tadi sekitar jam 01.00 dini hari, qadarullah suami gue mengalami kecelakaan tunggal pas pulang kerja. ada 2 orang saksi, tapi polisi baru datang setelah suami gue udah dibawa ke rs.
yang bikin bingung, polisi malah ngotot minta motor suami gue dibawa. katanya kalau kami gak mau kasih, berarti kami dianggap gak kooperatif dan dia gak mau ngasih surat keterangan kecelakaan lalu lintas buat keperluan klaim asuransi jasa raharja.
sementara kami udah punya trust issue soal motor korban kecelakaan yang dibawa polisi, takutnya nanti malah diminta uang tebusan. 🥲
𖥔 Ahmad owner kolam pancing minta
ganti rugi krn air kolamnya diambil helikopter water boombing untuk padamin karhutla
𖥔 terdapat 2 ton ikan berbagai jenis di dalam kolam yg dikelola secara khusus untuk pemancingan
𖥔 ikan jadi stress dan banyak yg mati
𖥔 heli udah beberapa kali ambil air dari kolamnya. udah berusaha dicegah dgn ngasih kode tapi tetap diambil
𖥔 kolam udah ada sejak 2010. dikelola pakai biaya sendiri bukan dari pemerintah
𖥔 saat musim kemarau, ia bahkan harus mengeluarkan Rp 600 rb setiap kali ngangkut air untuk mempertahankan debit air
DOCTOR DOOM JUST ENDED THE KANG DYNASTY IN SECONDS 💀🔥
The opening moment of AVENGERS: DOOMSDAY reportedly shows Doctor Doom facing multiple Kang variants — and what happens next could instantly establish just how terrifying Victor Von Doom really is.
Instead of another long multiversal battle, Doom appears to completely overwhelm the Kangs, wiping out the variants that were once considered one of the greatest threats to the MCU. 💀🔥
If this scene is accurate, Marvel is making one thing very clear from the beginning: Kang may have been the Multiverse’s biggest threat, but Doom is something far worse.
The scene would be a perfect way to introduce Doom as the central villain of the Multiverse Saga and raise the stakes for every hero who eventually has to stand against him.
And if Doom can eliminate multiple Kang variants this easily… what chance does anyone have when the Avengers finally face him?
#AvengersDoomsday #DoctorDoom
18! ada ga yang kaya gue, kalo gabut suka scrolling sosmed pake akun pasangan? gue kadang stalk akun mantannya jg pake akun pasangan. gue like juga fotonya. biar dia ngerasa geer 'ih dia udah nikah aja masih like foto gue' pdhl istrinya yg like🤣
Dialog Petani & Gibran soal Jalan Sawah:
petani :Alhamdulillah untuk alat-alat panen alsintan mulai dari jonder, komben itu melalui brigade banyak sudah cukup, sudah lengkap ya."
Gibran:"Oke, bagus."
petani : Yang kurang jalannya Pak. Jadi dari jalan menuju ke sawah itu komben atau jonder itu masih kesulitan."
Gibran:"Kenapa, Pak?"
petani : "Belum ada box jalan Pak. Jalan sawah belum ada jembatan kecil untuk masuk. Sementara ini kami pakai tangga."
Gibran:"Tangga?"
Rukamto:"Iya Pak. Satu tangga enam orang yang mikul. Combine harvesternya didorong turun tangga dari jalan ke sawah. Tangganya dipindah-pindah dari petak satu ke petak lain."
gibran : kenapa gk di gendong itu combinenya?
petani : diam sejenak, (lu tau kagak sih combine harvester)
gibran nyuruh petani traktor di gendong aja klo susah di pindah dari 1 sawah ke sawah yang lain
Habis marahin suami.
Gara² aku lagi pumping di ambilin makan buanyak banget. Sampe aku bilang "Kamu itu udah berapa lama sih sama aku? Masa porsi makan istrinya aja ga tau? Emangnya aku dugong dikasih makan segini banyak?"
Suami dengan sabar menjawab "iyaa, nanti kalo ga habis aku habisin aja dek".
Huufh "beneran loh yaa?" Tanganku sambil nunjuk² suami.
Beberapa saat kemudian
....
Habis
Apa ini?
Kemana makanan sebanyak itu?
Apa aku dugong?
Gimana nanti kalo suami tanya? 😭
sc:threadsind_s.r
Far too much in Indonesia depends on a thin-skinned former general with a sketchy human-rights record. Prabowo Subianto needs to hear some unpalatable truths https://t.co/8cvnt563TJ
Photo: Getty Images
Guys, ada pernyataan Prabowo yang menurut gue paling berbahaya yang pernah gue dengar dari seorang presiden soal mata uang negaranya sendiri.
Dan dia ngomong ini bukan di forum terbatas.
Bukan slip of the tongue.
Tapi di depan ribuan rakyat dengan penuh keyakinan:
Mau dolar berapa ribu kek
kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar.
Yang pusing yang suka ke luar negeri.
Ini bukan candaan.
Ini adalah cara berpikir yang sangat berbahaya.
Gue mau kasih lo contoh nyata negara yang pemimpinnya pernah berpikir persis seperti ini.
Dan apa yang terjadi setelahnya.
Zimbabwe
ketika presiden bilang rakyat desa tidak butuh mata uang yang kuat:
Robert Mugabe selama bertahun-tahun bilang kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat.
Bahwa rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir.
Hasilnya?
Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7
sextillion persen per tahun di 2008.
Orang membawa uang keranjang penuh hanya untuk beli roti.
Petani di desa yang "tidak pakai dolar" mendapati hasil panennya tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam.
Tabungan seumur hidup hilang dalam semalam.
Mereka akhirnya menyerah dan menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi.
Mata uang mereka sendiri sudah tidak ada nilainya sama sekali.
Venezuela
ketika pemerintah melarang rakyat khawatir soal kurs:
Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil.
Yang penting ada subsidi.
Yang penting ada program sosial.
Hasilnya?
Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000% di 2018.
Dokter, guru, insinyur semua yang punya pendidikan dan bisa pergi pergi.
Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya.
Rakyat desa yang "tidak pakai dolar" itu akhirnya mengantri berhari-hari untuk dapat sekarung tepung.
Mereka juga akhirnya terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun.
Dan sekarang kembali ke Indonesia yang ternyata sangat relevan:
Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dolar.
Tapi benarkah demikian?
Kedelai bahan baku tempe dan tahu yang dimakan rakyat desa setiap hari 90% diimpor dari Amerika Serikat.
Harganya ditentukan dalam dolar.
Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000 — harga kedelai naik.
Harga tempe naik.
Harga tahu naik.
Penjual tahu dan tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka.
Gandum bahan baku roti, mie instan, biskuit yang dikonsumsi rakyat desa 100% diimpor.
Harganya dalam dolar.
Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor.
Harganya dalam dolar.
Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian besar diimpor dari China dan India.
Harganya? Dalam dolar.
Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik.
Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar.
Dan inilah yang paling miris:
Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya justru dengan entengnya bilang kurs dolar tidak relevan bagi rakyat.
Padahal kepercayaan itulah
yang membuat rupiah bisa stabil.
Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk.
Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dolar dan emas seperti yang sekarang terjadi dan dikhawatirkan oleh ekonom-ekonom kita.
Ketika presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya sinyal apa yang dikirim ke pasar?
Sinyal apa yang dikirim ke investor asing?
Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah?
Bandingkan dengan pemimpin yang serius:
Lee Kuan Yew dari Singapura negara tanpa sumber daya alam apapun menjadikan kestabilan mata uang sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Dia tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan.
Hasilnya?
Singapura hari ini punya GDP per kapita lebih dari 80.000 dolar.
Rakyat Singapura yang "cuma pedagang kecil" pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam berlimpah.
Bukan karena Singapura kaya alam.
Tapi karena pemimpinnya tidak pernah menganggap remeh nilai mata uangnya.
Pernyataan "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan tidak pakai dolar" bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin.
Itu adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakpahaman atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat paling bawah.
Rakyat desa tidak pegang dolar.
Tapi rakyat desa makan tempe dari kedelai impor yang harganya dalam dolar.
Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dolar.
Rakyat desa berobat dengan obat yang bahan bakunya dalam dolar.
Ketika presiden tidak peduli dengan kurs yang tidak peduli bukan hanya presidennya.
Tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli.
Dan ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela berikutnya.
Semoga kita tidak sampai di sana.
Tapi pernyataan seperti ini tidak membuat gue yakin bahwa kita sedang bergerak menjauhi arah itu.