✅Alwi Farhan yang menyapu bersih kemenangan di QF, SF, dan FINAL,
✅M. Zaki Ubaidillah yg menjadi penentu kemenangan 3-2 di QF dan FINAL.
✅Fajar/Fikri yg tampil hebat dan meraih kemenangan di QF dan SF.
✅Leo/Daniel yg menjadi penentu kemenangan di SF dan ikut menjadi penyelamat di FINAL.
✅Jonatan Christie, WR1 yang konsisten menjadi tumbal kemenangan. Tanpa kehadiran dia, tugas Alwi dan Ubed mungkin lebih berat.
✅Para staf dan tim pelatih tunggal putra dan ganda putra nasional.
Terima kasih banyak!
Dulu bangun pagi demi nonton kartun😙✨
sekarang bangun pagi demi kerja🙂↔️💼
Tapi jujur… rasanya pengen balik ke masa di mana masalah terberat cuma nunggu episode selanjutnya..🥹🧃✨
Bener ini 😂 banyak kata bahasa Melayu 🇲🇾 & bahasa Indonesia 🇮🇩 yg sama artinya beda
contoh
harus = must do 🇮🇩 allowed to do 🇲🇾
jemput = pick up 🇮🇩 invite 🇲🇾
senang = happy 🇮🇩 easy 🇲🇾
pantas = appropriate, suitable 🇮🇩 quick, fast 🇲🇾
bila = if 🇮🇩 when 🇲🇾
butuh = need 🇮🇩 penis 🇲🇾
"Mengkritik Jokowi ≠ Menyesal"
Saat ini, cara berpolitik Jokowi agak sedikit kasar. Lihai, licin, namun tidak cantik.
Dia mengatur bagaimana tidak melanggar hukum tapi keinginannya bisa tercapai.
Jika sebelumnya bermain halus, sejak mencalonkan Gibran lewat jalur MK, itu sudah terlihat sekali Jokowi mulai main "kasar". Melanggar hukum? Tidak. Melanggar etika? Iya. Jelas.
Saat ini, kita bisa lihat apakah Putusan MA akan diikuti dengan mendaftarnya Kaesang menjadi Cagub/Cawagub. Jika memang iya, maka sudah dipastikan bahwa memang Jokowi memang sudah secara gamblang bermain "kasar".
Untuk memastikan itu, kita hanya bisa menunggu apakah Kaesang jadi daftar atau tidak.
Namun apapun hasilnya nanti, ketika menyampaikan opini seperti di atas, saya yakin akan ada jenis komentar di X yang kurang lebih seperti ini: "Tuh, menyesal kan pilih Jokowi?"
Apakah mengkritik yang kita pilih sama dengan menyesal memilih? Tentu tidak selalu seperti itu.
Saya tidak menyesal memilih Jokowi.
Saya mengkritik, bukan membenci.
Saya melihat keburukan Jokowi, tapi tanpa melupakan banyak kebaikan yang sudah dilakukannya.
Saya tidak setuju dengan kebijakannya tentang Tapera, tapi bukan berarti semua tentang Jokowi jadi buruk.
Mengkritik ya mengkritik saja. Kenapa harus jadi membenci? Bagi Anda yang membenci seseorang, maka tidak akan mau mengakui kebaikan orang itu. Padahal jelas dia juga punya kebaikan.
Begitu pula ke orang (baca: presiden terpilih) yang dulu tidak kita pilih. Apakah kita harus membencinya?
Di Pilpres 2024, saya tidak memilih Prabowo. Apakah berarti saya benci Prabowo? Tidak.
Apakah saya lalu tidak berharap Prabowo akan membawa kebaikan? Tentu tidak juga.
Saya tetap berharap Prabowo membawa kebaikan pada negara ini. Kan, dia yang terpilih. Mau berhatap ke capres yang tidak terpilih? Kan, tidak bisa.
Prabowo sudah terpilih jadi Presiden berikutnya. Meski saya tak memilihnya, saya tak berarti membencinya.
Apakah saya akan mengkritik kebijakan Prabowo? Ya jelas. Ke Jokowi yang saya pilih saja saya menyampaikan kritik, apalagi ke Prabowo yang tidak saya pilih. Namun meski begitu, saya tak akan menyampaikan kebencian.
Bagi Anda yang pilih Prabowo, silakan aja kalau mau kritik. Saya tak akan menuduh dengan tuduhan menyesal, atau sejenisnya.
Bagi Anda yang tidak pilih Prabowo, ayo mengkritik tanpa harus membenci. Dan kalau ada yang baik dari Prabowo, tak perlu malu untuk memuji. Saya tak akan menuduh dengan tuduhan menyesal, atau sejenisnya.
Siapapun yang kita pilih di Pemilu dan Pilpres seharusnya tetap kita kritik jika memang menurut kita perlu dikritik. Mengkritik tidak sama dengan menyesal.
"Rampaslah Uang Rakyat Secara Kreatif"
Jika pemerintah ingin mengambil (baca: merampas) uang rakyat, harusnya berpikir kreatif. Jangan seperti TAPERA yang super duper nggak kreatif.
Memahalkan cukai rokok itu termasuk cara yang kreatif. Sayangnya itu nggak diimbangi dengan ketatnya razia rokok non-cukai. Hasilnya jumlah perokok tetap tinggi, namun pendapatan negara menurun.
Kalau tidak bisa memastikan bahwa rokok non-cukai tidak bisa beredar, ya mending cukai rokok tetap murah, jadi rokok resmi akan murah dan orang akan memilih rokok bercukai. Perokok tetap akan memilih merek rokok yang terkenal jika harga jualnya tidak selisih banyak. Pendapatan negara pun akan lebih tinggi.
Kenapa memahalkan cukai termasuk cara kreatif untuk mengambil uang rakyat? Karena uang itu diambil dari orang yang "menyakiti" diri sendiri.
Negara itu ingin rakyatnya sehat. Ingin rakyatnya tidak merokok. Tapi, negara memberi "jalan" kepada yang ingin tetap merokok dengan bayar cukai ke pemerintah. Makin mahal makin baik.
Dengan cara berpikir seperti itu, hasilnya hanya ada 2 kemungkinan, yaitu: pendapatan negara sangat tinggi, atau rakyat Indonesia makin sehat karena jumlah perokok menurun.
Kedua kemungkinan hasilnya itu akan menguntungkan negara. Negara jadi banyaknuang atau warganya sehat. Sekali lagi, dengan catatan harus ada penegakan hukum tentang rokok ilegal.
Cara apa lagi yang kreatif selain cukai rokok? Ya kita cari hal-hal lain yang rakyat suka "menyakiti" diri sendiri.
Yang saat ini sudah legal sih, baru minuman beralkohol. Namun kita bisa melegalkan beberapa hal yang sebelumnya itu ilegal. Misalnya: legalisasi perjudian, legalisasi prostitusi, legalisasi pornografi, hingga legalisasi ganja.
Prinsipnya: legalkan dan mahalkan!
Mahalkan cukai atau pajaknya hingga masyarakat yang memakai (mengonsumsi) tidak masif, namun negara mendapatkan pemasukan yang besar dari situ.
Perjudian menurut saya yang paling punya potensi mendapatkan penghasilan paling besar. Penjudi kelas teri selama ini uangnya habis ke judi online. Penjudi kelas kakap uangnya terbuang ke Singapura, Malaysia bahkan sampai AS.
Selama ini, kita masih disuguh berita orang yang bangkrut karena judi online. Bayangkan jika itu uangnya masuk ke negara.
Judi model lotre (togel) seperti SDSB atau Porkas juga layak dipertimbangkan lagi. Negara bisa dapat uang dari orang yang suka judi seperti ini. Tak usah dipungkiri, togel ilegal masih ada di tengah masyarakat sekarang ini.
Orang bangkrut karena judi, itu hidupnya hancur kan memang "keinginannya" sendiri. Setidaknya dia sudah tahu risikonya.
Dengan melegalkan judi, pemasukan negara pasti tinggi.
Oh ya, masih ada 1 lagi yang selama ini legal, dan bisa membuat orang sakit, namun tidak ditarik cukai. Apa itu? Gula!
Gula itu jelas membuat orang sakit. Orang juga tak mati jika tak mengonsumsi gula pasir. Anehnya, kita malah memasukkan gula dalam daftar Sembilan Bahan Pokok (Sembako).
Harusnya gula itu diberi pajak sehingga jauh lebih mahal. Supaya orang mengurangi konsumsi gula. Ini tidak diterapkan ke produk gula rendah kalori sehingga orang akan lebih banyak memakai gula rendah kalori.
Konsumsi gula berlebihan termasuk dalam kategori: menyakiti diri sendiri. Harusnya dikenai cukai juga.
Jadi, intinya jika negara ingin merampas uang dari rakyat, ambillah uang dari orang-orang yang rela menyakiti diri mereka. Jangan malah minta 3% ke gaji karyawan berupa Tapera!
Masih banyak orang yang memang ingin menyakiti diri sendiri. Ambillah uang dari mereka. Jangan menyakiti orang yang sudah hidup baik-baik.
Orang baik:
- Tidak kriminal
- Tidak merokok
- Tidak mabuk-mabukan
- Tidak selingkuh
- Anaknya sekolah dengan baik
- Kerja keras jadi karyawan
- Gaji pas-pasan
Orang baik seperti itu yang mungkin hidupnya membosankan, kok ya tega masih dipotong gajinya?
Wahai pemerintah, tolong lebih kreatif sedikit-lah saat ingin merampas uang rakyat.
BTW, KASIH SELAMAT DULU KE DAVID RAYA!
Dia sudah memastikan mendapatkan Golden Gloves musim ini! 14 clean sheet sudah tidak mungkin terkejar di sisa laga. Musim pertama buat Arsenal, main ngga full, langsung Golden Gloves. Congrats, Raya!
Ada masa dmn Jorji begitu akrab dgn babak 1 & 2. Merayakan kemenangan dari pemain unggulan. Merayakan SF pertama, final pertama, sampai pada gelar pertama.
Ketika hanya perayaan kecil atas capaian SF & F. Berarti Gregoria sdh berada di tempat yg seharusnya. Sebuah proses yg manis
"Lihatlah Hasil di TPS Di Sekitar Kita"
Saya dari dulu bilang bahwa saya swing viter untuk pilpres 2024.
Namun pada akhirnya saya memilih 01. Istri dan anak saya, keduanya berbeda. Kami bertiga punya pilihan masing-masing.
Di keluarga, saya selalu menyatakan bahwa ketika kita ber-husnuzan kepada semua capres, maka pada dasarnya semua capres itu baik.
Itulah kenapa saya selalu ingin sampaikan di twit, meski hasilnya tak sesuai dengan yang kita inginkan, ya sudah relakan. Saat ini quick count jelas menunjukkan 02 menang dengan jarak suara yang begitu jauh. Kubu 01 dan 03 harusnya memberi ucapan selamat.
Pendukungnya pun harusnya merelakan bahwa ternyata 01 dan 03 sudah kalah. Tak perlu ngotot bahwa 01 dan 03 harusnya menang.
Kita boleh saja menuduh 02 curang. Tapi coba lihat fakta di TPS kita sendiri di sekitar kita. Saya yakin kita akan menemui fakta bahwa 02 menang mutlak. Lalu bagaimana mungkin kita mau protes?
Di TPS yang kita melihat sendiri prosesnya. Kita juga tahu siapa saja pemilihnya. Semua tetangga kita. Dan ketika dihitung, ternyata 02 memang menang. Mutlak pula. Terus, kita mau teriak-teriak bahwa 02 curang?
Saya pribadi akhirnya memilih 01. Saya sangat menghargai usaha Anies Baswedan yang berkampanye dengan sangat bagus. Anies jelas memberikan edukasi yang baik kepada pemilih. Sangat kontras dengan kampanye 02 yang "tidak berisi".
Namun, ketika fakta menunjukkan bahwa 02 menang, ya mau diapakan lagi? Ya sudah, memang 02 yang menang.
Ketika saya ngetwit bahwa: 01 dan 03 yang berkampanye "betulan", tapi 02 yang menang, itu bukan saya anti-02. Tapi itu tentang fakta bahwa masyarakat kita, mayoritas masih suka joget dan gimmick makan siang. Mereka mungkin tak suka disuruh diskusi mikirin Indonesia.
Ketika saya ngetwit bahwa: 02 sudah menang, hasil quick count harus diterima, itu bukan karena saya pendukung 02. Tapi itu menunjukkan bahwa kita semua harus menerima apapun hasilnya pilpres.
Fakta bahwa 02 menang telak. Fakta bahwa PDIP tetap memimpin Senayan. Fakta bahwa PSI tak lolos. Semua itu mungkin adalah fakta-fakta tak sesuai dengan yang saya inginkan, tapi apa lagi yang bisa kita lakukan selain menerima itu semua?
Dan itu semua bisa kita cek di TPS-TPS sekitar kita. Hasilnya tak jauh-jauh dari hasil quick count yang sudah beredar.
Mahaguru perpolitikan Indonesia.
5x ikut pemilu di era Reformasi. 2x Walikota, 1, Gubernur, 2x Presiden. Menang semua. Jadi presiden periode kedua, ngerangkul rivalnya masuk kabinet dan menjadikan kekuatan oposisi hampir tak ada artinya.
Ngacak-acak konstitusi buat nyalonin anaknya dan bener lolos. Dan kini di ambang kemenangan satu putaran.
Please welcome, Ir. H. Joko Widodo. You will never can deny his political ability 👏