guys tolong bantu retweet, aku mau minta doa sama kalian semua.. ada salah satu temen kita (coer) yang sejak tadi hilang kabar dan terakhir menghubungi keluarganya kalau dia arah pulang menggunakan KRL dari arah bekasi.
sampai sekarang belum ada informasi apapun dari beliau, pihak keluarga belum tau kondisinya sama sekali. karena satu dan lain hal aku sendiri belum bisa mengungkapkan ke publik identitas beliau, tapi dimohon doanya teman teman 🥹🫶🏻
dari pihak keluarga tidak mengetahui beliau naik kereta apa, keretanya jam berapa, serta detail detail lainnya. tapi dengan berita pilu yang baru saja terjadi ini wajar jika ada rasa cemas yang muncul dari pihak keluarga maupun temannya yang lain, terlebih lagi hilangnya kabar dari beliau. dimohon doanya ya teman teman 🙏🏻
Guys tolong bantu RT yaa
Temennya temenku an Nur ainia eka
rahmadhyna masih belum ada kabar, kemungkinan ada di gerbong wanita rangkaian KRL yg kecelakaan semalem. Keluarga masih menunggu di posko. Tolong kalau ada info let me know.
Mohon konfirmasinya jg @KAI121@CommuterLine
@txtdrbekasi@FiersaBesari Guys boleh bantu update gaa untuk yg korban evakuasi siapa aja, sampe saat ini atas nama Vica Acnia Fratiwi belum ditemukan dan ga ada kabar 😭😭
UPDATE: Ibrahim Arief (Ibam) — the tech consultant facing 15 years — just told a press conference he was coerced to turn on Nadiem but refused to do so.
In 30 years, the playbook hasn’t changed. A deeply corrupt legal system used to intimidate and coerce ordinary Indonesians.
Tonton kepanikan pejabat saat upaya mengkambinghitamkan Ibam runtuh di sidang 👇🏼
Masukan netral Ibam, dipelintir pejabat jadi Chromebook, sambil bilang itu arahan Ibam.
Pejabat tersebut akui terima aliran dana, dan membocorkan spek Chromebook ke vendor pemenang.
Tapi dia bebas, tidak jadi tersangka sama sekali, sedangkan Ibam dituntut 15 tahun penjara, denda Rp16,9 miliar, dan tambahan 7,5 tahun penjara jika tidak bisa bayar.
Dan kami sudah pasti tidak bisa bayar, Rp16,9 miliar itu dari salah paham surat saham, dan hanya "patut diduga" tanpa adanya bukti aliran dana sama sekali.
Tapi kebenaran sudah terungkap lewat fakta-fakta di persidangan.
Dari semua kebenaran yang terungkap, perkara Chromebook untuk kasus Ibam ini sebenarnya sederhana.
Ibam sebagai konsultan, sudah netral, profesional, tanpa kewenangan, tanpa kuasa, namun dikambinghitamkan pejabat-pejabat yang terlibat dalam pengadaan.
Kita tentu berharap proses hukum berjalan secara adil, jernih, dan berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan.
Namun tuntutan 22,5 tahun yang tidak masuk akal dan penuh ketidakadilan seperti menampar harapan kami tersebut. Kekuatiran kami terhadap adanya kriminalisasi terstruktur semakin dalam.
Kini harapan kami tertumpu pada teman-teman sekalian yang membaca pesan kami.
Tolong, suarakan ketidakadilan ini.
Kepada Presiden Prabowo, kepada Komisi III DPR, kepada siapapun yang kita tahu punya kepedulian dan kemampuan menyediakan perlindungan hukum dari kriminalisasi.
Sembilan hari menuju putusan. Kita masih bisa jadikan perkara ini preseden baik bagi semua profesional yang ingin berbakti bagi negara dengan keahlian mereka.
Bahwa tetap bisa ada perlindungan hukum dari kriminalisasi bagi seluruh pekerja pengetahuan yang ingin bantu Indonesia.
Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara?
Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu.
Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun.
Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai.
Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain.
Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi.
Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook.
Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa:
1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN.
2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal.
3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu.
4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan.
5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian.
Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam.
Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya ‘menyalahkan’ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka.
Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam.
Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan.
Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja.
Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam.
Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek.
Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya “saham yang belum diberikan”. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan.
JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun.
Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara.
Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan.
Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga.
Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum.
Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi.
Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun...
Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit.
Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus.
Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini?
Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara?
Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian.
Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi.
Jakarta, 16 April 2026
Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)
Per April 2026 ini, Valve sudah mengintegrasikan IGRS ke dalam Steam baik game lokal maupun internasional.
Tapi, seperti yg sudah kalian baca disini, sistem pembagian rating atau eksekusinya masih bermasalah, dan berikut yg bisa kami temukan sejauh ini 👇
IGRS gak becus
Bubar aja, blunder besar, keliatan kualitasnya, ngerating modal bot/ai dan ga human check
Di ketawain se internasional
Bukan ranahnya, nggak ngelibatin ahli dibidangnya al hasil duar kena backlash
Saran aja nih
PAKE RATING YANG UDAH ADA.
Atau taro label only gausah sampe blokir2 kalo kualitas CEKnya modal bot/ai
Banyak salah sasaran kan..
Jangan berani2 ngibul lo ngelibatin ahli. Ketauan bobroknya nih se internasional
Minta maaf g luh👊
Mumpung IGRS lagi rame.
Ini gw pernah beberapa kali protes perihal isi Perpres 19/2024 perihal usulan IGRS ditajamkan dan menjadi penerimaan negara bukan pajak.
System rating yg awalnya utk awareness justru mau dijadikan senjata utk censorship dan mengendalikan aliran dana.
Indonesia Game Rating System is labeling adult sexual content games as suitable for 3+ yo
while award winning games such as Claire Obscure and Metal Gear Solid Delta are labeled not fit for distribution in Indonesia
🚨🎙INTERVIEWER: It's been over 6 years since you left PSG and joined Chelsea, becoming Chelsea's fan favorite defender. How did you feel when you heard you were leaving PSG, and how what can you tell us about your time at Chelsea?
🗣🎙Thiago Silva: "To be honest, I felt bad when I learned that the club's leadership (Leonardo) wanted to move forward without me. We had just lost the Champions League final to Bayern Munich. Like they say, 'Every disappointment is a blessing.' Lampard, who was the Chelsea coach then, was looking for an experienced defender to strengthen his defense, and I happened to be the defender he wanted".
"I also received an offer from Fiorentina, but the move to Chelsea seemed better for me – playing in the strongest league in Europe, and also because I wanted my kids to grow up in one of the best academies around. So, I decided to join Chelsea as a free agent under Frank Lampard, and things started getting better".
"Although PSG tried to offer me a contract when I had already decided to join Chelsea, it was too late. I just wanted Chelsea at that moment. It was great working with Lampard; he's got a great mentality, he knows exactly what he wants as a coach, and I admire that a lot. He's going to go far as a coach.
"I was surprised when I realized he left the Chelsea job. Then, my former coach came to replace him from PSG as well. Things really happened fast, but it happens for a reason – only God knows. I haven't told anyone this, but he told me in training at Chelsea, 'Look, Thiago, what we couldn't win with PSG, we have to work hard and win it with Chelsea.' Though the squad at Chelsea then, you'd think this team would end up in the round of 16 or at most the quarterfinals of that season's Champions League campaign. Hearing this from my coach motivated me and made me hungry to win the trophy so bad".
"And just like that, we made it to the Champions League final. Everybody thought it was the end of the road for us because Man City back then were on fire, they had a better team than us and everything. Nobody believed we were going to win it, but in our minds, we wanted to win this trophy. All the young players in the squad – Reece, Mason, Havertz, and so on, they were ready and hungry for this trophy as well. I could easily tell, by looking at their faces. It was a very special and emotional moment for everyone when we overcame the fear of Man City to lift the Champions League trophy in 2021. Nobody believed in us, but God did".
"There's something about Chelsea, and it's just about winning. Like after every 5 years, they seemed to be winning trophies no matter the situation. I don't know about the new era at Chelsea, but the former one loved winning and making the fans happy. Chelsea fans don't accept losses, they're hungry for more, they just want to keep winning as long as it makes them happy, and I love that. Life is about winning; though losses might happen sometimes, but they shouldn't be more than the wins".
"If I ever become a coach, I'd love to work with Chelsea again. It's a dream for me."