tau ga?
kemandirian perempuan itu bentuk ketangguhan, sekaligus cermin kegagalan sebagian laki-laki dalam menjalankan fungsi dasarnya sebagai provider.
anehnya, sebagian laki-laki bukannya introspeksi diri, malah egonya tersenggol dan sibuk nyalahin standar cewek yang dianggap ketinggian 😂
Ternyata aku sadar, aku sulit banget untuk minta bantuan. Aku merasa cukup mampu untuk mengatasi apa-apa sendiri. Sampe ga sadar di titik aku sudah overwhelmed dan kalimat yang keluar dari mulutku adalah, "aku ingin menyerah saja". Hmmmm ironis
Saat kemarin aku berbincang tentang segala hal, termasuk pekerjaan pada banyak temanku... di suatu obrolan aku terhenti karena temenku memberikan pertanyaan ini pada ku , "Emang selama ini kamu ga pernah minta bantuan?" Aku bingung menjawab nya.
Gue nemu statement yang powerful banget di tt:
Lo itu perempuan. Jadi jangan hidup sembarangan. Jangan terlalu gampang ditemuin, jangan terlalu gampang dikenalin. Gak semua tempat harus lo datengin. Gak semua pakaian pantas lo pake. Tetap lembut, tetap sopan, tetap jangan ilangin batas lo. Jadi jaga diri lo. Jaga cara lo berpakaian, ngomong, melangkah. Jaga aurat lo. Jaga rahasia lo. Jaga martabat lo. Gak semua yang cantik harus dipamerin.
Naik Gojek.
🤡: "Udah nikah mbak? Dosen di sini ya?"
👩: "Belum pak. Bukan, saya lagi kuliah S2."
🤡: "Ngapain kuliah tinggi, perempuan juga ujung-ujungnya di dapur. Mending nikah."
👩: "Kalau nikah sama laki-laki yang bisa ngasih penghasilan setara waktu saya kerja sih nggak masalah. Tapi kalau nikah cuma buat disuruh masak di dapur, ya buat apa?"
🤡: "Maksud saya daripada hidup sendiri gitu, mbak."
👩: "Mending sendiri tapi punya banyak uang daripada nikah tapi buat makan aja susah dan tiap hari harus masak."
Habis itu suasana di jalan langsung hening. Mantap. 😂
Jujur agak ga setuju sama pernyataan “Jangan jadi Nakes dan Guru kalo tujuannya cari uang”, selama kita bekerja profesional dan tidak merugikan, kayanya ga ada salahnya salah satu tujuan kita buat cari uang.
Aku ketemu teman lama.
Terus dia bilang,
“Gi, lihat berita-berita sekarang kenapa orang jahat lebih banyak menang dalam kehidupan dibanding orang baik?”
Aku senyum, lalu jawab,
“Yaa Mungkin karena orang baik memang enggak hidup buat menang.”
Karena kalau kita pakai Menang dengan standar duniawi, menang itu sering berarti harus ambil lebih banyak, ambil lebih dulu, ambil semuanya.
Gak peduli cara, gak peduli konsekuensi.
Tapi orang yang hatinya baik biasanya jalan dengan cara yang berbeda.
Mereka datang dengan tulus.
Mereka sayang tanpa banyak hitung-hitungan.
Mereka tetap jujur walau kadang rugi.
Mereka enggak suka main belakang.
Mereka enggak sibuk menghitung siapa yang lebih banyak memberi.
Dan mereka enggak butuh melihat orang lain jatuh untuk merasa dirinya hebat.
Jadi ya, mungkin orang baik memang terlihat seperti kalah.
Sering kecewa.
Sering terlalu percaya.
Sering kasih kesempatan ke orang yang sebenarnya enggak layak.
Tapi mereka pulang dengan sesuatu yang enggak semua orang punya.
Hati yang tetap bersih.
Perasaan yang tetap hangat.
Dan kemampuan untuk menyayangi lagi tanpa berubah menjadi pahit dan getir.
Orang baik mungkin jarang terlihat menang di depan orang banyak.
Tapi mereka bikin orang lain merasa aman.
Mereka bikin hidup terasa lebih ringan.
Mereka bikin dunia jadi sedikit lebih manusiawi.
Jadi kalau begitu,
sebenarnya siapa yang sedang menang?😊
Ada satu kalimat indah yang bilang begini,
apa yang kita beri belum tentu kembali, tapi apa yang kita beri selalu menunjukkan siapa diri kita.
Dan jujur, kalimat ini menempel di kepala.
Karena ia menggeser pertanyaannya. Dari, “aku dapat apa?” menjadi, “tindakanku ini sebenarnya menggambarkan siapa diriku?”
Kita terbiasa menilai segalanya dari hasil.
Kalau kita memberi waktu, kita berharap ada balasannya. Kalau kita hadir untuk orang lain, kita berharap mereka juga hadir untuk kita. Saat harapan itu tidak terjadi, rasanya mudah sekali mengira kita salah hitung, atau merasa sudah memberi terlalu banyak.
Saat kita memilih sabar di momen yang menguji hati, itu menunjukkan sesuatu.
Saat kita menepati janji, padahal sedang repot dan rasanya tidak nyaman, itu juga menunjukkan sesuatu.
Saat kita peduli pada orang lain, murni karena memang peduli, tanpa agenda tersembunyi, itu pun menunjukkan sesuatu.
Ada usaha yang hilang tanpa tepuk tangan. Ada hubungan yang pudar tanpa penjelasan. Tapi itu tidak membuat kebaikan kita sia-sia. Itu justru membuatnya tulus.
Karena pada akhirnya, kita tidak selalu bisa mengatur apa yang akan kembali kepada kita. Tapi kita selalu bisa memilih apa yang keluar dari diri kita.
Kamu pikir orang yang rajin tahajud itu super religius?
Belum tentu.
Mereka cuma sadar, ada hal-hal yang nggak bisa diselesaikan hanya dengan kerja keras.