Saya tidak punya kepentingan membela Anies (saya 03), tapi konteksnya memang berbeda.
Anies adalah aktor politik.
Bertemu, ngobrol, bahkan berfoto dengan lawan politik masih masuk dalam fungsi dan bahasa politik.
Publik sudah membaca dia sebagai orang yang bermain di arena itu.
Sebaliknya, Pancatera membawa posisi editorial dan identitas moral tertentu.
Di saat brand yang dibangun dari kritik sosial, independensi, dan keberpihakan pada isu tertentu, kedekatan simbolik dengan kekuasaan otomatis dibaca dengan standar berbeda.
Yang dipertaruhkan itu tidak hanya “boleh foto dengan siapa” saja, tapi konsistensi antara positioning yang dijual ke audiens dengan signalling yang ditampilkan ke publik.
Kalau kita membandingkan keduanya hanya dari tindakan “sama-sama foto”, maka kita sudah mengabaikan variabel paling penting:
siapa aktornya, dalam kapasitas apa dia hadir, dan ekspektasi apa yang selama ini dia bangun kepada publik.
Demikian.
fatimah ini anak kki btw. udah fk, kki pulak. fk dari sananya biaya kuliahnya lebih mahal dibanding jurusan lain, dan kki itu program kelas internasional yang bayarnya jauh lebih mahal dari kelas reguler. jadi bisa dipastikan dia anak orang kaya.
dia bisa aja milih hidup nyaman di menara gadingnya, bahkan mungkin nggak pernah ngerasain kesulitan-kesulitan yang dia suarakan. but yet, there she is. massive respect buat dia. terima kasih udah nyuarain keresahan kami, fatimah dan adik-adik mahasiswa lainnya.
Saya benci bahasa yg digunakan di surat ini; "fafifueasweswos.. pemerintahan selama ini masih jauh dari sempurna." Mereka tuh bukan jauh dari sempurna. Mereka tuh JELEK, INKOMPETEN, JAHAT.
Ga bermaksud pickme atau gmna ya, but today's dating terlalu dimoney oriented-kan. Kek apa2 duit, emng semua butuh duit tapi kok malah jadi kek ga natural ya. Ada yg jadinya malah minta2/menuntut. Pdhl ya sadar diri dan tau diri aja ga sih?