Matematika itu Bukan Buat Ngalahin Kalkulator
Tiap lagi bahas mengenai matematika, selalu ada komentar semacam ini: "Ujung-ujungnya pakai kalkulator juga, ngapain repot."
Aku nggak bisa bilang itu salah, karena di kantor, di warung, di mana pun, kita pakai kalkulator, pakai Excel/Spreadsheet atau pakai aplikasi hitung lainnya.
Tapi kalau kita pikir tujuan belajar matematika di sekolah adalah supaya bisa ngitung tanpa alat bantu, berarti pemahaman kita bermasalah.
Matematika di sekolah itu sebenarnya latihan berpikir, bukan latihan menghitung.
Aku kasih contoh deh, yang paling deket sama kehidupan sehari-hari.
Kamu lagi mau beli HP baru. Ada dua pilihan di depan kamu.
HP A harganya 3 juta, baterai 5000 mAh, kamera 108 MP.
HP B harganya 2,4 juta, baterai 4000 mAh, kamera 64 MP.
Kalkulator bisa bantu hitung selisih harganya dalam dua detik.
Tapi kalkulator nggak bisa jawab pertanyaan yang paling penting: mana yang lebih worth it buat kamu?
Atau contoh yang lebih simpel lagi.
Kamu lagi antre kasir di supermarket. Antrean kiri pendek, tapi orang-orangnya bawa troli penuh. Antrean kanan panjang, tapi masing-masing orang cuma pegang tiga atau empat item. Dalam hitungan detik, otak kamu langsung proses dan mutusin mau ke mana.
Itu juga matematika, mengenai estimasi, logika, dan pengambilan keputusan cepat.
Di pelajaran matematika, kita juga belajar konsep yang namanya logika "jika... maka...". Beserta berbagai operator logika lainnya.
Pernah mikir gak, kita belajar itu bukan di pelajaran bahasa, bukan di pelajaran IPS, tapi diajarkan di matematika. Dan ternyata ini salah satu bekal paling berguna yang kita bawa sampai dewasa.
Contohnya gini.
Jika aku nggak nabung bulan ini, maka aku nggak punya dana darurat kalau ada keperluan mendadak. Jika aku tidur larut terus, maka produktivitas aku besok pagi bakal jeblok. Jika perusahaan ini terus rugi tiga kuartal berturut-turut, maka kemungkinan besar akan ada PHK.
Kalimat-kalimat itu kedengarannya biasa, tapi struktur berpikirnya persis sama dengan yang kita latih waktu ngerjain soal logika matematika di sekolah.
Kemampuan buat narik kesimpulan dari sebuah kondisi, itu yang bikin seseorang bisa berpikir satu atau dua langkah ke depan sebelum ambil keputusan.
Orang yang terbiasa berpikir kayak gitu biasanya lebih jarang nyesel, karena mereka udah mempertimbangkan konsekuensinya dari awal.
Hal yang sama terjadi di dunia kerja, bahkan di hal-hal yang kelihatannya nggak ada hubungannya sama matematika sama sekali.
Waktu kamu harus milih antara dua kandidat kerja sama, otak kamu lagi nimbang variabel.
Waktu kamu atur anggaran bulanan dan mutusin mana yang harus diprioritasin, itu juga proses logika yang sama.
Waktu kamu baca berita dan nyoba mikir apakah datanya masuk akal atau nggak, itu juga bagian dari kemampuan yang sama.
Kemampuan itu nggak tiba-tiba muncul, tapi dibangun pelan-pelan lewat kebiasaan ngerjain soal matematika dari kecil.
Kalkulator tuh cuma ngitung, yang mutusin angka mana yang mau dimasukin, apakah hasilnya masuk akal, dan apa yang harus dilakuin setelah angka itu keluar, itu tetap kerjaan otakmu. Dan otak itu perlu dilatih, bukan digantiin.
The planet's immediate future โ predicted, mapped, and voted on โ based on the forecasts of a Beijing high school teacher who mysteriously keeps being right.
I donโt dream about luxury. For me, luxury is freedom. Quiet mornings. Unrushed coffee. Long walks in nature. Work that feels meaningful. A few people who feel like home. Time to read. Reflect. Think about things that matter. A simple peaceful life. Rich in depth, less in noise.
Terlepas dari pro kontra alumni penerima beasiswa LPDP, klo saya jadi mikir kenapa orang2 yg pernah tinggal di luar negeri banyak yg ingin statusnya berubah jadi WNA? Harusnya pemerintah kita bermuhasabah dan berbenah seperti Pamerintah Malaysia yg mampu menjadikan paspornya salah satu yg terkuat di dunia. Selain paspor tentunya hal2 lain juga banyak yg harus dibenahi sehingga WNI akan tetap bangga menjadi WNI sampai kapanpun. Karena pribahasa "Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri, baik jua di negeri sendiri", sepertinya sudah tidak berlaku lagi dikalangan generasi muda. โค๏ธ๐ฎ๐ฉ
Warga diadu secara horizontal terus, disuruh berebut remah-remah dengan nginjek satu sama lain. Elite di atas saling berbagi jatah kue, kadang ada sikut-sikutan, tp ujungnya dapet bagian semua.
Teruntuk adik-adikku, atau sesiapapun yang ingin berkuliah di luar negeri dengan beasiswa,
kalau kalian memang pintar dan punya potensi besar untuk dikembangkan dengan jalur pendidikan negara luar,
ada sedikit saran:
Berhubung negara ini dipenuhi orang-orang bermental kepiting, alangkah baiknya jangan ambil beasiswa dari LPDP.
Selain berat bebannya balas budi ke negara, belum lagi kondisi lapangan yang birokrasinya berantakan, kalian juga akan dipandang sebelah mata oleh sebagian rakyat pembayar pajak yang merasa berkontribusi besar untuk pendidikan kalian.
Carilah beasiswa lain atau beasiswa di negara tujuan. Tidak mudah memang, tapi itu lebih baik daripada harus menanggung beban berat, apalagi jika kontribusi tidak sesuai dengan pikiran mereka, akan dianggap kontribusi sampah.
Women get pregnant for 9 months and go through the process of birth, postpartum period. Then it takes 2 years for their organs to go back into place. Plus the potential 3 years of breastfeeding. That's 4 years of extreme hormonal and physical imbalance and society just expects us to be normal ppl loooool
Pernah lihat orang yg rezekinya kayak ngalir terus?
Biasanya mereka bukan yg paling pintar...
Tapi:
โ Jarang ngeluh
โ Hatinya mudah senang
โ Nggak silau lihat orang lain naik
โ Tulus bantu, tanpa pamrih
โ Nggak pelit juga nggak ngemis
Mereka selaras. Dan semesta suka itu.
I had a healthy pregnancy when I was 35, no morning sickness, no issues, gone snowbording at 3 months pregnant and still hiking 4 weeks before due date. Baby was born perfectly healthy โฅ๏ธ