Sampul buku ini menguras emosi sy. Rudolf bercerita, ini foto saat Amir sdh ditangkap, ia duduk di gerbong kereta menuju st yogyakarta. Tak lama kemudian ia akan diarak dan diekskusi mati.
Saya ga tau, detik2 menjelang kematiannya, perasaan apa yg berkecamuk di pikiran dan hati Amir? Ia masih membaca buku, seolah bagaimana ia akan mati tak jd soal bwt dia.
Celaka betul Indonesia, celaka betul orng2 sepenting secerdas Amir diekskusi mati oleh tangan bangsanya sendiri.
Sy sering membayangkan jika orng2 penting seperti Amir hidup lebih panjang, Indonesia pasti akan mengalami perubahan besar.
Tiap sy ambil buku ini untuk dibaca, sy selalu meraba sampulnya, ada embos kasar di foto Amir. Seakan tangan sy ingin memegang Amir.
Terima kasih untuk Rudolf Mrazek menghadirkan sosok Amir dalam cara pandang yg baru. Dan desain sampul yg sangat menyentuh.
😭😭
kalo lihat survei pew research tentang sikap muslim amrik thd lgbtiq indon mungkin bingung. susah banget di sini buat mikir kalo queer itu biasa aja. orang ga perlu sendirinya jadi kayak kawanan binatang, asal ngarak massal.
Kata aku banyak muslim di Indonesia yg masih perlu belajar memanusiakan manusia, menghargai perbadaan, belajar duduk di 1 forum dgn banyak org dg berbagai perbedaan. KELUAR DARI BUBBLE. Belajar agama & be a good servant of Allah tp belajar respectful towards other people too pls
One thing not mentioned in this piece (which is fine) is that BookTok/Goodreads/YouTube/etc have shifted the meaning of ‘review.’ What people post online is almost entirely REACTIONS, not reviews.
Thus, ‘I loved it. It made me cry. 4 stars.’
Tiap hari menangisi knp tidak ada uluran tangan dari Kementerian Kebudayaan……………. padahal program-programnya jg ada yg bersinggungan lewat promotor & penerjemah sastra. Bener2 dianggap “nggak ada”. Banyak pegiat literasi dilibatkan, tapi Balai Pustaka diundang pun enggak😅
indie publishing in indonesia is still promising in this (intentionally using non-standard indonesian), though all kinds of challenge can't be dismissed either
I know everyone's been waiting for my take on the Granta mess :) so here are a couple of thoughts:
1. AI or no AI, this goes to show that a lot of what passes as publishable writing is formulaic, and familiarity is often prized over what disconcerts, confounds, or confuses. 1/2
one of the hardest things is realizing that the future used to be better, it's a struggle to accept things as they are today, the collapsing of the world i used to know