Perihal malam yang semakin kalut;
Kala itu, tiap serpihan raung berterbangan ke sana-sini.
Dan, terasa tiap detiknya makin membiru.
Melebam, mendingin, mendengar derik yang tak henti meringkuk dalam kerinduan.
Untuk kalut itu dan seterusnya,
Aku takut melewati malam.
Sebuah bincang-bincang di tepian sungai.
"Eh bro, nih gua kasih mobil sama pin emas, dukung gua ya. Jangan lupa loh".
"Oh iya bro makasi ya, siap. siapa yang ngomongin lu gua tamengin".
Tulisan itu tak perlu ditepuk tangani,
Tak minta dikagumi.
Ia hanya perlu ruang sendiri,
Untuk terus berkembang diri.
Sebab tulisan-tulisan itu,
Merupakan serpihan jiwa yang bergerak bebas.
Sepercik lara,
Kau tiada bertuan?
Ah, mungkin kau saja tak mau aturan.
Semungkinnya tetaplah seperti itu,
Hingga aku ke sana.
Huru-hara ku masih berjalan.
Dia tak habis menelan terpaan.
Hanya saja,
Sesekali ucapkan kabar.
Biar lara ini tak mati memadam.