Saya mau jawab dengan nasihat guru BK kami di MAN Insan Cendekia dulu. Kurang lebih begini pesannya.
"Kadang kita harus memilih salah satu, mengejar jurusan atau mengejar kampus. Apapun itu, tidak masalah karena mungkin satunya mengejar karier profesional, satunya mengejar lingkungan dan relasi"
Setelah lulus di beberapa kampus, saya akhirnya memilih Kriminologi UI. Saat itu, jurusan ini asing karena masih satu-satunya di Indonesia dan tidak ada sejarah senior yang memasukinya. Tapi saya percaya, lingkungan dan relasi kampus itu akan membuat saya banyak belajar dan berkembang.
Di sisi lain, ada teman seangkatan kami yang mengejar jurusan kedokteran. Jurusan yang memiliki jenjang karier khusus dan spesifik. Ia pun kembali ke kampung halamannya sebagai mahasiswa kedokteran Universitas Lambung Mangkurat. Dari linkedin-nya, ia sudah melanjutkan jenjang pendidikan di Universitas Brawijaya dan kini berkarier di RSU Dr. Saiful Anwar Malang.
Ada juga teman seangkatan kami yang masuk IPA, tetapi akhirnya memilih fakultas hukum UI. Di asrama, ia belajar soal-soal IPS bersama kami. Kini, ia menjadi salah satu pengacara dan pakar hukum kejahatan teorganisir di Indonesia. Ia kerap muncul di layar kaca saat berbicara seputar White Collar Crime.
Pada akhirnya, kembali ke keputusan masing-masing. Pilihlah yang membuat nyaman dan bahagia. Dengan begitu, kita akan lebih ringan dalam menjalani tantangan yang tak sederhana di dunia buku, pesta, dan cinta.
@tanyakanrl normalisasi nikah kalau siap. in this economy generasi kita tengah sibuk jadi sandwich generation, pemulihan trauma akibat bad parenting, kemiskinan struktural, persoalan finansial, lack of previlage dll. gak ada alasan bagus untuk nikah diusia muda. jadi, nikah lah kalau siap.