πΌππππππππΌπ.α Tumpah ruah madah-madah tertutur dari mulut sang penipu, terdengar palsu, sungguh mengganggu. Dirinya itu jua sang pendosa, hentikan saja.
α
Tapi entah kenapa, Sangaji rasa, Hansa lebih dari ituβ
Tunggu, kenapa ia terlihat seperti sedang jatuh hati?
"Errrβ itu, gue.. nggak tau, Sa.." jawab Sangaji singkat seraya mengalihkan pandangan.
| @penologi
α
α
(c.)
dan terpaksa harus menanggung perbuatan bodohnya itu. Jadi, jika ditanya apakah Sangaji menyukai Olivia, jawabannya adalah 'tidak'.
Ya, Olivia memang sangat cantik dan manis, banyak lelaki di luar sana pun memuja Olivia.
α
α
Namun entah mengapa, rasanya Sangaji harus memprioritaskan Hansa lebih dari siapapun.
"Pacar gue.. ya Olivia, lah?"
Sangaji semakin mendekatkan diri saat pemikiran buruk menghantam, "Tapi lo lebih penting dari dia, Sa. Jadi agaknya bingung.."
α
@2DimensiMenfess β β
/ Hai. Barangkali anak-anak IOC yang berstatus mahasiswa ingin bergabung? Mari kita sama-sama bersedih di tengah gempuran tugas.
β β
α
Mungkin, ucapannya terdengar sedikit jahat, tetapi pemuda berambut perak itu hanya berkata apa adanya. Toh, orang yang mendengarkan adalah Hansa.
Seorang Hansa yang selalu ada untuk Sangaji, seorang Hansa yang sangat Sangaji sayangiβ sebagai sahabat karibnya.
| @penologi
α
α
Kebahagiaan Hansa adalah kebahagiaan dirinya juga. Sudah seharusnya sahabat dekat merasa demikian, bukan?
"Ya iyalah, gue pengen bikin lo seneng. Lagian mau beliin pacar gue juga.. ngapain, gitu. Rasanya lebih worth it jajanin lo ketimbang dia."
α
α
lalu meminta izin pada pemilik rumah sebelum melangkah masuk ke dalam.
"Semangat amat yang mau makan es krim," celetuk Sangaji menanggapi ucapan Hansa perihal ketidaksabaran pemuda berambut merah delima itu. Menit selanjutnya, ia rangkul Hansa, menarik pemuda itu mendekat.
α
α
Beberapa menit berlalu, setelah es krim rasa cookies and cream pesanan Hansa sudah ada di genggaman, Sangaji sampai di tempat tujuan. Diketuknya pintu rumah Hansa, dan dengan lantang, Sangaji memanggil nama sang tuan, "Saaa, Hansaa."
| @penologi
α
α
Sangaji langkahkan kaki keluar dari kamar, dengan pakaian yang telah rapi. Penampilan itu sontak mencuri perhatian sang kakak yang baru saja pulang dari kantor, "Yee, rapi amat, dek. Mau ke mana kamu?"
"Mau ke rumah Hansa, main." jawabnya, lalu beranjak dari tempat.
α