solusi untuk masalah mereka! π―
Pilihan 2. Jelas nggak simple, ganti segmen ke atas. Sangat beresiko, karena sudah biasa melayani satu segmen, kayak pindah kapal, repot tapi bisa aja.
Sesuaikan fitur, gali apa lagi yang dibutuhkan oleh segmen baru itu...
Selesai...
Cerita hari ini: Liat toko oleh-oleh haji yang dulu rame, terus renovasi jadi mewah, eh malah sepi pembeli. Ternyata customer takut masuk disangka harganya naik. Pelajaran: Hati-hati mengubah persepsi brand! π
Terus gimana solusinya udah terlanjur renov?
Pilihan 1. Pampang info bahwa 'aku masih seperti yang dulu' .. harga mungkin dipampang, tunjukkan value for money, harga murah belanja senyaman itu
Masih nggak puas saya belajar dan membuka jasa di bidang Marketing, dan bermuara di yang saya sebut dengan rumah besar persepsi manusia; BRANDING
Jumlah gagal jangan ditanya, tapi belum mau nyerah...
Dengan bahagia berbagi tentang Simpe Branding , lets connect... Bismillaah
Hi! Saya Raka.
Mengawali pengalaman belajar di dunia psikologi (karena kuliah), loncat ke dunia foto video lalu nggeser ke multimedia, lalu dengan happy masuk ke dunia Public Relation (PR) dan agak keseret ke Jurnalistik tipis tipis.