Kadang kita baru sadar pentingnya seseorang setelah kehilangan dia.
Pas masih ada:
“Ah, nanti juga baikan.”
Pas udah pergi:
“Kayaknya gue harus balik deh. Gue mau memperbaiki semuanya.”
Masalahnya… dia udah move on.
Dulu dia nangis karena kamu.
Sekarang dia udah bisa tidur nyenyak tanpa mikirin kamu.
Dulu dia nunggu kamu berubah.
Sekarang dia udah berubah ... tanpa kamu.
Makanya jangan tunggu seseorang pergi dulu baru sadar nilainya.
Karena bisa aja saat kamu akhirnya siap mencintai dia dengan benar, dia sudah nggak butuh kamu lagi.
the POWER OF THE TONGUE is REAL. stop claiming you’re TIRED, BROKE, or DEPRESSED. start speaking GRATITUDE. start MANIFESTING GROWTH. start pouring LIFE into yourself
YA ALLAH, I WISH KETERIMA DI TEMPAT KERJA YANG GREENFLAG DALAM WAKTU DEKAT, JAM KERJA 9-5, CUTI GA DIPERSULIT, SABTU MINGGU LIBUR, GAJI GEDE, KERJAAN SESUAI PASSION, DEKET RUMAH, DAN DAPET ATASAN DAN REKAN YANG BAIK, AAMIIINN...
Waktu yang akan menyembuhkan.
Kuncinya, jangan berhenti. Terus bergerak maju, meskipun pelan.
Nggak apa-apa kalau hari ini belum baik-baik saja. Yang penting, kamu tetap melangkah.
orang yg punya “emotional resilience” kyk gini tuh punya self-continuity yg baik.
self continuity; koneksi antara diri di masa “saat ini” dan “masa depan”.
orang dgn self continuity biasanya akan lebih responsible dan ethical dlm bertindak. mereka orang yg sadar konsekuensi.
Udah 2026 bruh, cowok mah mending ngabisin waktu buat olahraga, bisnis, belajar, dan hobinya daripada ngejar anak orang yang cuma jadiin dia tempat gabut doang.
Jangan mau yak para pria, cari yang sama-sama mau effort aja.
Mending turu ges.
Jadi anak cowok kalo suka, harus berani ditolak.
Tunjukkan rasa tertarikmu, nyatakan rasa suka, lalu siap2 ditolak.
Lalu move on, jangan dendam. Cari yg baru. Lakukan proses ini dalam 3-6 bulan.
Ga ngejar2, tapi juga ga stalking berbulan2, bertahun2 ga karuan.
Kalau dilihat naskahnya, ada line soal Farida dan Budi yang gak diucapin Na Willa.
Tapi rasanya justru lebih pas, karena dia dan Mak kan lagi bahas Bu Tini aja.
Kelihatannya kerjamu bebas, padahal tidak.
Ini bentuk neoliberalisme,
kamu dikuasai dengan cara yg sangat-sangat halus sampai kamu pun tidak menyadarinya.
Saya sepakat penjelaaan Martin Surajaya ini.
Kamu setuju?