Contoh sour grapes. Nyinyir krn jadi pecundang tapi dibungkus dgn analisis ekonomi palsu.
Saat barat menang dan merayakan, narasinya adalah kebanggaan nasional, persatuan bangsa, bla bla bla bla...
Tapi saat negara dunia ketiga menang dan merayakan, narasinya geser jadi miskin, nganggur, nggak punya masa depan.
Pdhl yg merayakan datang dr kelas sosial yg beragam. Mereka merayakan krn menganggap sepak bola adl identitas bukan cuma hiburan. Mereka merayakan bukan indikasi bahwa mereka bangsa pengangguran, tp indikasi adanya solidaritas sosial, kekuatan bertahan dr segala kesulitan.
Justru manusia model gini harus malu, krn sebuah tim yg didukung oleh kapitalisme industri sepak bola terbesar di dunia malah kalah dari tim yg mulanya lahir dr rahim keterbatasan ekonomi.
Lalu cara termudah bagi manusia sayap kanan2 untuk menghibur diri adl menyerang kondisi sosial-ekonomi negara pemenang.
Pecundang!
Bahaya terbesar dari konten rage bait gini adalah oversimplified masalah demi engagement. Narasi "tanah sendiri kok dilarang" dipake utk memicu kemarahan emosional. Sesuatu tetap perlu diberi konteks, tujuannya supaya bikin orang paham, bukan jadi marah.
Faktanya, setiap kepemilikan tanah di Indonesia terikat hukum tata ruang. Mengubah sawah menjadi tambak udang secara ilegal melanggar hukum karena mengancam sektor pangan dan ekosistem lingkungan.
Tambak udang itu menghasilkan limbah; kalau tanpa izin dan amdal, justru berisiko merusak tanah warga di sekitarnya.
Halah cuman karena spotlightnya ngarah ke sebongkah priveleged konglo dicemplungin penjara pada ngamuk klean. ASN guru, nakes, birokrat, pekerja lapangan yg diperes keringetnya sama negara tiap hari itu ga kurang kok intelektualitas dan integritasnya.
Indonesians have long passed the era of proud nationalism and big thinking, as described in Bevins' The Jakarta Method and van Reybrouck's Revolusi.
That was the 1950s and 1960s, the times of the Asian-African Conference, the Bandung Spirit, CONEFO, and GANEFO, when Indonesians dreamed big and stood tall on the world stage.
Today's Indonesians are the product of Orde Baru's 32 years' rule: small-minded, insecure, and having an inferiority complex. Some have even developed oikophobia, self-hate against themselves and their collective identity as a nation.
That's why, in the 2020s, we see hashtags like #IndonesiaGelap or #KaburAjaDulu trending, alongside Indonesian shamelessly pleading on X for foreigner to "adopt" them, publicly offering to swap citizenship for roles as domestic helpers. They hate being Indonesian to the point they prefer to be a babu.
A nation of collies and the collie among nations.
Sad. 🙁
🎁Arknights: Endfield Global Social Media Followers Have Reached 10 Million!
Thank you to every Endministrator for your interest and support. Let us forge ahead side by side.
Follow us @AKEndfield, and repost this post for a chance to win great rewards!
▼// Event Rewards
Arknights: Endfield · Character Acrylic Standee(Random) x 100
▼// Event Period
Mar 23, 2026 –Mar 30, 2026(UTC+8)
▼// Event Rules
https://t.co/gaq4EXbaUQ
▼//Download game from official website
https://t.co/WWjPrvOqNr
#ArknightsEndfield #Endfield
Bukan berarti membela sistem interventionism. Tapi mengganti lembaga yang bisa diawasi oleh legislatif dan undang2 (which is, tbf, corrupt) dengan lembaga yang tujuannya adalah pure profit (swasta, neoliberalisme) tanpa pengawasan legislatif dan yudikatif bukan lah solusi
Sama kayak kasus bensin ya. Karena swasta pasang harga bensin murah akhirnya pasar diintervensi dengan harga minimal bensin sehingga Pertamina bisa nampak jualan bensin lebih murah. Sekarang di-case listrik, sekali lagi, pasar diintervensi dengan PLTS dibatasi karena PLN oversupply. Semua akrobat di lakukan demi menyelamatkan perusahaan yang kalau rugi ditanggung uang pajak.
Makanya aku lebih setuju konsep BUMN ini ditiadakan. Tarik garis batas agar pemerintah tidak bisa sembarangan membuat regulasi yang secara umum merugikan masyarakat karena adanya konflik kepentingan. Serahkan semua ke mekanisme pasar.
Dan lagi dengan meniadakan BUMN kita hemat anggaran satu kementerian. Uangnya bisa dipake di tempat lain yang lebih substansial.
Fenomena ini pernah ditulis Adorno dalam The Stars Down To Earth. Ketika masyarakat mulai meninggalkan agama sebagai bentuk "irasionalitas" karena masyarakat modern yang semakin rasional, tapi muncul irasionalitas baru dalam bentuk horoskop dan tarot.
Jangan-jangan manusia dalam kadar yang banyak atau sedikit, tetap membutuhkan irasionalitas dalam hidupnya? Walaupun Adorno melihat bahwa hal ini terjadi karena alienasi (ya dia kan marxis yak). Hal ini memberikan manusia kenyamanan akan pencarian makna, walaupun berupa simplifikasi jawaban serta lompatan logika.
I researched a bit about the United States of Indonesia when making this map and honestly it's really funny for Indonesians in the comments to praise what is essentially a half-assed Dutch ploy to maintain its hold over Indonesia by partitioning and dividing it to hell.