But somehow, setiap jalan sepertinya berakhir dengan cara yang sama. Gagal lagi, kehilangan lagi. Kadang aku bertanya tanya Apakah aku benar-benar tidak beruntung, atau memang aku ditakdirkan untuk selalu kesulitan ? Krn semesta seolah seperti tempat yg tdk pernah memilihku.
Rencana mana yg tdk ku hapus, cita² mana yg tdk ku kubur, impian mana yg tdk ku relakan. Sumpah capek, capeeek sekali, lebih dari yg org liat dari kelihatannya. Aku sudah memaksa diri untuk tetap berjalan, bahkan ketika rasanya ga ada alasan lagi untuk melangkah.
"Kamu kok hidup nya santai aja ketawa ketawa kayak ga mikirn masa depan"
hahaha lucu,km gatau apa yang aku pendam sendirian, sakit nya, apa lagi aku anak pertama pasti mikirin gitu, tapi aku lebih suka memendam nya sendiri, emng kalo aku omongin semua kamu semua pada bakal ngerti
Ga nyangka kalo aku bakal di pilih Tuhan buat gabung dai bagian org² yg mentalnya di hajar habis²an, yg harus selalu mengerti, yg harus selalu mengalah, dan diperintahkan untuk sabar.
"Tuhan, liat aku kuat dari mananya??!"
aku memilih diam, bukan karena kuat, tapi karena aku sudah tidak tahu lagi harus bertahan seperti apa, mencoba membiarkan semuanya lewat, namun yang hilang justru ketenanganku, bukan pikiran_ pikiran itu
Peranku sebagai anak sepahit ini, aku selalu mengalah ribuan kali untuk keluargaku, aku berpangku dan berpasrah atas nasib baikku dimasa depan hanya kepadamu ya allah
Hubungan semakin lama, semakin di uji. Entah itu tentang omongan, perilaku dan sebagainya. Jika kt berhasil melewati itu, berarti kt berhasil melewati fase yg dikatakan hubungan dewasa. Mengalah (bukan kalah) tapi tahu arti mana yg lebih baik untuk di perjuangkan.