Adaptasi novel TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK menjadi film komersial, adalah satu contoh jelas kalau bangsa Indonesia abad ke-21 memang maha-pelupa dan maha-pemaaf.
Bayangkan saja, pada Oktober 1962 novel itu pernah menjadi "skandal sastra" terbesar dan menempatkan Hamka sebagai penulis yang banyak dicemooh sejak terbitnya resensi berjudul “Aku Mendakwa Hamka Plagiat!” oleh Abdullah S.P. dalam lembar budaya Bintang Timur di bawah asuhan Pramoedya Ananta Toer.
Begini komentar Pram pada saat itu:
“Saya sebagai pengagum Hamka sangat kecewa sekali dengan terbongkarnya kepalsuan "Tenggelamnya Kapal v.d. Wijck" ... ide dan gaya bahasa jelas menandakan karya tersebut adalah jiplakan dan ini memberikan contoh yang tidak baik pada generasi muda. Ini bukan masalah sastra saja, tapi merupakan masalah sosial, cermin sosial, yaitu barometer sampai di mana kejujuran seorang tokoh masyarakat mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya... soalnya mudah saja, yatu minta maaf. Sebab karya Hamka ini kira-kira dibaca 5 juta.”
Bagaimana tanggapan Hamka setelah dituduh plagiat? Tidak ada klarifikasi, apalagi permintaan minta maaf. Yang membela beliau justru H.B. Jassin bersama lingkarannya. Kemudian tiba-tiba saja polemik itu dihentikan. Bukan oleh kalangan sastra, tapi oleh TENTARA, karena dianggap menggangu kestabilan dalam masyarakat.
Novel karya Manfaluthi "Magdalena" yang dituduh menjadi sumber plagiat Hamka pada akhirnya diterjemahkan oleh dua kubu yang berseteru.
Lantas, sejak dirilisnya karya adaptasi Tenggelamnya Kapal Van der Wijck pada 2013 sampai sekarang, dengan entengnya kita mengelu-elukan film itu sebagai salah satu film terbaik yang pernah dibuat di Indonesia, tanpa ada perasaan risi sama sekali.
Weekend tidak harus selalu diisi.
Tidak harus pergi.
Tidak harus belanja.
Tidak harus produktif.
Istirahat bukan tentang melakukan lebih sedikit.
Tapi tentang tidak merasa bersalah ketika memilih diam.
Less noise. More meaning.
Manusia modern memiliki lebih banyak barang daripada manusia mana pun dalam sejarah.
Di titik inilah Goodbye, Things dan The Life-Changing Magic of Tidying Up menjadi menarik.
Dua buku, dua jalan menuju pertanyaan yang sama: apa yang sebenarnya layak kita miliki?