Tak dirasa mata ini meneteskan air mata setelah melihat video ini.
Supandi 25 th penyandang disabilitas berjualan kerupuk dan sayur keliling menggunakan sepeda bututnya setiap hari dan hanya mendapatkan penghasilan 10.000 sambil menahan lapar siang dan malam.
Sumber : IG BandungBanget
so anton can:
— swim professionally
— play multiple instruments at a professional level
— compose, produce, and arrange music
— dance and sing perfectly well
— adapt to multiple languages and sound natural in them
— AND DRAW INSANELY WELL
what can't he do?
minta tolong guru pelosok “sweeping” anak-anak yang baru mau masuk sekolah tapi ortu terbatas buat beli seragam, tas, sepatu, alat tulis. dimulai hari ini di beberapa daerah pelosok. semangat bapak ibu guru. semua kudu sekolah 🌻
guys lu pada tau kan hari ini
prabowo, bahlil dan teddy ada pidato
tapi tak satu pun dari mereka
menyinggung tentang kenaikan pertamax
kenapa dan bagaiamana nya lohh
Masih inget ga, dulu SBY mau naikin harga bensin 400 perak aja sampai pidato live di TV, minta maaf berkali-kali dengan wajah yang beneran sedih.
bahkan ada pengumuman seminggu
sebelum dinaikkan
Beliau punya banyak kekurangan tapi momen itu susah dilupain.
Pas Tsunami Aceh, beliau stay di lokasi bencana dan turun langsung. Bukan sekadar konferensi pers dari Jakarta.
Itu bukan hal yang luar biasa sebetulnya itu memang standar minimum seorang pemimpin. Tapi terasa luar biasa karena sekarang jadi langka.
Karena yang rakyat butuhkan dari seorang pemimpin di saat krisis sebenarnya sederhana:
Diakui. Ditemani. Dan kalau terpaksa ada kebijakan yang menyakitkan minimal dikasih penjelasan yang jujur, bukan denial.
Prabowo : Kenapa saya ingin jadi Presiden ? Karna saya sudah lihat dari Tahun 90an Indonesia menuju jalan yang salah
TAHUN 90 AN ?? WAH NYINDIR MERTUA LO SENDIRI WO ??
TIK TITIK LIHAT NOH BAPAK LO DISINDIR BOWO 😭😂
KISAH PILU KAKEK LANSIA YANG TERTIDUR DALAM KEADAAN LAPAR KARENA DAGANGANNYA TIDAK ADA YANG LAKU
Di sudut depan pasar yang bising, Abah Sobandi (66 tahun) duduk menanti keajaiban.
Di usianya yang sudah senja, ia masih harus berjuang menyambung hidup dengan membuat dan menjual mainan anak tradisional.
Menggunakan tangan tuanya, ia merajut sendiri bilah-bilah bambu dan kertas warna-warni, mencoba bertahan di tengah gempuran zaman modern yang serba digital.
Setiap hari, Abah mangkal dari pagi hingga sore hari di tempat yang sama.
Namun, karena yang dijual adalah mainan tradisional, peminatnya kini sangat jarang. Hari-hari Abah lebih sering dihabiskan dalam sepi kadang dagangannya hanya laku sedikit, bahkan sering kali tidak laku sama sekali.
Saking sepinya, Abah sampai sering ketiduran di tempat ia mangkal karena kelelahan menunggu pembeli yang tak kunjung datang.
Dampak dari sepinya jualan langsung memukul lambung Abah.
Tanpa pengasilan yang pasti, urusan makan sehari-hari pun menjadi tidak menentu.
Jika ada uang ia bisa makan, namun tak jarang Abah terpaksa tidak makan sama sekali seharian karena kantongnya kosong melongpong.
Jangankan untuk mengontrak tempat tinggal, untuk tidur pun Abah kini harus menumpang di rumah orang lain.
Jauh di dalam lubuk hatinya, tersimpan kerinduan mendalam pada kampung halamannya.
Abah adalah orang asli Garut yang merantau demi mengadu nasib.
Namun, kenyataan pahit membuatnya sangat jarang bisa pulang.
Untuk sekadar mengisi perutnya sendiri saja susahnya bukan main, apalagi mengumpulkan uang untuk ongkos pulang atau mengirim nafkah ke keluarga di kampung.
Kisah Abah Sobandi adalah potret pilu perjuangan seorang lansia yang menolak mengemis di masa tuanya.
Di tengah hiruk-pikuk pasar, ia terus bertahan memeluk erat sisa-sisa harapan dari mainan tradisional buatannya, berharap esok hari akan ada secercah rezeki yang menghampiri.