Guys, episode ini direkam waktu rupiah masih di Rp17.683. Lima hari kemudian hari ini rupiah sudah di Rp17.845. Bergerak ke arah yang sama setiap hari.
Tapi yang tidak berubah:
pesan resmi dari pemerintah bahwa semuanya baik-baik saja.
Dan tiga ekonom Awalil Rizki, Yanwar Rizki, dan David Adrison dari UI akhirnya buka-bukaan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Dan ini analogi yang paling tepat untuk memahami kondisi kita sekarang:
Kita sakit.
Tapi kita bilang kita sehat.
Kita tidak punya uang.
Tapi kita bilang kita kaya.
Rupiah melemah itu bukan penyakitnya itu gejalanya.
Seperti demam pada orang yang kena infeksi.
Demamnya bukan masalahnya.
Infeksinya yang masalah.
Dan kalau kamu cuma minum paracetamol tanpa mengobati infeksinya demamnya akan terus kembali.
Pertanyaannya: apa infeksinya?
Dan ini diagnosis paling jujur dari tiga ekonom itu:
Masalah pertama denial yang sistematis.
Yanwar Rizki yang sudah di pasar modal sejak krisis 97-98 bilang satu hal yang sangat penting:
kebanyakan negara lain yang mengalami kesulitan mereka mengakuinya.
Mereka menyatakan sense of crisis.
PM Singapura Lawrence Wong langsung ngomong ke rakyatnya:
kita akan menghadapi masa
yang lebih buruk dari tahun 2000.
Bersiap-siaplah.
Indonesia?
Pejabat kita bilang ekonomi tumbuh 5,61%. Fundamental bagus.
Tidak ada masalah.
Purbaya tersenyum sambil bilang rupiah akan ke Rp15.000 dalam 30 hari.
Dan pasar membaca semua itu.
Pasar tidak bisa dibohongi dengan senyuman.
Masalah kedua โ fiskal yang bocor dari segala arah.
David Adrison dari UI menyebut angka yang paling mengerikan: 23% dari penerimaan pajak kita habis hanya untuk cicilan bunga utang.
Bukan pokoknya.
Bukan investasi.
Bukan infrastruktur.
Hanya bunga.
Analoginya: kepala keluarga yang gajinya UMR tapi hampir seperempat gajinya langsung keluar untuk bayar bunga pinjaman sebelum bisa beli beras.
Dan keluarga ini masih terus makan di luar, bangun ini-itu yang tidak produktif, dan beli barang-barang yang tidak menghasilkan.
Dan kemampuan Indonesia mengonversi pertumbuhan ekonomi menjadi pajak tax ratio kita hanya sekitar 8-9%.
Artinya dari setiap Rp10 juta aktivitas ekonomi yang terjadi, hanya Rp900.000 yang bisa jadi pajak.
Ini sangat rendah.
Dan terus melemah.
Masalah ketiga โ data yang tidak bisa dipercaya.
Ini yang paling mengejutkan.
Awalil Rizki menyebut sesuatu yang sangat fundamental: pertumbuhan ekonomi 5,61% diklaim tapi pajak kontraksi 10%.
Industri manufaktur diklaim tumbuh di atas 5% tapi konsumsi listrik turun hampir 1%.
Secara logika ekonomi dasar ini tidak mungkin.
Manufaktur yang tumbuh pasti
memakai lebih banyak listrik.
Ekonomi yang tumbuh pasti
menghasilkan lebih banyak pajak.
Kalau keduanya tidak terjadi salah satu
angkanya tidak benar.
Dan investor asing punya analis yang jauh lebih canggih dari pejabat kita.
Mereka membaca inkonsistensi ini. Dan mereka pergi.
Dan ini tentang kenapa rupiah melemah bukan karena Soros, bukan karena asing:
Yanwar Rizki yang hadir langsung saat krisis 97-98 โ menjelaskan sesuatu yang sangat penting tentang mekanisme tekanan mata uang.
Waktu 1997 Soros menyerang mata uang Asia karena dia melihat perbankan Asia over-exposure.
Dia melihat celahnya dan masuk.
Tapi yang membuat celah itu ada bukan Soros tapi kondisi internal ekonomi Asia sendiri yang sudah bermasalah.
Sekarang 2026 yang menekan rupiah bukan hedge fund asing.
Yang menekan rupiah adalah kepercayaan yang terus turun dari dalam negeri sendiri.
Buktinya: dana pihak ketiga di perbankan yang naik justru dalam bentuk valuta asing.
Artinya orang Indonesia sendiri yang hidup di sini,
yang kerja di sini sudah mulai
menukar rupiah mereka ke dolar.
Bukan orang asing yang melarikan uang.
Tapi rakyat Indonesia sendiri yang tidak lagi percaya pada mata uang negaranya sendiri.
Dan ketika kepercayaan dari dalam sudah mulai goyah kepercayaan dari luar akan jauh lebih cepat hilang.
Dan ini perbedaan paling mendasar antara krisis 1998 dan kondisi 2026:
Tahun 1998 masalahnya ada di sektor swasta. Perbankan dan konglomerat yang over-exposure dengan utang valuta asing tanpa hedging.
Pemerintah dan fiskal saat itu masih relatif bersih.
Sri Mulyani saat itu masih di UI dan para teknokrat bisa meyakinkan dunia bahwa pemerintah bisa dipercaya.
Tahun 2026 masalahnya justru ada di fiskal pemerintah sendiri. Sektor swasta relatif baik.
Tapi ketika masalahnya ada di pemerintah siapa yang akan dipercaya untuk memperbaikinya?
Tidak ada pihak ketiga yang bisa masuk melalui pemerintah seperti 1998.
Karena justru pemerintahlah sumber masalahnya.
Dan ini yang paling miris paralel dengan Argentina:
David Adrison menyebut Argentina 1980-an.
Rasio utang terhadap PDB Argentina waktu itu hanya 33% jauh di bawah standar berbahaya.
Tapi Argentina gagal bayar.
Indonesia sekarang: rasio utang terhadap PDB 40%.
Pemerintah terus bilang ini aman karena jauh di bawah 60%.
Tapi yang menentukan apakah kita bisa bayar bukan rasio utang terhadap PDB.
Yang menentukan adalah kemampuan membayar dari penerimaan pajak.
Dan debt service ratio kita cicilan bunga utang terhadap penerimaan pajak sudah di 23%.
Bandingkan dengan India yang debt to GDP-nya 80% tapi debt service ratio-nya jauh lebih rendah karena tax ratio mereka jauh lebih tinggi.
India bisa bayar.
Indonesia makin tertekan membayar.
Dan ini sinyal paling mengerikan yang sudah muncul di jalanan:
Yanwar Rizki menyebut sesuatu yang sangat penting yang dia pelajari dari koleganya di BIN pada krisis 2008:
"Kalau kriminalitas naik artinya krisisnya sudah menyentuh rakyat biasa.
Tidak cuma di bursa."
Sekarang buka FYP. Penuh begal.
TNI ikut memburu begal yang kata mantan jenderal Tubagus Hasanuddin adalah hal yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Indonesia.
Itu bukan kebetulan.
Itu adalah sinyal yang sangat jelas bahwa tekanan ekonomi sudah menyentuh lapisan yang paling bawah.
Dan orang yang tidak punya pilihan lain mulai mencari jalan lain.
Dan ini yang paling pedas dari seluruh diskusi itu:
Awalil Rizki bilang:
tidak ada yang menyelamatkan Indonesia dari krisis-krisis sebelumnya adalah kebijakan pemerintah yang sempurna.
Yang menyelamatkan adalah modal sosial solidaritas rakyat.
Waktu COVID penerimaan Baznas naik lima kali lipat.
Orang yang penghasilannya berkurang masih tetap berbagi.
Orang-orang saling menopang tanpa menunggu instruksi pemerintah.
Tapi modal sosial itu punya batas.
Pinjol sudah 103 triliun dengan NPL 5%.
Kartu kredit terus naik sejak 2024.
Tabungan masyarakat menipis.
Orang sudah tidak lagi menabung untuk masa depan mereka berhutang untuk makan hari ini.
Dan ketika batas itu terlampaui tidak ada modal sosial yang tersisa untuk menahan kejatuhan berikutnya.
Dan ini resep yang tiga ekonom itu rekomendasikan dan sangat berbeda dari yang dilakukan pemerintah sekarang:
Satu โ komunikasi yang jujur.
Akui bahwa ada masalah.
Sampaikan langkah konkretnya.
Bukan denial.
Bukan sugar coating.
PM Singapura bisa melakukan ini.
Kenapa kita tidak bisa?
Dua โ perbaiki fiskal segera.
Moratorium atau setidaknya evaluasi besar-besaran MBG fokus hanya pada 15% masyarakat yang benar-benar kekurangan pangan, bukan semua orang.
Tunda pembelian alutsista yang tidak urgent.
Setiap sinyal penghematan sekecil apapun akan dibaca pasar sebagai tanda keseriusan.
Tiga โ jangan ganggu ekspor SDA.
Kebijakan ekspor satu pintu lewat Danantara boleh sebagai lembaga pencatatan untuk menangkap under invoicing.
Tapi kalau berubah menjadi tengkulak yang mengontrol harga itu akan membunuh penerimaan devisa kita yang paling vital.
Empat โ data yang jujur.
Jangan sembunyikan angka.
Jangan sugar coat data.
Pasar tidak bisa ditipu dengan angka yang inkonsisten.
Dan setiap kali inkonsistensi data terbongkar kepercayaan yang hilang jauh lebih besar dari angka yang coba disembunyikan.
Rupiah melemah terus bukan karena Trump.
Bukan karena Soros.
Bukan karena tekanan eksternal semata.
Rupiah melemah karena pasar baik asing maupun dalam negeri sudah tidak percaya bahwa fiskal kita dikelola dengan benar.
Tidak percaya bahwa datanya akurat.
Tidak percaya bahwa komunikasi pejabatnya jujur.
Tidak percaya bahwa ada penjaga fiskal yang benar-benar independen ketika Menteri Keuangan sendiri bilang dia hanya alat dari kemauan presiden.
Dan kepercayaan tidak bisa dikembalikan dengan senyuman di kamera.
Tidak bisa dikembalikan dengan klaim pertumbuhan 5,61% yang tidak match dengan data pajak dan listrik.
Tidak bisa dikembalikan dengan janji rupiah ke Rp15.000 dalam 30 hari yang probabilitasnya 3-5%.
Kepercayaan hanya bisa dikembalikan dengan kejujuran.
Dengan data yang benar.
Dengan kebijakan yang konsisten.
Dengan pemimpin yang berani bilang:
kita sedang dalam kesulitan dan ini langkah konkret yang akan kita ambil.
Sampai itu terjadi rupiah akan terus bergerak ke arah yang sama.
Coba dipikir.
Cita2 pingin industrialisasi, bikin mobil dan ponsel sendiri
Tp belanja APBN Top 3 nya: BGN, TNI, Polri
Programnya: MBG, Kopdes, Gentengisasi
Budget R&D to GDP cuma 0,28%.
Preman di mana2. Kepastian hukum ga pasti.
Gimana industrialisasi dan investasi bisa jalan?
Ini yg membuat Ronaldo adalah striker terbaik sepanjang masa. Sebab Ronaldo nggak cuma ingin bikin gol, tp juga ingin menciptakan tontonan luar biasa.
Ronaldo ini sering sekali melakukan step-over sehingga Ronaldo bisa menipu dan melewati kiper dan mencetak gol dgn mudah.
Teknik step-over ini jarang sekali dilakukan penyerang2 era sekarang. Sebab mereka banyak dididik utk menembak sesegera mungkin drpd melewati kiper. Alasannya, step-over membuat risiko kehilangan bola dianggap terlalu tinggi.
Solusi menjadikan Meikarta sebagai rusun subsidi memang tampak efisien, tapi secara politik-ekonomi artinya negara menyerap stok properti yang gagal dijual dengan dana publik.
Risiko spekulasi dipindahkan ke APBN, sementara akuntabilitas atas kesalahan desain bisnis menghilang.
Negara dijadikan pembeli terakhir, dan kegagalan komersial di-rebrand sebagai kebijakan sosial.
Pada akhirnya siapa yang menanggung?
Kita semua. Kita sebagai rakyat dan pembayar pajaklah yang menanggung beban kegagalan pasar swasta.
Jika wacana ini terealisasi, ini menjadi bukti bahwa pilihan kebijakan secara konsisten melindungi kegagalan elite, sementara risikonya selalu dipindahkan ke publik.