Soal elpidipi lah beyumenen lah mentri lah semua disuruh retret ke ginian, orang2 pada overtingking. Padahal semua bermuara pada duit. Retret = easy money.
Semua bermuara pada revenue untuk mil*iter, terutama utk kaum non-jend*ral.
Kalau 10-15 tahun lalu, narasi yang beredar:
“Kantor gue standar banget.
Nggak ada training ke luar negeri, nggak ada vacation allowance, nggak ada saham karyawan, nggak ada housing support, nggak ada mental health support, nggak ada education allowance, nggak ada corporate retreat ke luar negeri."
Sekarang hal sesederhana itu sudah naik kelas jadi “kantor green flag”, karena perusahaan makin terbiasa menurunkan ekspektasi pekerja sampai hak paling dasar pun terlihat seperti benefit istimewa.
Coba dipikir.
Cita2 pingin industrialisasi, bikin mobil dan ponsel sendiri
Tp belanja APBN Top 3 nya: BGN, TNI, Polri
Programnya: MBG, Kopdes, Gentengisasi
Budget R&D to GDP cuma 0,28%.
Preman di mana2. Kepastian hukum ga pasti.
Gimana industrialisasi dan investasi bisa jalan?
Kenapa Pesib tidak pernah dipermasalahkan?
Karena Persib sudah jadi bagian dari budaya dan perkembangan kota serta mayoritas masyarakatnya.
Naik turunnya, baik buruknya, dan semua hal yang menyertainya akan selalu jadi bahasan dan bagian dari mayoritas rakyat Jawa Barat pada umumnya, serta Bandung khususnya.
Saya rasa kalo membandingkan 2 hal ini tidak apple-to-apple. Keduanya bukan sebuah hal yang sepadan dan bisa dibandingkan begitu saja.
Terus apakah orang bandung gak pusing kalo konvoi persib ini bikin macet dan sampe nutup jalan ber jam-jam? Saya yakin pasti ada yang ngerasa pusing dan bahkan capek kok. Wajar dan normal.
Tapi, balik lagi ke point awal. Persib ini sudah jadi bagian dari budaya mayoritas masyarakatnya. Jadi hal seperti ini adalah sesuatu yang pada akhirnya jbisa dipahami dan diterima oleh mayoritas masyarakat karena kedekatan emosional-nya tadi.
Yang pada akhirnya, mayortias masyrakat menjadikan Persib dan Konvoi-nya ini sebagai hiburan sekejap untuk melepas keruwetan yang dialami tiap harinya. Dan tentu saja, perihal konvoi ini adalah sesuatu yang gak akan bisa untuk dihindari. Jeung banguna mun presiden arek liwat ge, nu aya presiden-na nu nungguan 😂
Sedikit contoh 2014 pas konvoi Persib Juara, Almh nenek saya yang waktu itu umurnya 80-an juga milu surak euy Persib Juara-mah. Tante saya juga ikut neriiakin nama Ferdinand Sinaga pas bus konvoinya lewat. Kedekatan emosional ini yang saya rasa memvalidasi euphoria mayoritas masyarakat soal Persib.
Sedangkan event lari ini sifatnya komersil dan hanya menyentuh beberapa kalangan tertentu saja. Ditambah lagi, pihak EO tidak berkaca pada event-event lari yang pernah diadakan sebelumnya. Mereka kembali gagal buat paham kondisi masyarakat-nya seperti apa.
Gausah jauh-jauh ke event lari deh, tuh... kirab budaya-nya KDM juga banyak yang ngeluh gegara jalan-nya ditutup 😂 tapi kalo hubungannya sama Persib ya lain cerita. Mayoritas masyarakat dari berbagai kalangan ya ikut terjun beruphoria.
Balik lagi soal lari, untuk Rute-nya juga dari yang saya liat nutup akses ke pasar Ciroyom, pasar Andir yang mana jadi tujuan banyak pedagang. (nuhun rudet) 😅😂
You bayangin, ini kota tiap harinya itu traffic udah ruwet. Pas weekend apalagi. Jalur-jalur yang "utama" juga banyak yang 1 arah. Jadi kalo misal 1 jalur ditutup ya harus muter lewat jalur lain yang searah juga, dan bahkan kadang jalurnya lebih kecil dari yang seharusnya.
Nah you bayangin dah itu kendaraan numpuknya kek mana. Ini juga belom ngomongin soal penerangan jalan yang... POOOEEEEKKK ANYEEENNGG!!
Untuk sebuah ibukota provinsi, ini kota tuh sekarang Banyak Kurengnya. Padahal Gubernur-nya juga ngantor sering di situ.
Bandung sekarang tuh semacet itu. Macet banget.
Kemacetan Bandung tuh udah jadi salah satu yang terparah dan bahkan ngimbangin Jakarta. Ditambah kurangnya Transum yang bisa setidaknya mengurai masalah tersebut, bikin kondisinya makin gak kekontrol.
Perdebatan soal event lari ini dan perbandingannya dengan Konvoi Persib saya rasa akan jadi diskursus yang gak habis-habis selama tidak ada keseriusan dan evaluasi menyeluruh dari pihak EO sebagai penyelenggara, dan pemkot sebagai Pemberi Izin.
Gini, dari 2 hal tadi. Saya tidak membenarkan yang satu dan menyalahkan yang lain. Karena pada akhirnya, semua kembali lagi ke bagaimana Pemda dan pihak keamanan bisa memitigasi dan meminimalisir keluhan yang ada.
Pertama, event lari ini akan minim "gesekan" kalo pihak penyelenggara mau evaluasi dan memikirkan rekayasa pengalihan jalur yang sekiranya digunakan oleh event tersebut.
Jadi sinergitas antara EO dan Pemda ini sebenernya jadi kunci untuk sebuat event Sport Tourism bisa berjalan dengan baik. Untuk kota sekaliber Bandung, sangat disayangkan kalo pada akhirnya terlewatkan untuk event-event besar yang bisa menguntungkan bagi kota dan masayarakatnya.
Kedua, pihak pemda serta keamanan juga harus lebih paham dengan kondisi yang terjadi di daerahnya. Kayanya kalo 2 institusi tersebut bener kerjanya, masyarakat-pun gak akan jadi "Tegang" sebegitunya.
And again... semuanya kembali pada satu kalimat "Everything is political"
Sangat disayangkan event yang seharusnya menguntungkan bagi sebuah kota malah kembali jadi ajang konflik bagi Pelari dan Masyarakat-nya.
Puskesmas di Jakarta berbeda jauh dengan Puskesmas di daerah
Ke tetangga2 nya jakarta saja,
sedih banget lihat Puskesmas serba terbatas
Di Jakarta,
satu puskesmas,
ada puluhan dokter
Di Tetangga nya Jakarta,
bisa ketemu dokter waktu berobat di Puskesmas,
mnjadi suatu kemewahan
Perkelahian Antar Penumpang Pecah Di KRL Tujuan Bogor, Diduga Dipicu Pelecehan Seksual ‼
Insiden perkelahian terjadi di dalam KRL Commuter Line tujuan Bogor pada Kamis malam (23/4/2026), memicu kepanikan di kalangan penumpang.
Keributan antar penumpang itu berlangsung di tengah perjalanan sebelum akhirnya berhasil dilerai oleh petugas keamanan (PAM KCI) yang sigap mengamankan pihak-pihak terlibat.
Hingga kini, penyebab pasti insiden masih dalam penyelidikan. Namun, dugaan sementara perkelahian dipicu oleh kasus pelecehan seksual di dalam kereta.
Via: railfanssindo
#elshintaviral
Mumpung isu KS lagi panas, ada baiknya kita mengingat lagi kejahatan seksual terbesar di sejarah Indonesia.
Kejahatan itu ialah Pemerkosaan Massal Mei 1998.
Pada Mei 1998, AsiaWeek melaporkan suatu mobilisasi preman yang raksasa.
Gerombolan-gerombolan preman, bandit, rampok, dan penyamun dari hutan-hutan Lampung dan Timor Timur didatangkan dalam jumlah besar pakai pesawat kargo dan kereta ke Jakarta.
Secara terencana, gerombolan preman dalam jumlah sangat besar digerakkan di seluruh wilayah Jakarta untuk menciptakan bencana kemanusiaan masif dan meluas.
Hasilnya sangat ekstrem.
Selama tiga hari nonstop, terjadi perburuan manusia di Jakarta.
Gerombolan preman dalam jumlah besar menyerbu kampung yang didiami mayoritas suku Tionghoa, mengepung gang, memasuki rumah orang random, memukuli ibu-ibu random penghuninya dengan sadis sampai mati, menelanjanginya, memerkosanya, membakarnya, membakar rumahnya, mencuri sofa dan kulkas dan TV dan lemari bajunya. Seluruh keluarga si ibu-ibu juga mati dibantai.
Kemudian gerombolan preman itu pindah ke rumah sebelah. Lalu setiap rumah di situ. Lalu ke kampung sebelah.
Ribuan orang mati dibantai.
Di jalanan Jakarta, perempuan diperkosa bergilir oleh massa dan dipukuli dengan sadis sampai mati dan rusak dengan mengerikan.
Gerombolan pencuri, penyamun, pemerkosa, dan pembunuh dalam jumlah sangat besar merongrong dan meneror seluruh wilayah Jakarta selama tiga hari nonstop.
Tidak ada aparat. Tidak ada kabar tentang apakah besok pemerkosaan massalnya sudah selesai atau masih lanjut. Soeharto lagi entah di mana di luar negeri. Orang capek.
The Rape of Jakarta.
Inilah "KS" terbesar di sejarah Indonesia. Ketika Nanking diperkosa penjajah, Jakarta malah diperkosa bangsanya sendiri, secara harfiah.
Siapapun yang bertugas melindungi Jakarta saat itu jelas gagal total.
Ternyata, di Jakarta saat itu ada tiga pasukan aktif yang besar:
1. Kostrad
2. Kodam Jaya
3. Kopassus
Pertahanan Jakarta praktis menjadi tugas mereka yang sama sekali tidak boleh gagal.
Kalau Jakarta sampai jatuh ke tangan musuh, merekalah yang tanggung jawab, karena gagal dalam tugasnya.
Kalau bukan mereka, siapa lagi yang bisa melindungi Jakarta dari musuh?
Oleh karena itu, semua anggota ketiga pasukan ini sudah bersumpah prajurit untuk melindungi rakyat tanpa gagal, bahkan jika harus mati sekalipun.
Selama tanggal 13-15 Mei 1998, ketiga pasukan ini ngapain aja?
Apa yang saat itu mereka lakukan untuk melindungi rakyat?
Selama tiga hari, para tentara ini nggak cuma gabut nontonin ratusan perempuan diperkosa bergilir dan dipukuli sampai rusak dan mati oleh massa, kan?
Tentu, tentara hanya mengikuti perintah.
Apa yang komandan-komandan ketiga pasukan lakukan selama 13-15 Mei? Apakah mereka memerintahkan pasukannya untuk melindungi rakyat?
Siapa sih komandan-komandannya saat itu?
Oh, berarti muncul 3 nama:
1. Pangkostrad saat itu
2. Pangdam Jaya saat itu
3. Pangkopassus saat itu
Tiga manusia inilah yang bertugas melindungi Jakarta selama 13-15 Mei 1998. Merekalah yang pegang pasukan.
Siapakah nama-nama ketiga orang yang spesifik itu? Tentu saja tidak boleh gw sebut.
They-Who-Must-Not-Be-Named.
Ikan busuk dari kepala. Kalau Kostrad, Kodam Jaya, dan Kopassus entah mengapa bisa-bisanya kompak gagal bersamaan, tiga orang inilah yang harus minta maaf sebagai pemimpin.
Tiga orang inilah yang harus minta maaf karena kicep gagal mencegah pemerkosaan dan pembantaian di Jakarta oleh gerombolan preman, termasuk oleh gerombolan preman dari hutan Timor Timur.
Mertua bilang “nggak apa-apa.”
Tetangga bilang “dulu anak saya dikasih juga, sehat-sehat aja.”
Tapi sebagai dokter anak, saya harus jujur:
Ada 9 makanan yang kelihatan aman — tapi berbahaya untuk bayi di bawah 1 tahun.
🧵 Thread penting untuk semua orang tua & calon orang tua:
(Silahkan simpan dulu, bila belum sempat baca)
Waktu sidang Nadiem Makarim, jaksa jg sempat curiga karena kepemilikan saham nadiem “meledak” dari 500 juta lembar jadi 15 miliar lembar.
Padahal itu cuma proses IPO + stock split.
Jumlah lembar dipecah, nilainya tetap sama.
Nadiem bahkan kasih analogi sederhana:
Bayangin punya Rp100 ribu, terus dipecah jadi recehan seribuan.
Lembarnya jadi banyak, tapi nilainya tetap Rp100 ribu.
Bukan meledak pak jaksa… cuma dipecah aja 😭
puspom TNI cek kendaraan personelnya deh.
saya tidak bilang kendaraan mereka bodong/ surat sebelah. tapi banyak saksi dan desas desus, bahwa oknum TNI adalah salah satu konsumen rutin kendaraan bodong. tentu oknum polisi juga sama.
jgn minta bukti ke saya, kalian semua punya akses untuk membuktikan. dan idealnya ada mekanisme internal yang berjalan.
cc : @DivHumas_Polri@Puspen_TNI@ahriesonta
masyarakat resah, karna peduli.
bukan mau cari keburukan institusi.
@dhemit_is_back jgn pernah berteman dekat atau berurusan dgn coklat atau ijo..mreka dilatih untuk berkhianat bukan buat jagain lo..bg mereka nyawa lo cm sampah..