KDMP ini udah jelas2 pasti gagal.
Even secara konsep lebih jelek dari MBG.
Ga jelas masalah apa yg coba diselesaikan. Implementasi lebih buruk lg. Cm jd mainan kacang ijo.
Kalo mau mainan roleplay minimarket mah diajak ke Kidzania aja.
Ga perlu sampe bikin bangunan miliaran, beli pick up dari India, ngabis2in uang pajak kita
Muhidin Mohamad Said duduk di lembaga negara sejak 1992.
MPR tiga periode. DPR lima periode berturut-turut.
Sekarang Wakil Ketua Banggar DPR sampai 2029.
Total: 37 tahun. Satu orang. Satu partai.
LHKPN-nya juga konsisten , konsisten naik:
a. 2002: Rp 41,5 miliar
b. 2006: Rp 97,3 miliar
c. 2023: Rp 122,2 miliar
Selama itu, dia komisaris utama di perusahaan konstruksi dan tambang : PT Bhakti Kencana Mandiri, PT Sarana Perumahan, PT Bhakti Baru Rediapratama, PT Sarana Ventura Sulteng.
Komisi yang dia duduki di DPR: Komisi V : infrastruktur, jalan, jembatan.
Lalu Banggar : anggaran negara.
Konstruksi. Tambang. Komisi infrastruktur. Anggaran negara. 37 tahun. Satu orang.
Sistem ini bukan gagal mendeteksi konflik kepentingan , sistem ini dirancang agar konflik kepentingan tidak perlu dideteksi.
Kalau 37 tahun belum cukup untuk "mengabdi" , berapa tahun lagi yang dibutuhkan?
Gua tetap menolak untuk bisa mengerti dan paham kenapa bisa ada kelompok masyarakat terdidik, punya akses informasi, yang milih doi. Kok bisa?
Kurang terang apa kegelapannya?
Gw gak peduli mau industri apapun:
Kalo perkara 1-2 orang gamasuk aja bikin chaos, itu artinya understaffed.
We are human beings, sesekali bakal gak masuk karena sakit, rehat, liburan, atau ngurus keluarga sakit.
Pengusaha2 kontol sok2 "aduh gaada duit" tau2 liburan ke Jepang.
BI itu cuma punya satu target utama: inflasi.
Dan ranahnya melalui kebijakan moneter, ada 3 channel utama (this is basic monetary economics).
Kurs itu sebenarnya bukan target utama bank sentral. Di modern practice, bank sentral gak mengelola kurs, inflasi, dan GDP bersamaan.
Guys, lo udah dengar kan angka 5,61%? Udah pada seneng, udah pada bangga, udah pada share-share di medsos bilang Indonesia tertinggi di Asia.
Tapi tunggu dulu.
Rayon Chin baru bedah angka itu sampai dalam. Dan hasilnya bikin dahi mengernyit.
5,61% itu bagus.
Tapi bagus dari mana?
Bayangin lo punya warung.
Omsetnya Rp10 juta sebulan.
Terus lo utang Rp3 juta pakai kartu kredit, terus lo belanjakannya ke warung lo sendiri.
Omset naik jadi Rp13 juta.
Lo seneng?
Seneng lah.
Tapi utang Rp3 juta itu harus dibayar besok plus bunganya.
Nah itu yang lagi terjadi sama ekonomi Indonesia sekarang.
Yang bikin 5,61% itu bukan karena industri kita makin kuat, bukan karena ekspor kita lagi gacor, bukan karena manufaktur kita lagi ngebut.
Yang bikin angkanya segede itu adalah belanja pemerintah naik 21,81% dalam satu kuartal dari yang sebelumnya cuma 4,5%.
Lima kali lipat. Dalam tiga bulan.
Dari mana asalnya?
THR PNS menjelang Lebaran.
Distribusi MBG yang dipercepat di awal tahun.
Total belanja negara di Q1 tembus Rp815 triliun naik 31% dari tahun lalu.
Sektor yang ikut meledak?
Akomodasi dan F&B naik 13% ya karena Lebaran dan liburan. Konsumsi rumah tangga naik 5,52% ya karena orang belanja pas Lebaran.
Ini bukan engine yang jalan terus. Ini momen. Setelah Lebaran lewat, THR habis, MBG balik ke ritme biasa angkanya mau dibawa ke mana?
Yang bikin lebih serem bagian yang jarang diomongin media:
Di kuartal yang katanya tertinggi sejak bertahun-tahun, mesin terbesar ekonomi Indonesia justru melambat.
Manufaktur yang nyumbang 19% dari total GDP — tumbuhnya turun dari 5,4% ke 5,04%. Ekspor cuma tumbuh 0,9% padahal dua kuartal sebelumnya 9,14% terus 3,25%.
Trennya turun terus turun terus turun.
Impor malah naik ke 7,18%.
Pertambangan anjlok 8,20%.
Yang naik adalah sektor yang sifatnya musiman dan tidak akan terulang di Q2.
Yang turun adalah sektor yang harusnya jadi tulang punggung pertumbuhan 10 tahun ke depan.
Dan ini bagian paling tidak enak:
Belanja pemerintah naik 31%.
Pendapatan negara naik cuma 10%.
Defisit APBN di Q1 sudah Rp240 triliun naik 2,5 kali lipat dari Q1 tahun lalu yang cuma Rp83 triliun.
Tapi yang lebih serem lagi adalah defisit primer ini ukuran paling jujur kesehatan fiskal negara.
Tahun lalu Q1 masih surplus Rp22 triliun.
Tahun ini Q1 defisit Rp95 triliun.
Bukan cuma memburuk tapi berputar total.
Dari plus ke minus hampir Rp100 triliun dalam setahun.
Artinya: pendapatan rutin negara tidak cukup untuk biayai operasional dasar bahkan sebelum bayar bunga utang.
Jadi negara harus utang baru bukan untuk bangun jalan atau sekolah, tapi untuk bayar tagihan harian dan cicilan utang lama.
Dan cadangan devisa BI turun 8,4 miliar dolar di Q1 karena harus terus intervensi supaya rupiah tidak makin babak belur.
Siklusnya muter terus:
defisit lebar, utang baru, yield SBN naik, asing kabur, rupiah lemah, BI intervensi, cadangan devisa terkuras.
Dan pertumbuhan 5,61% ini nikmatin siapa?
MBG mengalir ke vendor, catering, kontraktor lalu ke petani dan peternak supplier. Idenya bagus.
Tapi transparansi suppliernya masih gelap.
Belum jelas berapa persen yang benar-benar sampai ke rakyat paling bawah.
THR PNS?
Yang nikmatin ya PNS.
Sementara 60% pekerja Indonesia ada di sektor informal.
Tidak dapat THR.
Tidak dapat kenaikan apapun dari belanja pemerintah ini.
Lebaran spending?
Yang nikmatin kelas menengah ke atas yang punya kapasitas belanja.
Mall, hotel, restoran ramai.
Yang tidak punya duit lebih ya tidak ikut merasakan apapun.
Pekerja manufaktur, buruh harian, petani yang harga gabahnya tidak naik secepat sembako, pekerja informal yang upahnya kalah cepat dari inflasi mereka tidak ikut menikmati 5,61% itu.
Tapi siapa yang nanggung biayanya?
Defisit lebar ujungnya rupiah lemah.
Rupiah lemah ujungnya harga impor naik.
Harga impor naik ujungnya inflasi.
Dan yang paling keras kepukul inflasi adalah mereka yang paling tidak ikut menikmati pertumbuhannya.
5,61% itu angka yang nyata dan sah. BPS tidak bohong.
Tapi angka itu datang dari mesin suntikan belanja pemerintah yang melonjak lima kali lipat, Lebaran yang tidak terjadi setiap kuartal, THR yang hanya dirasakan sebagian kecil pekerja.
Sementara manufaktur melambat, ekspor trennya turun, defisit primer berbalik total dari surplus ke minus hampir Rp100 triliun, dan cadangan devisa terkuras.
Q1 2026 kemungkinan adalah puncaknya. Q2, Q3, Q4 Lebaran sudah lewat, THR sudah habis, MBG kembali ke ritme biasa. Angkanya mau dibawa ke mana?
Itu yang harus dijawab pemerintah. Dan itu yang harus lo kawal.
Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.
Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.
Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. 🧵
Bacaan dari Pak @ChatibBasri untuk Senin pagi.
Key takeaway:
"Risiko terbesar bukan pada angka, melainkan kredibilitas"
Ini yg sering luput dr cr pikir militeristik: kredibilitas tdk bisa diperintah, dikomando, dan tdk lahir dari barisan rapi.
Credibilty is earned, not given
Coba dipikir.
DKI Jakarta bikin 103 sekolah gratis pake dana Rp253M yg relatively setara dengan pembangunan 1 sekolah garuda yg anggarannya Rp200M per sekolah
Bikin satgas pertumbuhan ekonomi.
> Ketua: menko ekonomi,
> wakil ketua: Menkeu, BKPM, Bappenas.
>Anggota: hampir semua kementerian
Ibarat lu bagian FAT, bulan april dibikinin satgas pelaporan SPT Tahunan.
Ya ngapain gitu, itu kan udah jadi tupoksi lu dari awal😓
Guardian editor: “So, did you get that quote from a music industry insurance professional about the Kanye-Nazi story?”
Guardian journalist: “Sure did, boss! With an excruciatingly awkward last name for the topic, just like you asked!”
Gue bingung kenapa tiap tahun ada berita macam gini. Ya namanya THR emang harus dibayarin, kenapa jadi berita?
Bayangin HR kantor bikin pengumuman "bulan ini kita akan gajian seperti biasa yaaa" dan berharap dapat sorak sorai 😀
No prior generation had to give up all other joys in life to buy a home.
They had phones. They watched tv and movies. They ate at restaurants. They traveled. They drove new cars. They went to bars with friends. They drank and smoked constantly.
To pretend otherwise is absurd.