aku tipe cewe yg gamau chat sampai berkali-kali kalau lagi deket sama cowo.
contoh, kalau dia ketiduran setelah aku bales chat terakhir, terus aku paginya bangun lebih dulu, aku ga akan langsung chat “pagii”. i’ll simply wait until he replies first. bukan jual mahal, tapi i know my place and i don’t chase.
Kalian tau silent burnout ga sii??
jadi kaya, silent burnout itu dimana keadaan emosi dan mental kita lagi di posisi yang cape banget tapi kamu diem aja (silent treatment), sampe kita gapernah ngeluh soal banyaknya rasa sakit. tapi hebatnya orang yang mengalami itu kehidupannya tetap berjalan normal seperti biasanya, tapi di dalam hatinya hancur sehancur hancurnya bahkan kaya mati perlahan, dan itu ternyata adalah hal yang berbahaya jika seseorang tidak pernah bisa meluapkan emosinya, akibatnya kita jadi lebih gampang nangis karena terlalu banyak emosi yang ngga di luapin.
Direktur akademik gw dulu orang Inggris asli. Suatu hari ada demo teaching buat calon guru matematika baru.
***
Calon guru matematika: "You should to understand this formula..."
Belum selesai jelasin, guru Bahasa Inggris senior gw yang orang Indonesia langsung motong:
"After 'should', you don't use 'to'."
Direktur akademik gw langsung ngomong:
"Jesus Christ, I know what she means. Just let her finish!"
Moral of the story: yang paling niatin koreksi grammar malah orang Indonesia dibanding penutur aslinya 🤣🤣
Dear girls, gue nikah di umur 32 setelah mengenal banyak laki-laki. Gue bahkan hampir nikah di umur 27.
Setelah bokap gue, yang notabene orangnya pendiam, akhirnya bilang, “Kayaknya enggak deh,” gue batalin. Dan ternyata setelah itu kebongkar semua sisi buruknya si laki-laki. Salah satunya kebiasaan suka ngutang. Memang dibayar, tapi small act kayak gitu kalau dibiarin bisa jadi kebiasaan.
Red flag itu biasanya ada tandanya. Kadang kita aja yang suka meromantisasi sampai akhirnya terbuai.
Setelah itu gue memutuskan buat single, mingle sama beberapa laki-laki lagi yang effort-nya gila-gilaan. Ternyata banyak.
Once lo mutusin rantai toxic relationship, terus yang lo bangun adalah diri lo sendiri. Lo jadi lebih cantik, ngejar karier, ngejar pendidikan, fokus memperbaiki diri, fokus menyembuhkan batin.
Kalau gue, caranya dengan lebih dekat sama Allah, tahajud dan duha. Berpenampilan lebih apik, menjaga tutur kata, mencoba jadi lebih positif buat diri sendiri.
Pelan-pelan hidup lo pasti akan tertata.
Dan be genuine. Jujur juga sama diri sendiri. Aura positif lo akan menarik segala kebaikan.
Di usia 31 tahun, gue akhirnya ketemu suami gue.
Ketemu suami gue di usia 31 dengan cara yang menurut gue sepaling-palingnya gak masuk akal 😂 Prosesnya bahkan kurang dari 1 tahun sampai akhirnya kami memutuskan untuk menikah.
Gue yang bukan “bule hunter”, bahkan bule putih mata biru sebenarnya bukan tipe gue banget. Menurut gue malah lebih macho laki-laki yang bewok, alis tebal, item.
Eh ternyata gue malah takluk sama cowok yang gentle, lembut, manis, bukan yang kelihatan maskulin.
Dan pria ini konsisten effort-nya dari awal sampai sekarang.
Kami ketemu Desember 2024. Dia chat gue lagi 2 minggu setelahnya, pertengahan Januari 2025. Akhir Januari 2025, kami dating pertama.
Sebelum dia datang ke Shanghai, gue malah nembak dia duluan lewat chat:
“Maksud lo apa kita tiap hari chat se-intense ini? Gue bukan di usia muda lagi untuk flirting > jatuh cinta > bubar. Gue gak ada waktu untuk itu.”
Dia bilang harusnya dia yang mulai pembicaraan itu, dan dia akan menjelaskannya pas kami ketemu di kota tempat gue tinggal saat itu, Shanghai.
Dari apa yang gue pelajari, jodoh itu gak selalu butuh waktu pacaran lama untuk yakin.
Dan jodoh itu jelas harus dijemput, bukan cuma ditunggu. Ikhtiar is real. Upayakan, usahakan, dan jangan lupa CLARITY.
Semua harus jelas dibicarakan. Harus terbuka.
Karena dalam hubungan, kuncinya adalah komunikasi, kejujuran, dan keterbukaan.
Lo akan menghadapi semua beban hidup bersama pasangan. Jadi pasangan lo itu tim lo.
Kalian harus kompak dan saling mengenal kekuatan serta kekurangan masing-masing.
Karena tim itu tugasnya saling menguatkan, bukan saling jadi beban.
sorry to say.
tapi jujur aja. pendidikan bener-bener ngaruh ke sikap dan cara bicara orang. keliatan banget dari bahasa sama gaya ngomongnya. emg nggak semuanya, tapi mostly iya.
"Habis baca apa? Kok kaya mau nangis gitu sih?"
Please, read this one!🥹❤️🩹
Sebagai seseorang yang juga lagi di fase "berproses", tulisan ini agak ngena di hati kecilku. Semoga suatu hari nanti Allah mempertemukan aku dengan dia yang mau saling membersamai proses masing-masing...
Ini adalah satu buku penting buat yang mau tau ikan pasar di Indonesia tapi ga tau namanya. Buku ini berisi deskripsi, foto, dan nama ikan dalam bahasa Indonesia serta Inggris. Gila ini bagus banget woi. Bukunya bisa diunduh gratis juga.
https://t.co/qfR5y4BTIC
Di Jawa, orang tua dulu sering pesan ke anaknya yang mau menikah: "Tidur itu pastikan tempat cuci piring (sink) udah bersih."
Mitologi kosong, ramalan sesat, atau ada logika yang masuk akal di baliknya?
Mari kita bongkar lewat kacamata realita rumah tangga. 🧵👇🏼
orang yang tangki cintanya penuh, hidupnya merasa cukup, dan rasa syukurnya tinggi biasanya ngg punya energi buat ngurusin hidup orang lain. ngga banyak drama, ngga merasa tersaingi, apalagi sibuk bersaing sama siapa pun. karena kalau hidup sendiri sudah terasa cukup, buat apa capek-capek ikut mengusik hidup orang lain.
tanggapan dari anak pak purbaya terkait pencopotan sebagai menkeu
enakan jadi trader katanya jadi menteri gaji kecil kerja nonstop bawahannya korup
😭😭😭😭😭😭😭😭