“kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur sppg, kami mau melapor ke TNI, TNI punya dapur sppg, kami mau melapor ke DPR, DPR pun punya dapur sppg. jadi ini jalan terakhir kami untuk mengadu, kepada konstitusilah kami berharap”
—ucap seorang guru, pendidik anak bangsa. ironi.
apparently alex’s camera above his head was very loose and shaking so they called him in to fix it but they had to turn off the engine and fix it in the garage which is why he retired
Menurut gue, aksi di sekitaran Bundaran HI, apalagi berdiri massa nya di sederet gedung UOB, Menara Blu dan Menara BCA tuh lumayan mengubah perspektif orang awam apalagi yg ga kuliah PTN (dan PTS) di Jabodetabek...
demo tuh yah emang harus distruptif, bikin macet, ngeganggu kegiatan sehari-hari, karena tujuan demo ya biar di denger pejabat dan bikin mereka TERGANGGU untuk merubah kebijakan, kalau ada "area khusus demo" ngapain coba? teriak2 dilapangan ga didenger?
"Percuma koar-koar di medsos kalo ga turun ke jalan"
1. Aksi di internet itu power nya gede yh, bukan sembarang koar-koar. Apalagi kalo aksi nya terorganisir kaya #IndonesiaGelap kemarin, beuh. Bahkan presiden sampe mention hashtag itu di pidato.
2. Dengan banyak nya buzzer lu pada harus nya paham, pemerintah itu takut. Bukan cuma buzzer, bahkan sampe ada perketat ruang cyber yadayada, akun orang dinonaktifkan, trus case Laras Faizati. Again, power ruang internet itu gede.
3. Selain hashtag, ada juga fitur addyours di Instagram, itu rame banget. Bahkan suka ada konten addyours yang ilang. Itu tanda nya apa? Tanda nya yang di atas sana cukup 'keganggu'. Ada dampak nya.
Yang turun ke jalan keren, hati-hati, jaga diri, utamakan keselamatan. Yang bersuara di media sosial juga keren, hati-hati, jaga diri, utamakan keselamatan.
Buat orang-orang yang diem aja karna disibukkan dengan cari nafkah, ga mendapatkan privilese untuk menempuh pendidikan, jauh dari sosial media, gue paham.
Tapi buat orang-orang yang diem doang karna gamau estetika sosmed nya keganggu, semoga stok makanan lu di rumah kadaluarsa, mencret 4x sehari, trus setiap makanan fancy yg lu makan dan posting di sosmed rasa nya kaya MBG.
Jujur bingung banget
Negara mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Rupiah menguat, pasar merespons positif, koruptor mulai ditangkap, reshuffle disiapkan. Tapi masih ada yang ngotot demo 12 Juni.
Jadi sebenarnya yang dicari solusi atau memang ingin bikin gaduh?
Nah ini contoh twit buzzer ya ges, biasanya harganya 1 twit begini 3000-5000 rupiah.
Kalau ditawarin begini, jangan mau ya. Masa bayarannya kalah sama pertamax 1 liter