Pak Michael Bambang Hartono pernah sangat viral karena dua hal:
✅Pada 2018, di usia 78 tahun, Pak Bambang menjadi atlet tertua dalam sejarah yang meraih medali Asian Games.
Sebagai pemilik BCA, Pak Bambang santai saja menerima dan memperlihatkan bonus dalam tabungan BRI yang langsung ia sumbangkan semuanya utk pengembangan bridge.
✅Sebagai lima besar orang terkaya di Indonesia, pernah dipotret beberapa kali makan tahu pong dgn santai di sebuah warung bersahaja di Semarang.
Bagi orang2 yg mengenalnya, Pak Bambang adalah sosok hangat, ramah, sederhana, menolak diperlakukan istimewa.
Hari ini Pak Bambang meninggal dunia setelah menjalani 86 tahun yang dahsyat.
Selamat jalan Pak Bambang.
RIP.
KEHILANGAN 1 JAM TIDUR membutuhkan hingga 4 HARI untuk pemulihan
Kalian pernah gak ngerasa “ah cuma kurang tidur 1 jam, santai lah”?
Ternyata penelitian menyebutkan efeknya gak sesantai itu!
Ini semacam tamparan gue pribadi juga sih saat menjalani kehidupan sebagai PPDS ini.
Jadi gue baru nemu penelitian yang bikin mikir ulang soal pola tidur yang intinya adalah kehilangan 1 jam tidur aja bisa bikin tubuh butuh sampai 4 hari buat pulih penuh.
Penelitian kecil ini melibatkan 15 laki-laki dewasa muda dan dilihat pola tidurnya dengan hasil yang cukup membuat kaget yaitu:
1 jam hutang tidur, ternyata butuh tidur durasi optimal (7–9 jam) selama 4 hari berturut-turut buat bener-bener tubuh bisa balik normal.
Ini konteksnya juga termasuk pemulihan metabolisme tubuh yang terganggu akibat kurang tidur.
Hutang tidur itu bisa mengganggu irama sirkadian, yang akhirnya ngaruh ke risiko penyakit metabolik, jantung, dan pembuluh darah.
Jadi kalau lagi kurang tidur, jangan berharap pulih hanya dengan satu malam ‘balas dendam tidur’. tapi butuh 4 hari tidur malam dengan durasi cukup.
Jaga tubuh kalian baik-bak ya!
Iran Kecolongan?
Tadi malam, dalam kondisi sebenarnya udah ngantuk banget (dan hampir saya matikan tuh laptop, mau tidur aja karena sudah 10 menit lewat waktu yang dijanjikan, pihak TV belum menghubungi lagi), saya dihadapkan pada pertanyaan yang menggelitik.
Intinya begini, narasumber yang lain menyebut Iran "kecolongan" karena tidak bisa menjaga pemimpinnya. Lalu host mengkonfirmasi ke saya, menanyakan pertanyaan yang -saya pikir- juga ada di benak banyak orang, "Bukankah seharusnya pemimpin dengan level setinggi itu penjagaan keamanannya sangat ketat?"
Saya sebelumnya sudah menyimak pernyataan tokoh politik senior Iran, saat ini menjabat Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani yang menyatakan bahwa Ayatullah Khamanei memang tidak mau diminta bersembunyi. Memang beliau yang maunya tetap bertahan di tengah masyarakat (rumah dan kantor beliau ada di dalam gang, di tengah kota Teheran).
Beliau bilang, baru mau ke bunker kalau semua warga Iran juga dapat kesempatan berlindung ke bunker.
Berkali-kali sebelumnya saya juga melihat video-video yang menunjukkan beliau berdoa, memohon kesyahidan. Suami saya, dulu banget, saat masih kuliah di Iran, pernah ikut i'tikaf di masjid, lalu diumumkan, "Rahbar minta diaminkan doanya." Jamaah i'tikaf ya nurut aja, amin.. amin.. Eh, kemudian ketahuan, doa beliau adalah doa minta segera disyahidkan.
Jadi, ya memang begitulah mental kebanyakan orang Iran, ingin mati syahid. Tapi, beda dengan syahid ala jihadis Wahaboy, harapan akan kesyahidan dipandu oleh kesadaran kritis, yaitu pemahaman geopolitik dan kegigihan mencapai kemajuan iptek, terutama pembuatan senjata untuk membela diri saat musuh menyerang.
Cuma, masih ada pertanyaan tersisa di benak saya, "Ya tapi kan harusnya langit Teheran dijaga dong, biar ga ada rudal atau jet tempur masuk?"
Di TV saya cuma bisa bilang, serangan ini kejutan, karena serangan terjadi saat negosiasi masih berlangsung, dan Menlu Oman di TV bahkan mengungkap, Iran bersedia menyimpan nol cadangan uranium yang diperkaya [yang berpotensi dijadikan bom]. Namun dalam waktu singkat, meski Pemimpin Tertinggi gugur, Iran mampu memberikan serangan balasan.
[Serangan terhadap kediaman Ayatullah Khamenei jam 8.30 pagi, serangan balasan dimulai 11.00 pagi waktu Iran]
Setelah diskusi dengan beberapa kawan, akhirnya ketemu jawaban yang lebih detil. Narasi bahwa “Iran kecolongan karena gagal mengintersep” adalah penyederhanaan yang keliru. Dalam perang modern, tidak ada sistem pertahanan udara yang 100% sempurna. Amerika gagal mencegah serangan 9/11 [dengan mengikuti klaim mereka bahwa Al Qaida yang menabrakkan pesawat ke Twin Tower], Israel tetap kebobolan sebagian roket Iran (bahkan juga roket Hamas) meski punya Iron Dome. Arab Saudi tidak mampu mencegat drone Ansharullah Yaman saat serangan Aramco 2019.
Kegagalan intersep [mencegat] bisa disebabkan oleh serangan multi-vector yang kompleks, faktor kejutan, infiltrasi intelijen, atau celah teknis. Menyimpulkan “lemah” atau "kecolongan" dari satu kegagalan adalah falasi "hasty generalization" (generalisasi yang terburu-buru).
Begitu juga, klaim bahwa terbunuhnya Ayatullah Khamenei adalah gara-gara kebocoran intelijen yang artinya "rezim tidak solid" atau lemah, juga generalisasi yang tergesa-gesa. Faktanya, semua negara mengalami infiltrasi: CIA beroperasi di Rusia, Mossad di berbagai negara, dan intel Rusia maupun China juga menyusup ke Barat. Dan... intel-intel Iran juga ada di Teluk. Makanya Iran menggempur sebuah hotel mewah di Dubai karena mendapatkan info bahwa tentara-tentara AS dievakuasi ke sana.
Terakhir, penyebab terbunuhnya Ayatullah Khamenei juga masih belum pasti, apakah jet tempur masuk ke wilayah Iran, atau rudal yang ditembakkan dari luar Iran. Jika rudal dari luar Iran, penjelasannya begini (kata teman saya):
Misil yang ditembakkan dari luar perbatasan masih jadi problem buat semua militer, bukan cuma Iran. Jika rudal itu dikirim dari Suriah, Bahrain, atau Irak, jaraknya sudah terlalu dekat. Misil sudah dalam posisi aktif untuk bisa dicegat. Apalagi (lihat peta), pangkalan militer AS ada di sekeliling Iran, serangan bisa berasal dari mana saja, sulit diduga, dan wilayah Iran sangat luas. Tidak mungkin menjaganya 100% tanpa bisa ditembus.
Sebaliknya, misil dari Iran menuju Tel Aviv, bisa ditembak di Yordania, UAE, dll, karena belum masuk posisi aktif (masih meluncur) jadi lebih mudah dijatuhkan. Itulah sebabnya, jika misil Iran sudah masuk fase aktif, bahkan Iron Dome dkk juga tidak bisa menangkis.
Apapun juga, intinya: Iran sudah (dan sedang) melawan sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya. Kematian pemimpin dan para komandan militer adalah bagian dari resiko perjuangan mereka. Kesyahidan (yang rasional) menjadi impian bagi mereka.
YANG SALAH ITU: menyalah-nyalahkan korban. Justru harusnya, terus berfokus ke si pelaku: AGRESI terhadap negara berdaulat adalah salah, melanggar Piagam PBB pasal 2, dan pihak yang diserang berhak untuk membalas (Piagam PBB pasal 51).
Ini juga berlaku dalam cara kita memandang Palestina. Meski di sana ada friksi internal, ya sudah, itu urusan mereka. Selalu ingat bahwa yang salah itu ISRAEL; penjajahan Israel harus segera dihentikan. Jangan malah berkata, "Ya gimana kita mau bantuin? Mereka aja berantem satu sama lain?!"