Tidak perlu dibuat menggunakan AI, cukup unduh (download) lambang Garuda Pancasila di Wikimedia Commons melalui pranala berikut.
Mudah, cepat, dan gratis.
https://t.co/64PPKO639n
/
#THEONEPIECE
Coming Exclusively to Netflix Worldwide &
Concept Art Revealed
\
Season 1 adapts the first 50 chapters,
following Luffy up to meeting Sanji—
7 episodes, ~300 minutes, all at once.
Akhirnya dapet jg lisensi oneshotnya... Edisi spesial cuma 1 vol buat melengkapi koleksi kalian😘 terbitnya kemungkinan masih lama ya... Nanti diupdate lg...
Secara khusus, saya dan istri berdiskusi soal alasan di balik pertarungan Usopp dan Luffy.
Kondisi Going Merry memang “pemicu”-nya, tapi bukan itu akar masalahnya.
Bagi Usopp, Going Merry adalah manifestasi dirinya. Sesuatu yang dianggap “rusak” tapi tetap ingin dipertahankan.
“Kalau Merry yang rusak saja dibuang… apakah suatu saat aku juga akan dibuang?” Itu mungkin pertanyaan yang menghantui Usopp
Saya pun melihat konflik ini dari trauma Usopp di masa kecil. Saat ibunya tengah berjuang melawan sakit, tidak ada yang menemani kecuali anaknya, Usopp.
Begitu pun kondisi Merry yang terlihat “sakit” dan ditinggalkan begitu saja, sendirian. Usopp tak ingin itu terjadi, untuk kedua kalinya. Terlebih Going Merry adalah pemberian Kaya, perempuan yang berarti bagi hidup Usopp.
Trauma ini juga mungkin yang membentuk inferiority complex ketika melihat nakama lainnya yang punya peran penting. Usopp menganggap dirinya sering kalah, sering takut, dan merasa paling lemah.
Keputusan menggantikan Going Merry seolah membuktikan mereka yang lemah akan tertinggal dan ditinggalkan.
Di sisi lain… Luffy bukannya tidak punya ikatan emosional dengan Going Merry. Akan tetapi, ia adalah seorang Kapten yang juga memikirkan keselamatan nakamanya.
Mempertahankan Going Merry artinya membahayakan nakama dalam mengarungi lautan Grand Line yang ganas. Mempertahankan Going Merry berpotensi memupus mimpinya dan juga nakamanya.
Keputusan rasional Luffy sebagai pemimpin itu bertabrakan dengan luka emosional Usopp. Di titik ini, Usopp tahu akan kalah, tapi dia memilih bertarung.
Persis seperti budaya siri, Usopp bertarung untuk menunjukkan harga dirinya: dia tidak ingin pergi sebagai “yang dibuang”, tetapi sebagai orang yang memilih dan memutuskan untuk pergi.
Di titik ini, Usopp sejatinya tengah melawan dirinya sendiri. Luffy memang menang secara fisik, tapi Usopp berhasil mengalahkan dirinya sendiri dan mempertahankan martabatnya.
Terbukti di Enies Lobby Arc, Usopp sebagai Soge King menunjukkan peran dan eksitensinya yang berharga. Inferior Complex-nya mulai terkikis saat bisa menembak jarak jauh di tengah angin kencang. Tembakan yang juga membebaskan Nico Robin dari borgol yang melemahkannya.
Selain itu, Luffy pun menunjukkan sisi emosional bahwa jauh di dalam dirinya, Going Merry adalah nakama yang ingin dipertahankan. Usai berhasl kabur dari Enies Lobby, Luffy benar-benar berharap Going Merry yang terbelah dua itu bisa diselamatkan.
Pada akhirnya, Merry pergi bukan karena gagal atau rusak, tetapi karena ia telah menunaikan seluruh perjalanannya dengan utuh.
Dan mungkin, dalam hidup kita sendiri, ada hal-hal yang juga seperti itu. Ada hal-hal yang datang bukan untuk selamanya. Mereka datang untuk mengajarkan kita arti bertahan dan makna mengikhlaskan.
I Never thought that everything happened would lead us into this moment. This might not be the end. But a start of a new Beginning. Thank You for Everything 😖🤎
⛔️HENTIKAN PEMBLOKIRAN SITUS BERBAGI PENGETAHUAN, LAWAN SABOTASE PENGETAHUAN DIGITAL ATAS NAMA PM 5/2020 ⛔️
Tindakan pemblokiran yang dilakukan Kemkomdigi jelas tidak dapat dibenarkan. Praktik serupa bukan kali pertama terjadi, melainkan telah berulang sejak 2022. Pola ini menunjukkan adanya pendekatan yang cenderung represif terhadap ruang digital, khususnya terhadap platform yang berfungsi sebagai sumber literasi dan distribusi pengetahuan publik.