8. Tak perlu berkabar, cukup kita saling mendoakan sampai kita kembali siap untuk dipertemukan, seperti pertemuan pertama saat kita berjabat tangan untuk satu tujuan, menjadi teman.
7. Selamat jalan, kelak dua kata ini akan sulit di ucapkan. Setidaknya aku sudah berani menulisnya, dan lalu kita berlalu sewajarnya kita pernah berlalu.
6. Tidak biasa bukan? Karena kita berpisah tanpa kata pisah, dan bersama terlalu sulit diperjuangkan. Saat keyakinan menjadi jalan penentu arah kedamaian.
5. Itu bukan aku, sadarlah. Tak perlu lagi menunggu janji yang takkan pernah bisa terjadi. Dan jangan tanyakan apakah kita sudah bisa untuk benar-benar berpisah. Bagaimana bisa aku berpisah darimu selain dengan cara bersamamu dengannya.
3. Itu bukan aku, tenanglah. Jabat tangannya. Perkenalkan segala kenakalan dan masa depan yang kau inginkan. Katakan dan ceritakan laluku yang menyerupai dirinya.
2. Kelak jika kau benar-benar bertemu dengannya, sambutlah. Meski ingatan menjelma ujung pisau yang menggores luka lama, dan kau larut dalam takut. Sadarlah, aku tidak ingin menyakiti untuk kedua kalinya.
1. Kelak akan datang seseorang menyerupai masa lalu yang ingin kau lupakan. Lalu ia akan kembali memperkenalkan dirinya sebagaimana laluku. "Dejavu" terlintas sejenak sebelum kau benar-benar sadar untuk kembali menerima kedatangannya atau sebaliknya.
Beberapa hari yang lalu pada tanggal duadua. Bertebaran lah kata dari sekumpulan manusia yang lahir di tahun duaribudua.
Ada satu dari jutaan wanita ikut berpose meramaikannya. Tuhan, bolehkah aku menikahinya?
Nikmatilah, meski ada cerita yang terpaksa harus disudahi
Bahkan saat ia datang untuk bercerita lagi
Kamu hanya perlu menyiapkan satu kursi
Dan cukup tahu diri
Sedihlah, cerita yang lalu tak pantas jadi belenggu
Mungkin ia hanya secangkir kopi pesanan
Yang tak pernah menawarkan peranan
Setidaknya ia dibuat tanpa niat jahat