Once you realize that anything can happen; sickness, death, lose your job... Literally, anything in the blink of an eye, you become very humble. Tables turn and that's how crazy life can get.
Always stay humble, and be grateful.
Menteri Keuangan RI periode 2013-2014 sekaligus ekonom senior, Chatib Basri, bicara mengenai kondisi perekonomian Indonesia. Termasuk biang kerok rupiah terus terpuruk, apa yang harus dilakukan Menteri Keuangan, sampai perbandingan dengan kondisi krisis 1998.
| Narasi Daily
#intinyadeh aktris Izzi Isman servis HP ke iBox cabang BXC2, ganti batre.
Pas diambil, diliat histori screen time, ada penggunaan app gallery di jam HP masih diservis, bahkan selama 14 menit.
Indikasi breach of privacy, ngubek2 gallery customer. Nuntut penjelasan pihak iBox.
Gw termasuk yang selalu ngerasa ada yang aneh tiap masuk bioskop. Air putih botolan yang di Indomaret cuma 3 ribuan, di bioskop dijual 22 ribu. Mana tumbler juga dilarang masuk.
Gw selama ini mikir itu cuma "template bioskop" karena kebanyakan gitu. Ternyata pas gw bongkar lapkeu XXI, ini bukan sekedar iseng, tapi hasil desain yang strategis.
Sepanjang 2025, XXI (kode saham CNMA) cetak pendapatan sekitar Rp5,86 triliun. Dari situ, tiket nyumbang Rp3,6 triliun, dan makanan-minuman Rp2 triliun.
Coba resapi. Dari lima koma sekian triliun, dua triliunnya dari popcorn, soda, sama air botolan tadi.
Pasti ada yang nanya: kenapa nggak naikin harga tiket aja kalau mau cuan? Kenapa harus lewat snack?
Jawabannya ada di satu hal yang jarang dipikirin penonton. Tiket bioskop itu bukan sepenuhnya punya bioskop. Di model global, studio film ngambil potongan gede dari penjualan tiket, apalagi di minggu-minggu awal rilis. Angkanya bisa 60-70% lari ke studio (ini pola di pasar US, gw belum nemu rincian kontrak XXI yang dipublish).
Jadi dari tiket Rp50 ribu, yang nyangkut di kantong bioskop tipis.
Nah, makanan dan minuman beda cerita. Itu 100% punya bioskop, nggak dibagi ke siapa pun.
Dan marginnya brutal. Di chain gede kayak AMC sama Cinemark, margin F&B tembus 80 persenan. Popcorn yang modal bikinnya recehan bisa dijual dengan markup ratusan persen.
Ini namanya model "razor and blades". Sama kayak Xbox yang dijual rugi biar lo beli gamenya. Atau printer murah tapi tintanya mahal selangit.
Tiket itu umpan. Yang lo bayar pas haus dan laper di dalem, itu mesin duitnya.
Terus kenapa tumbler dilarang? Gw mau cerita sesuatu dulu.
April kemarin, XXI ngebolehin tumbler masuk. Dibungkus jadi kampanye lingkungan, "Save the Planet". Mereka bahkan klaim udah bantu ngurangin lebih dari 20 ribu kemasan plastik. Tanggal 6 Juni kemarin, kampanyenya kelar. Larangan balik lagi. Sehari kemudian, tweet kak @americhanoo_ viral.
Detik ketika lo masuk bioskop itu otomatis jadi captive audience. Nggak ada Indomaret di bioskop, nggak ada warung. Cuma ada satu penjual, dan dia yang nentuin harga. Air 22 ribu jadi masuk akal buat mereka, bukan buat lu.
Yang bikin gw mikir, ini nggak murni soal serakah.
Ada riset ekonomi yang nyimpulin snack mahal justru bikin harga tiket bisa ditahan murah. Yang nyubsidi tiket murah lo ya orang-orang yang jajan popcorn. Penonton dibelah dua: yang cuma nonton, sama yang nonton plus jajan.
Dan di Indonesia, XXI punya posisi industri bioskop yang bikin model ini makin kuat. Pas IPO 2023 mereka punya sekitar 225 bioskop, jauh di atas CGV (71) sama Cinepolis (60). Akhir 2025 udah 267 bioskop dan 1.388 layar.
Kalau satu pemain nguasain mayoritas layar, daya tawar lo sebagai penonton makin kecil. Istilahnya yak, terima aja lah kenyatannya gini hehe.
Jadi pas lo kesel liat air 22 ribu, perasaan diperes lo itu nggak salah. Lo emang lagi bayarin separuh ekosistem bioskop dari satu botol air.
Tapi yang lebih nyangkut di kepala gw: kalau snack mahal itu yang nahan tiket tetap murah, lo rela tiket naik asal boleh bawa tumbler sendiri? Atau biarin aja kayak sekarang?
@iPopBase klo bisa cari yg versi festival-nya. Ternyata stlh sampe yogya mereka 'hahahihi' yg ga rilis di versi retail manapun pdhl uda label 18+ 😅
klo kena cut di bioskop make sense lah, yg ganjel pdhl kan kita uda beli yg rilis fisik