‼️Fun fact football - Kisah nyata di balik foto ikonik tersebut. 📷
Bocah kulit putih di foto ini adalah striker Swedia, John Guidetti, saat tinggal di Kenya masa kecilnya. 🇸🇪🇰🇪
Ia sempat tinggal 5 tahun di sana dan mengasah bakat sepak bolanya di akademi lokal Impala Black Stars Kibera.⚽
Dan setelah 20 tahun berlalu, saat Guidetti sukses menjadi pesepak bola profesional (eks Man City & Timnas Swedia), Guidetti kembali ke Nairobi di akhir 2022.
Ia menemui teman-teman masa kecilnya dan membuat ulang foto legendaris ini untuk mengenang masa kecilnya dan dimana dia pernah tumbuh‼️
Real respect Guidetti! 🫡💯
Karier Cristiano Ronaldo mungkin adalah kisah tentang timing yang tak pernah sempurna.
Saat CR7 berada di puncak performanya, Portugal sebenarnya memiliki tim yang rela berjuang dan berkorban untuknya. Ada Pepe, Ricardo Quaresma, Raul Meireles, Bruno Alves, dan pemain-pemain lain yang menjadi tulang punggung generasi tersebut. Namun, kualitas kolektif mereka masih belum cukup untuk mengungguli kekuatan-kekuatan besar yang juga sedang berada di masa emasnya seperti Spanyol, Jerman, dan Prancis. Puncak generasi itu akhirnya melahirkan gelar Euro 2016, pencapaian terbesar dalam sejarah sepak bola Portugal saat itu.
Kini situasinya berbalik. Portugal memiliki salah satu skuad paling lengkap dan bertalenta dalam sejarah mereka, dengan kualitas yang mampu bersaing melawan siapa pun. Namun, Cristiano Ronaldo sudah tidak lagi berada di level yang sama seperti satu dekade lalu. Ditambah lagi, Portugal belum benar-benar menemukan pelatih yang mampu menyatukan semua potensi tersebut menjadi tim yang benar-benar maksimal.
Begitulah sepak bola. Ini bukan olahraga yang bisa dimenangkan oleh satu orang, sehebat apa pun dirinya. Dibutuhkan kualitas kolektif, pelatih yang tepat, momentum, dan sedikit keberuntungan.
Mungkin inilah ironi terbesar dalam karier Cristiano Ronaldo. Ketika ia berada di puncak, timnya belum cukup kuat. Ketika timnya akhirnya cukup kuat, ia tak lagi berada di puncak. Dan dalam sepak bola, takdir sering kali ditentukan oleh waktu yang tak pernah mau menunggu.
Brazil, Haaland, dan “Kayuan Norwegia”
Pagi ini saya sengaja tidak jamaah salat Subuh di masjid, karena harus menyelesaikan menonton pertandingan Brazil vs Norwegia. Terpaksa salat Subuh “munfarid” saja di rumah. Ya, saya akui, ini memang tindakan kurang baik. Jadi jangan ditiru ya, lurrr…
😁
Saya sebetulnya “ingin” Brazil lolos ke perempat final. Tetapi melihat permainan Norwegia pagi ini, Brazil memang layak “dihukum” untuk tidak lolos. Permainan Brazil pagi ini hambar. Bruno Guimaraes gagal mengeksekusi penalti yg pertama. Saya sangat kecewa. Masih untung Brazil “dihadiahi” penalti kedua, dan bisa dituntaskan dengan baik oleh Neymar. Meski ada aksi kurang simpatik dari Neymar usai menendang penalti: dia tampak agak “mengejek” kiper Norwegia, Orjan Nyland.
Menurut saya, penalti ini ndak layak karena ndak ada pelanggaran yang serius. Tambahan pula, penalti ini diberikan kalau tidak salah pada menit 90+10, sementara tambahan waktu resminya hanya 90+7. Dengan kata lain, penalti terjadi pada saat peluit tanda akhir mestinya sudah “disebul” oleh Pak Wasit.
Sementara itu, Norwegia main dg dinamis. Secara keseluruhan, Norwegia unggul dalam penguasaan bola. Sementara, anehnya, Brazil bermain dengan agak “lesu” dan cenderung defensif.
Saya suka sekali dengan senyuman Braut Haaland, penyerang Norwegia yg sangat berbahaya itu. Dia memborong dua gol yg tercipta dengan cantik: melalui sundulan kepala dan tembakan langsung. Gol yg bersih sekali. Dengan dua gol itu, dia sudah mencetak tujuh gol selama Piala Dunia kali ini, se-“maqam” dengan Lionel Messi dan Kylian Mbappé. Menurut komentator Inggris, kalau tidak salah dengar, ini untuk pertama kali ada tiga top scorer teratas dengan jumlah gol sama dalam “event” Piala Dunia.
Bagian yg paling “manis” dari pertandingan ini, selain senyuman Haaland, adalah saat Haaland memimpin ritual “Kayuan Norwegia” (Norwegian Row) yg diikuti secara serentak oleh seluruh suporter Norwegia di Stadium New Jersey itu. Menurut saya, ini adalah salah satu pemandangan yg paling menarik selama Piala Dunia kali ini. Legenda suku Viking tampil kembali dalam panggung akbar Piala Dunia 2026. Saya jadi ingat trilogi film kartun “How To Train Your Dragon” — film tentang anak kepala suku Viking bernama Hiccup yg “soliter” dan enggan menjadi kepala suku, tetapi, melalui aksi kepahlawanannya, akhirnya menjadi kepala suku juga.
Ini, kalau dalam konteks NU, mirip dengan seorang gus yang malas-malasan jadi kiai. Dia lebih tertarik dagang sarung seperti Gus Irfan Nuruddin, tetapi, ya bagaimana lagi, karena memang dia ‘alim, terpaksa jadi kiai juga.
😁
Terima kasih kepada Norwegia yg telah menghibur seluruh penduduk bumi pagi ini, pertama dengan senyuman Haaland, dan kedua dengan “Norwegian Row” yg cantik itu.
Dam, dam, dam, Ro!!!
Dam, dam, dam, Ro!!!
Dam, dam, dam, Ro!!!
💪💪💪
ROBOT. VIKING. MONSTER.
Piala Dunia selalu punya cara untuk melahirkan protagonis baru. Tapi apa yang dilakukan Erling Haaland saat ini melampaui batas kewajaran. Dia adalah anomali.
Di atas kertas, turnamen paling intimidatif ini hanyalah panggung yang telat dinikmatinya. Namun, Haaland hidup di era yang tepat. Dia tidak lagi berjuang sendirian, karena dia dikelilingi sekumpulan Skuad Viking Baru yang siap menyuapi sang monster dengan umpan-umpan matang. Tujuh gol hanya dalam empat laga perdana adalah bukti sahih bahwa Monster Viking Nordik ini telah menemukan ekosistem terbaiknya untuk mengacak-acak bumi.
Haaland adalah definisi efisiensi absolut. Dia tidak butuh banyak menguasai bola, tidak butuh membangun serangan, dan tidak butuh banyak peluang. Berikan dia satu momentum, dan laga selesai. Saat pemain lain gemetar di bawah tekanan jutaan pasang mata, Haaland justru melempar senyum dingin ke arah kamera. Mentalitasnya sudah selesai dibentuk.
Kylian Mbappe kini tidak lagi berlari sendirian. Era baru rivalitas penguasa planet ini resmi dimulai, dan Viking dari Nordik siap mengacak-acak tatanan sepak bola dunia.
📸: Norwegia
Superstar era milenial memberikan tahta ke superstar gen z!✨
Neymar dan Haaland sama-sama ada di scoresheet. Tapi satu gol dari Neymar tidak cukup. Dua gol dari Haaland membawa Norwegia ke perempat final.
Norwegia dan perempat final Piala Dunia.
Dua hal yang sebelumnya terlihat sangat ganjil, kini terwujud. Dan siapa lagi bintangnya, siapa lagi jagoanya kalau bukan Erling Haaland🔥
Significant. For both club and country. Erling Haaland. Jagoan!💥
#FeelEveryGoal | @toshibatv_id
🌎🇨🇻 OFFICIAL: Cape Verde are OUT of the 2026 World Cup.
One of the most emotional, beautiful, proud teams to see in history of this competition.
500k population, a big heart. What a game, what a team.
@Ccookk_ Selalu beli tarif khusus kl mau ke Jogja.. Lumayan daripada desek2an di KRL..
Tarif khusus ini gak berlaku di semua KA dan jg tergantung keterisian kursinya..
Intinya sih rajin cek harga tiket dan jam keberangkatan keretanya..
tau ga, kalo film Nemo dibuat seakurat mungkin sesuai ilmiah, ayah Nemo bakal jadi betina dan kawin dengan Nemo.
kobisa? bisa wkwkwk
jadi, ikan badut itu punya sistem yang agak unik di dunia hewan. mereka hidup dalam satu kelompok kecil di satu anemon, dan di dalam kelompok itu ada aturan jelas banget.
yang paling besar adalah betina, nomor dua terbesar adalah jantan alpha, sisanya jantan kecil yang nunggu giliran jadi pejantan alpha.
semua ikan badut lahir sebagai jantan, semua, ga terkecuali.
nah, di cerita Nemo kan ibunya mati ya? dengan matinya ibu Nemo, yang bakalan jadi betina selanjutnya ya ayahnya si Nemo dan Nemo sebagai alpha bakalan kawin dengan ayahnya untuk menghasilkan bayi-bayi ikan badut lainnya.
oh, dan perubahan kelamin ayah Nemo itu (kalo dibuat detil ya) beneran terjadi secara biologis, bukan metafora.
tubuh ayah Nemo bisa berubah, hormon berubah, bahkan perannya di kelompok juga berubah. totally jadi betina.
mungkin teman-teman merasa aneh dengan fakta ini, tapi bagi ikan badut, itu justru mekanisme survival supaya kelompok mereka tetap ada tanpa harus cari pasangan jauh-jauh yang bisa berisikonya dimakan predator.
Era Gibran menjabat walikota tampak bagus perkembangan Solo
Faktor utamanya, ada banyak proyek yg didanai dari APBN
Total ada 12 proyek infrastruktur yg dananya langsung dari pusat, yaitu
1. Rel Layang Simpang Joglo
2.Revitalisasi Pasar Jongke
3. Revitalisasi Taman Balekambang
4. Revitalisasi Pasar Mebel Gilingan
5. Penataan Jalan Ngarsopuro-Gatot Subroto
6. Renovasi Pura Mangkunegaran
7. Revitalisasi Lokananta
8. Revitalisasi Keraton Kasunanan
9. Pembangunan Viaduk Gilingan
10. Rusun Putri Cempo
11. Rehabilitasi Pasar Legi
12. Jembatan Jurug
Menteri PU nya jg terjun langsung untuk bantu tiap proyek.
Katanya ini adalah kota yg pernah paling diperhatikan oleh Presiden yg menjabat.
Sebelumnya, belum pernah ada yg demikian.
@khanifirsyad Terakhir ke sini tahun 2018 sendirian naik motor dari Solo, waktu itu gak ada rencana ke sini tp tiba2 aja kepikiran pgn ke Museum Sangiran.
Tahun segitu fasilitas museum sudah lengkap dan bagus, walaupun memang sepi pengunjung. Beda banget waktu ke sana pas masih SD.
Dulu pernah beberapa kali numpang kencing dan berak di hotel..
Tipsnya yg penting PD aja, jgn keliatan kyk org bingung.. krna pasti dkt resepsionis pasti ada toilet..
ABSOLUTE WASIT, eh CINEMA!
FT: INTER 3-2 Juventus
Jika di X ramai salah satu fans Juve bikin kecewa karena temenan sama anak koruptor, pagi ini ramai Juve bikin kecewa fans item putih dan fans merah item sekaligus 🤭.
DERBY D’ MEDJA HIJAU antara tim yang ga pernah ke Serie B vs alumni terbaik Serie B benar benar absolute bioskop. Paket lengkap gol bunuh diri, balas balasan gol, gol menit akhir dan tentu saja campur tangan wasit yang sangat lovely 😍 (bagi inter).
Cinema dimulai dengan own goal deflect Cambiaso lalu dibales sendiri dengan Cambiaso. Kurang dari 10 menit, dia main dua peran yang negatif dan positif, layaknya Walter White jadi tukang masak sabu sekaligus guru kimia sayang keluarga.
Saat juve terlihat mulai mengerikan secara mentalitas, di situ lah drama terjadi. Derby d medja hijau pasti tidak melupakan peran utama dari seorang wasit; Acting keren dan tepat waktu dari Bastoni, ditambah dengan kebodohan Kalulu, menjadi script yang perfect bagi jagoan utama bernama wasit untuk mengarahkan jalannya cerita. Kartu kuning kedua untuk Kalulu di pengujung babak pertama.
Di babak kedua, kendali ada di Inter. Siapkan tissue, cerita berlanjut seru ketika film action berubah tema menjadi slice of life karena dua produk akademi yang tumbuh besar di lingkungan Inter bahu membahu mencetak gol kedua. Assist Dimarco disambut header efektif Pio Esposito. Menit 76.
Napas menderu, adrenalin merusuh, semangat menggebu, film nampak mencapai klimaks saat il capitano Locatelli mencetak gol di menit 83. Tendangan mematikan ke gawang yang dijaga kiper tangan pendek, sudah tertulis rapih di dalam script. Selebrasi terpuas yang saya lihat di match ini setelah selebrasi Bastoni merayakan kartu merah lawannya.
Namun namanya film, saat sebagian dari kita sudah nyaman dengan ending, pasti ada juga sinefil idealis yang merasa harus ada plot twist. Dan plot twist itu bernama Zielinski.
Tendangan luar kotaknya gagal dihadang oleh Locatelli, hingga bola masuk secara sempurna di gawang Di Goriorio, kiper kualitas biskuit imitasi Oreo. Dari selebrasi, berubah menjadi kekecewaan terbesar bagi Locatelli.
Absolute Cinema. 99% rating Rotten Tomatoes. Certified Fresh. Sangat direkomendasikan bagi sinefil sjw twitter tai ledig yang seakan haram kalo ada film bagus namun mainstream. Pokoknya film bagus harus digatekeep, pokoknya film mainstream itu harus dikritik.
Pertandingan selesai. Inilah sepakbola.
Inilah 5cm per second dalam lapangan hijau, ketika harapan belum tentu sesuai dengan garis tangan.
Inilah knives out, film bikin deg degan plus mikir, lalu buat bersorak ketika plot twistnya sesuai dengan yang diprediksi.
Inilah dokumenter sidang kriminal, ketika sang pengadil bisa menjadi ratu adil, atau menjadi bajingan sekalian.
You judge.