Bener kata bang Pandji. Orang ini dari kecil hidup dari keluarga kaya yg membuat tidak ada org yg berani mendebat dia, semua keinginannya pasti dituruti. Saudara, ART, dan temannya pasti mengiyakan dia. Mungkin cuma orang tuanya yg bisa bilang 'tidak' ke dia (itupun kalo orang tuanya tegas).
Ditambah dia masuk militer yg emg sistemnya 'siap ndan'. Semua hal dilakukan atas perintah atasan, bukan hasil duduk bareng dan saling challenge pendapat seperti di lingkungan kampus.
Udah gitu jadi ketua partai pula. Tau sendiri partai di Indonesia itu fanboy club. Ngga ada ideologi tapi semua arah partainya ditentukan tokoh partai tersebut. Hampir semua bawahannya pasti ABS.
So, selama dia hidup ngga biasa dgn kritikan. Karena dia biasa diiyain segala keinginannya. Sampai pada titik dia jadi presiden. Yg mana presiden adalah jabatan publik. Banyak org yg mengawasi dan mengkritik.
Alhasil pas jadi presiden ya begini. Kaget kalo ternyata dia bisa dikritik orang banyak dan dihajar kanan kiri. Jadi lgsg cap yg kritis itu nyinyir, antek asing, musuh negara, dll.
Kurang-kurangin deh kita ngeledek ibu-ibu pakai istilah "Penguasa bumi" atau "Ras terkuat". Gatau ya, maksudku, bisa jadi perilaku mereka yang agak ganjil itu buntut dari beban psikis terlalu tinggi yang mereka dapet sejak punya anak. Ini masalah yang rumit lho.
Ibu2 yg sen kanan belok kiri emang rada nyebelin, tapi ga sebanyak dibanding laki2 yg problematik di jalan.
Lu liat dah pelaku yg suka asal nyalip, ngerokok, lewatin trotoar, lawan arus, asal ngebut ga jelas, nerabas lampu merah, klo lu perhatiin itu kebanyakan laki2 pelakunya
ditanya ke thailand 2 minggu abis brp dan gue cmn bisa bilang “gatau, gak ngitung, dan gak mau ngitung” ini adalah mindset financial avoidance versi final-boss gak ketolong