KASUS IJAZAH GIBRAN DI MK OLEH DENNY INDRAYANA DKK.
ADA APA?
JADI BEGINI, GIBRAN ITU:
1) SMA di Singapura, di Orchid Park Secondary School. Sampai O level.
Setara pendidikan sampai kelas 10 atau kelas 1 SMA kalau di Indonesia.
Ingat, cuma sampai KELAS 10. Jadi belum setara SMA.
2) Dia lanjut ke UTS-Insearch di Sydney, Australia.
Apakah UTS-Insearch ini SMA? BUKAN!
Dia adalah bimbel dan matrikulasi persiapan masuk kampus.
Biasanya dipakai lulusan SMA di luar Australia (misal Indonesia, China) buat matrikulasi atau penyesuaian kurikulum Australia.
Wajarnya 1 tahun di sini, setelah selesai lanjut ke kampus di Australia.
UTS-Insearch ini punya University of Technology Sydney, wajarnya ya abis 1 tahun di sini lanjut ke UTS.
Tapi Gibran cuma menghabiskan 6 bulan di sini.
3) Tapi kita semua tahu, Gibran lulus S1 dari kampus MDIS Singapura.
Bukan di UTS Sydney.
Kok bisa? Kampus Singapura biasanya mau menerima O-level dengan tambahan ujian atau kualifikasi lain.
Jadi O-level Orchid Park Secondary School, bisa dipakai masuk situ.
Terus S1-nya lulus.
JADI GIBRAN MASUK UNIVERSITAS DAN LULUS S1 TANPA IJAZAH SMA KONVENSIONAL.
***
MASALAHNYA TERJADI KETIKA DIA NYALON JADI PEJABAT
Kenapa?
Karena di Indonesia, syarat nyalon pejabat itu LULUS SMA/SEDERAJAT.
Kalau mau nyalon Pemilu, di berkasnya harus ada IJAZAH SMA.
Walaupun udah lulus S1, S2, S3, tetep aja yang ditunjukkan harus IJAZAH SMA.
Punya ijazah lebih tinggi, tidak membuktikan dia punya IJAZAH SMA.
***
NAH, GIBRAN WAKTU NYALON GIMANA?
Si sertifikat bimbelnya yang di Australia itu, DISETARAKAN DENGAN IJAZAH SMK PEMINATAN AKUNTANSI DAN KEUANGAN.
***
Argumennya Denny Indrayana dkk di MK adalah:
1) Bimbel di Australia tidak setara dengan SMA.
2) Berarti Gibran tidak punya ijazah SMA.
3) Pencalonannya sebagai Wakil Presiden tidak memenuhi syarat pendidikan minimum SMA.
Islam ga pernah ngajarin kek gini, ini cuma tradisi desa aja, dan ada baiknya gausah kek gini
Tapi tetep dilema, takutnya pas ngasih tau, malah dikata2in, pas ga ngasih pun sama tetangga malah dikatain pelit trus disinggung trus. Emang sekolot itu
Suryadono: "MBG sebenarnya tidak pernah bermasalah, itu hanya masalah ideologis politik."
Ia implikasikan anak2 yg sakit itu karena berbeda ideologi, didukung oleh guru2, ortu2 anak yg sakit, wartawan2 yg ribut di sosmed akhirnya terdengar MBG menjadi masalah
Bodohkah org ini?
Anak-anak Indonesia kompetensi dasarnya masih jelek dan cenderung nggak percaya Sains.
Bisa goal-setting dan mau help-seeking, tapi gak merasa dapet support orang tua.
Curious tapi growth mindsetnya rendah gapercaya bisa jadi lebih baik. Pun bisa jadi lebih baik, mereka gak percaya bisa mobilize socially.
Nemu temen kantor yang ternyata tidak sedewasa itu menurutku. Even umurnya kurleb 27
1. Mudah menyerah
2. Merengek kaya gamau ditinggal
3. Caper karena paling lemah
4. Ga terimaan kalau gagal
Gatau ya susah keknya membangun mindset positif buat dia