wew. beratnya 715 gr. setelah dicoba ternyata hambar ya, kayak baru ada rasa kalo dikasih gula ya selama ini.
akhirnya tak coba blender kasih SKM sama coklat bubuk terus lagi diisolasi di freezer. tadi nyoba dikit rasanya meyakinkan.
@Nandemonandenai yes, contoh lainnya dari privilage is real. punya safety net kalo art ini gk nutup. tapi gk menutup kondisi kalo banyak juga artist yang punya main job yang mumpuni dulu sehingga art cuma buat nyari tambahan or menjalankan hobinya.
Poster2 tuntutan Aliansi Perempuan Indonesia dalam aksi Tuntut Prabowo Turunkan Harga, ciptakan lapangan kerja, dan hentikan MBG di Jakarta pada Kamis, 18 Juni 2026.
RAKYAT BERHAK MARAH!
Aksi Aliansi Perempuan Indonesia (API), Kamis (18/6/2026) hari ini sempat dihalangi oleh aparat saat melakukan aksi long march menuju titik akhir di Jakarta Pusat. Peserta aksi masih terus maju dan membuka blokade jalan ini.
Arah aksi sempat dibuat bingung karena arahan yang tak jelas. Di cuaca yang cukup panas, para perempuan bersatu menyuarakan berbagai keresahan mereka:
-Tolak MBG.
-Wujudkan janji penyediaan lapangan kerja untuk seluruh lapisan masyarakat.
-Turunkan harga, stabilkan ekonomi.
-Hapus perluasan militerisasi dan dominasi aparat.
-Hentikan represi oleh aparat.
Per pukul 11.18 WIB, peserta aksi masih melakukan aksi long march menuju sekitar Sarinah.
Protes adalah hak!π₯π₯
πΈTim https://t.co/7M6NyBtoFY
bjir kok rame π intinya kita support semua artists kita diantara gencaran AI sampah. terima kasih sudah berkarya untuk semua artist diluar sana βποΈπ¨
tidak mengecilkan usaha yang sudah dilalui artist tersebut untuk sampai ditahap dia sekarang.
ini lebih ketamparan ke gw kayak, "gimana mau sakses kalo masih jajan mulu" π
kepala gw lambat pisan baru sadar ini akun problematik π terus kayaknya komen dia intensinya negatif wkwk tapi gw dablek malah ditanggepin positif wkwkwk ok abis ini mute orangnya lah
Catatan Buat Panitia Chibicon, dari Sesama EO.
Seminggu sebelum acara, kamu lagi asik ngitung hari.
Tiket udah di tangan, hotel udah dibayar, dan tiket kereta Jakarta ke Surabaya juga udah aman.
Terus tiba-tiba malam-malam muncul pengumuman kalau tempat duduk nontonnya diundi lewat gacha. Padahal kapasitasnya cuma buat lima ratus orang doang.
Reaksi wajar pertama kita pasti panik, marah, dan ngerasa dikhianati.
Tapi sebelum kita ramai-ramai ngamuk ke Chibicon, aku mau coba ngomong dari sisi yang sedikit beda.
Aku cuma kebetulan udah cukup lama kerja sebagai event organizer, khususnya posisi show director. Jadi aku tau betapa seringnya keputusan yang kelihatan nggak masuk akal itu sebenernya lahir dari situasi yang jauh lebih ribet dari kelihatannya.
Mari kita lihat dari sisi yang adil dulu. Keputusan untuk memindah sesi PANDAVVA ke Chameleon Hall secara tertutup dengan kapasitas 500 orang itu sebenernya bisa dimengerti.
Over capacity atau kelebihan muatan di sebuah tempat pertunjukan itu sudah masuk ke soal keselamatan penonton. Kalau ruangan terlalu penuh dan terjadi sesuatu, seperti ada yang pingsan atau dorong-dorongan, itu bakal jadi tanggung jawab panitia. Beban itu berat banget, jadi aku ngerti kenapa mereka ambil keputusan ini.
Kita gak perlu mengulang kejadian pilu konser-konser yang memakan korban jiwa di masa lalu.
Sistem gacha atau sistem undian acak juga bukan ide yang sepenuhnya gila. Ini salah satu cara paling netral untuk membagi akses ketika permintaan jauh melebihi kapasitas ruangan. Nggak ada yang bisa bayar lebih buat menang, dan nggak ada yang bisa pamer koneksi orang dalam. Semua orang punya peluang yang sama untuk dapet tiket
Jadi, masalahnya bukan di keputusannya.
Masalah utamanya ada di jam berapa keputusan itu diumumkan ke publik. Pengumuman ini baru keluar sepuluh hari sebelum acara dan disebarkan malam hari. Saat itu banyak fans sudah terlanjur booking tiket kereta, penginapan, bahkan sampai ambil cuti kantor.
Lebih parahnya lagi, sampai detik pengumuman itu keluar, rundown mereka aja belum jelas. Orang-orang terpaksa beli tiket dua hari karena nggak tau PANDAVVA bakal tampil di hari yang mana.
Ini hal yang wajar untuk nggak bisa dimaklumi.
Prediksi jumlah crowd atau penonton untuk PANDAVVA itu harusnya udah bisa dilakukan dari jauh-jauh hari. Komunitas mereka itu besar, vokal, dan antusiasmenya sudah terbukti di berbagai event sebelumnya.
Kalau kekhawatiran soal kapasitas ini baru muncul seminggu sebelum acara, pertanyaannya adalah proses risk assessment atau penilaian risikonya ke mana aja selama ini.
Mitigasi risiko crowd itu harusnya udah masuk di tahap perencanaan paling lambat sebulan sebelum hari H. Bukan cuma seminggu sebelum acara dimulai. Apalagi diumumkan tengah malam.
Yang paling dirugikan di sini jelas bukan orang lokal Surabaya yang bisa lebih fleksibel. Dampak paling besar justru kena ke mereka yang udah berkorban total sejak awal.
Mereka beli tiket dua hari karena buta jadwal, pesan tiket perjalanan yang mahal, bayar hotel, sampai izin kerja atau sekolah.
Sekarang mereka malah dikasih pilihan yang sulit. Mereka harus ikut gacha dan berharap beruntung, atau terpaksa pulang dengan tangan kosong tapi dompet udah terlanjur jebol.
Aku nggak mau pura-pura punya jawaban paling sempurna untuk masalah ini. Orang yang bikin acara itu kerjanya emang di antara banyak variabel yang nggak selalu bisa dikontrol. Mulai dari urusan tempat, talent atau pengisi acara, sponsor, panitia lokal, cuaca, sampai jumlah penonton yang meledak.
Tapi satu hal yang bisa dilakukan lebih awal adalah komunikasi yang jelas.
Semakin besar nama talent yang kamu undang, semakin besar juga tanggung jawab komunikasimu ke audiens mereka.
Semoga panitia Chibicon mendapatkan pelajaran berharga dari kejadian ini. Pandavvarna maupun fanbase lainnya, sebesar dan sekecil apapun, mereka semua berhak dapet komunikasi yang fair untuk bisa bertemu oshi-nya.