@acteions Harland hanya tertawa mendengar pertanyaan soal 𝘵𝘦𝘣𝘢𝘭. Ia pun turut melengang ke ruang makan seolah-olah sedang berada di kediamannya sendiri.
“Jadi, apa kabar?” tanyanya sekonyong-konyong begitu duduk.
@acteions “Maaf, ya, Cayangku,” balas Harland yang justru terhibur oleh rasa kesal itu. Satu kecupan pun didaratkan pada pipi Nikolas.
Ia mengiyakan tawaran itu. “Yuk. Kamu juga makan lagi, oke? Aku gak mau makan sendirian.”
@acteions Harland cuma nyengar-nyengir, seolah itu sudah cukup untuk menjawab. Biasalah, memang begitu kelakuannya.
“Bukannya terbang, tapi aku memang gak pernah jauh-jauh dari kamu,” katanya, lalu main masuk dengan santai.
When he finally opened his eyes again, his gaze locked onto Nikolas’s with a weight he’d never shown before. Not with him.
Silence settled between them. The words on his tongue had never felt so heavy. He was hoping his eyes alone could convey what he wanted to say.