begitu landing, sampe di rumah...dicuci tangan.
hari Sabtunya lngsung turun match😎😄👌
Kain terbaik sejak ngumpulin Adidasnya Die Mannschaft 🇩🇪
Suwun Mas @fajarrusalem 🙏
@KapudS640 matiin semua eletronik di kamar truk klik 09 di meteran, kalau lebih dari 10 watt mungkin ada bocor, tapi kalau ratusan w fix ada yang maling
🚨Zlatan Ibrahimovic reacts to the backlash surrounding Kylian Mbappe’s comments about Chinese leader Mao Zedong:
• Reporter: Zlatan, Kylian Mbappé is under heavy fire after laughing at a meme of himself as Mao Zedong and calling him a “Chinese dictator.” Chinese brands have dropped him, there’s outrage online, and he’s already apologised. What’s your take on all this?
🗣️Zlatan: Listen to me. The whole world spent months turning “dictator” into a joke about Mbappé. Memes, edits, captions, TikToks — everyone was laughing. People were putting his face on every strongman they could find and calling it content. Nobody cried then. Nobody demanded an apology. It was funny. It was free. It was fine.
Then Mbappé sees one of those same memes, laughs, and says something like “I think that’s a Chinese dictator.” Suddenly the same people who were happily making him the punchline start acting like he personally insulted 1.4 billion people. He was laughing at a joke about himself. Not attacking Chinese people. Not attacking their culture. Not attacking their nationality. He was reacting to a meme that already existed, the same meme everyone else had already been sharing for months.
Criticising a historical dictator is not the same as insulting Chinese people. Those are different things. If you can’t tell the difference between political criticism, a historical reference, and a footballer laughing at his own meme, that’s a you problem. Mao is a historical figure. Plenty of people outside China have opinions about him. That doesn’t mean Mbappé woke up one morning and decided to attack an entire country.
If the meme was fair game when random accounts were posting it, it was fair game when Mbappé laughed at it. You don’t get to encourage the mockery, then demand an apology the moment the person being mocked stops sitting there quietly and starts laughing too. That’s not principle.
That’s just selective outrage.
Mbappé is a footballer who saw a meme of himself and laughed. That’s it. The rest is people choosing to misunderstand humour because it fits whatever narrative they want that day. I don’t apologise for things that don’t need apologising for, and neither should he. If you spent months calling him a dictator for content, don’t start crying when he calls the actual historical figure a dictator in the same joke.
The people demanding an apology for a self-deprecating meme are the same ones who were posting the meme in the first place. Explain that one. I’ll wait.
Teruntuk Bapak @prabowo Yth. Madrasah Diploma Instan Singapura (MDIS itu, dilarang utk Warga Singapura nmn dipersilahkan bagi Warga2 Negara Tetangga Singapura seperti Indonesia, warga negara yg tolol nmn ingin diakui sebagai sarjana seperti si Fufufafa. Bagi Pemerintah Singapura, yg penting bagi mereka ada yg stay di negara mereka, apartemen laku, ada konsumsi, ada pendapatan dari pajak. Mau itu ijazah dibeli, abal-abal, Pemerintah Singapura gak peduli, yg penting bagi negara mereka, bukan mereka yg makai lulusannya. Eh di Konoha malah dijadiin Wakil Presiden. Produk Sampah dijadiin Wakil Presiden. Tapi katanya bangsa Besar. Bangsa terhormat. Malu-maluin saja Pak Prabowo, piye iki bang @bang_dasco Pak @sjafriesjams.
Lagu ini dikenal karena liriknya yang puitis, simbolik, dan penuh metafora tentang harapan, kesepian, serta cinta.
Nuansanya yang melankolis membuat lagu ini terasa sedih namun tetap indah.
Satu Bintang di Langit Kelam🎵
Rida Sita Dewi (1995)
Istri almarhum: “Pak, suami saya meninggal minggu lalu. Saya mau tanya gaji terakhirnya.”
HR: “Sudah kami transfer prorata sampai tanggal meninggal ya, Bu.”
Istri almarhum: “Terus hak lainnya, Pak?”
HR: “Hak apa ya, Bu? Kan hubungan kerjanya sudah berakhir.”
Istri almarhum: “Iya, Pak. Yang berakhir hubungan kerjanya. Bukan kewajibannya.”
Ini yang keluarga hampir nggak pernah tahu, dan HR jarang nawarin sendiri.
Kalau pekerja meninggal, ada tiga sumber hak yang berbeda.
Pertama, dari BPJS Ketenagakerjaan program JKM: santunan kematian Rp42 juta, dibayar ke ahli waris, walaupun meninggalnya bukan karena kerja. Plus beasiswa untuk maksimal 2 anak, dari TK sampai kuliah, totalnya bisa sampai Rp174 juta. Ini PP 82/2019.
Kedua, dari perusahaan langsung. PP 35/2021 Pasal 57: kalau pekerja meninggal, ahli waris berhak atas uang pesangon 2 kali ketentuan, uang penghargaan masa kerja 1 kali, dan uang penggantian hak. Buat masa kerja 5 tahun, hitungannya bisa belasan kali gaji.
Ketiga, saldo JHT dan JP di BPJS Ketenagakerjaan, yang cair ke ahli waris.
Yang harus disiapkan ahli waris: akta kematian, KK, KTP, surat keterangan ahli waris dari kelurahan, dan buku rekening.
Buat JKM, datang ke kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan atau lewat aplikasi JMO.
Buat pesangon, minta secara tertulis ke HR dengan menyebut PP 35/2021 Pasal 57.
Jangan tanda tangan surat “pernyataan tidak ada tuntutan” apa pun sebelum semua angkanya jelas.
Gue tahu ini bukan hal yang mau dipikirin di minggu pertama. Makanya ini buat disimpan, bukan buat dibaca sekarang.
Kalau ada teman atau saudara yang baru kehilangan pasangan yang masih bekerja, kirimin ini pelan-pelan. Bulan kedua biasanya lebih siap dengar daripada minggu pertama.
Menurut kalian, banyak nggak keluarga pekerja yang sebenarnya belum tahu hak-hak seperti ini ketika pencari nafkah meninggal?
Profesor BRIN sekaligus pendiri National Battery Research Institute (NBRI), Evvy Kartini, menjelaskan persoalan pengelolaan baterai bekas dihadapan komisi VII DPR.
Evvy menyatakan bahwa baterai jenis LFP (Lithium Ferro Phosphate) memiliki kelemahan besar: biaya proses daur ulangnya tidak sebanding dengan nilai ekonomis materi yang dihasilkan (kurang menguntungkan).
Di sisi lain, baterai jenis NMC (Nickel Manganese Cobalt)—meski memiliki risiko termal yang lebih tinggi—memiliki nilai komoditas mineral yang jauh lebih tinggi saat didaur ulang.
Sayangnya, konsumen di Indonesia saat ini lebih condong memilih mobil listrik Tiongkok yang mayoritas berbasis LFP. Jika tidak diantisipasi, hal ini berisiko memicu masalah lingkungan baru di masa depan, mengingat industri global pun awalnya enggan mendaur ulang LFP karena rendahnya margin keuntungan.
Padahal, Indonesia merupakan salah satu produsen Nickel terbesar di dunia. Tapi mobil listrik yg beredar di Indonesia mayoritas justru pakai LFP.
Kondisi ini diperparah oleh masih minimnya regulasi di Indonesia terkait standardisasi mutu dan tata kelola limbah baterai EV.
Gue bikin web gratis buat cek abu vulkanik dari gunung yang lagi siaga di Indonesia. Tinggal buka, gak perlu install apa-apa. Yang bisa lu cek: gunung mana aja yang statusnya siaga sekarang, abunya lagi ke arah mana.
Istilah silent majority dipopulerkan dlm konteks politik modern oleh salah satu presiden paling plenger, paling nggak punya integritas, paling nggak etis dlm sejarah AS, Richard Nixon.
Saya tidak pernah peduli siapa elit PBNU-nya. NU bagi saya bukan lagi organisasi, melainkan sudah "values and virtues".
Saya hanya berdoa, mereka yg numpang makan dan cari jabatan dgn membajak nama PBNU, semoga hidupnya tak pernah bermanfaat bagi siapapun, termasuk dirinya.
BAB KE 133
NGAJI KITAB AL HIKAM
SYEH IBNU ATHA' ILLAH AS -SAKANDARI
Syarah SYEKH ABDULLAH ASY-SYARQAWI AL-KHALWATI
لَوْ لَا جَمِيْلُ سَتْرِهِ لَمْ يَكُنْ عَمَلٌ أَهْلًا لِلْقَبُوْلِ
Kalau bukan karena keindahan tutup-Nya, tentulah tiada amal yang layak diterima.
KALAU BUKAN KARENA tirai-Nya yang indah, tentu tidak satu pun amal yang diterima-Nya karena seorang hamba selalu di uji dengan pandangannya terhadap diri sendiri dan kebahagiaan dengan amalnya. Selain itu, ia juga selalu menisbatkan ama itu kepada diri dan kemampuannya. Terkadang ia membuka hijabnya di depan orang sehingga ia menjadi riya' dan mengharap pujian manusia. Semua ini akan menjadi syirik tersamar yang da pat merusak keikhlasan. Sementara itu, keikhlasan adalah syara diterimanya sebuah amal.
Dengan demikian, sampainya seorang murid kepada Alla bergantung pada karunia dan kemuliaan-Nya, bukan atas perjuanga dan kerja kerasnya. Sekiranya ia berkata, "Jika bukan karena karuna Allah," tentu akan lebih utama baginya daripada bersikap sombong