The pattern is unforgiving to procrastinators. In compounding, the earliest contributions do a disproportionate share of the work; a decade of delay costs far more at the end than it appears to at the beginning.
#Danantara#Indonesia#Norge#Asean#INA https://t.co/AnaiblFYAL
Piramida tertua di dunia kemungkinan besar ada di Jawa Barat, diperkirakan berusia antara 16.000 hingga 27.000 tahun. Bukti lukisan tertua yang pernah ditemukan ada di Sulawesi, berusia 67.800 tahun, atau sekitar 2.700 generasi sebelum kita.
Ini menjadi bukti yang berpotensi menulis ulang sejarah peradaban manusia.
Pertanyaannya sederhana: apakah kita punya kapasitas untuk menulis ulang sejarah dunia itu?
Indonesia memiliki ribuan kekayaan intelektual. Tapi kita belum cukup serius mendokumentasikan, mentranslasi, dan menarasikan kebijaksanaan yang kita warisi.
Di tingkat dunia (setidaknya melalui World Heritage Sites dan Memory of the World UNESCO) hanya ada 36 cagar budaya kita yang tercatat. Padahal di dalam negeri, ada ratusan hingga ribuan yang menunggu untuk diceritakan.
Manifestasinya terlihat jelas dalam judul buku. Asia Tenggara (dan Indonesia sebagai bagian terbesarnya) mewakili 9% populasi dunia.
Tapi narasi kita dalam bentuk buku tidak sampai 1%.
Dari 150 juta buku yang beredar di dunia, hanya sekitar 300.000 yang membahas Asia Tenggara.
Sejarah sering kali ditulis oleh yang menang dalam konteks apa pun, termasuk kognisi dan literasi. Sebuah peradaban yang tidak menuliskan dirinya sendiri, pada akhirnya akan dituliskan dan didefinisikan oleh peradaban yang “menang”.
Dan di situlah PR panjang kita yang sesungguhnya: adakah keberanian dan ketekunan untuk mendokumentasikan, menerjemahkan, dan menceritakan narasi kita kepada dunia.
@kampusikj@fadlizon@kemenbud
Saya merasa terhormat dapat menjadi bagian dari Harvard Center for International Development dan kini juga bergabung dengan the London School of Economics and Political Science sebagai Visiting Professor of Practice di CETEx (Centre for Economic Transition Expertise).
Yang paling berharga dari kesempatan ini adalah ruang untuk terus bertukar gagasan, memperluas cara pandang, dan belajar dari sejawat.
Ilmu pengetahuan mengajarkan saya bahwa dunia selalu lebih rumit daripada teori yang kita gunakan untuk menjelaskannya.
Itu sebabnya saya selalu merasa belum lulus dari sekolah ketidaktahuan. Belum selesai juga bodohnya.
Dan mungkin itulah yang membuat belajar menjadi menarik.
https://t.co/CqOeRrB7f6
Gojek co-founder Nadiem Makarim was once the face of Indonesia's tech boom.
Now, his trial is exposing the political risks of doing business under President Prabowo Subianto. https://t.co/Qzr6moqR4p
📷: Asprilla Dwi Adha/Antara Foto
Echoes Beneath the Thames: How a 3.2-mile experiment in 1890 London built the operating system of the modern city - Fahlevi Thing https://t.co/ZbnRHPszV7
Gue totally ga setuju btw. I think PTKP should be lowered if not scraped, dan tambah bracket yg pajaknya kecil bgt 1-2%. Bukan masalah jumlahnya, lebih supaya semua orang ngerasa ikut kontribusi langsung, dan ikut sebel kalo duit pajak dipake gajelas.
Keputusan pemerintah harus dihormati.
Namun dalam demokrasi, ia tidak luput dari komentar maupun kritikan.
Di satu percakapan dengan Nadiem, Ia pernah bilang bahwa dirinya bekerja untuk kepentingan generasi berikutnya. Ia masuk dengan sebuah blueprint dan impian: membangun ulang lingkungan bagi ratusan ribu siswa dan guru, membangun kembali pondasi dari mana sebuah bangsa belajar. A revolutionary in the making.
Saya mengenal keluarga Makarim selama puluhan tahun. Dalam semua waktu itu, di seluruh anggotanya, ketidakberesan tidak pernah menjadi sesuatu yang saya saksikan atau rasakan. Tidak sekali pun. Nadiem selalu menjadi, sejauh yang saya tahu, persis seperti apa yang ia katakan hari itu: seseorang yang bekerja untuk masa para penerus bangsa yang belum bisa bersuara.
Setahun tujuh bulan kemudian, kita ada di sini.
Kesalahan Nadiem mungkin adalah bahwa kenaifannya disalahpahami sebagai kurangnya rasa hormat terhadap memori institusional (kebiasaan sebuah lembaga dalam pola komunikasi, kerja, dan koordinasi yang telah mengakar puluhan tahun).
Kenaifan ini tidak unik. Ia niscaya akan menjangkiti siapapun dari luar yang diminta atau ingin berkontribusi untuk bangsa dan negara.
Namun tidak bisa dipungkiri bahwa keputusan pemerintah telah dan akan berdampak pada beberapa hal yang cukup struktural:
1. Proses penegakan hukum dan translasi ketidakpastian menjadi risiko. Bayangkan Anda hendak berinvestasi ke sebuah negara di mana hukumnya tidak jelas — di mana pendiri unicorn pertama Indonesia harus menghadapi 18 tahun atas dasar konstruksi hukum yang sulit dipertahankan oleh banyak ahli hukum. Pertanyaannya bukan lagi "Apakah Nadiem salah atau tidak?" Tapi: "Apakah ini tempat di mana kita bisa membangun?"
Ketika hukum tidak memberikan kepastian, negara kehilangan kemampuannya untuk mengukur dan mengomunikasikan risiko kepada dunia luar. Ketidakpastian hukum adalah risiko yang tidak bisa dipricing — dan modal global tidak bersedia tinggal di tempat yang tidak bisa menjawab pertanyaan paling dasar: seberapa besar risikonya, dan siapa yang terlindungi ketika jawabannya tidak jelas?
2. Pengedepanan inovasi teknologi. Pelajaran yang paling mudah diserap dari sidang ini adalah: main aman. Jangan punya keyakinan. Jangan berinovasi. Pilih yang paling aman secara administratif, bukan yang terbaik. Ketika pilihan teknologi bisa dijadikan dakwaan, ketika gagasan baru bisa menjadi jebakan, tidak ada ruang lagi bagi ide untuk tumbuh, inovasi untuk dipeluk, atau perubahan untuk disambut. Yang tersisa hanyalah birokrasi yang memilih selamat atas segalanya. Bahwa konformis adalah postur yang paling aman di dalam sistem.
3. Masa depan talenta bangsa. Yang paling fatal: kasus ini menjadi jera bagi mereka yang seharusnya melanjutkan bangsa ini. Bahwa seseorang yang berpendidikan, yang berniat baik, yang berani mencoba membangun dari nol akan dimuntahkan mentah-mentah oleh negara yang berusaha ia tolong.
Platform ini dibangun untuk mendiskusikan ide, bukan peristiwa. Namun episode yang kita saksikan tidak lepas dari sesuatu yang katalitik, untuk kepentingan nation building ke depan.
Dan kualitas itu, keinginan untuk memperbaiki sistem yang mungkin belum berkenan, mendongkrak edukasi bangsa, adalah salah satu yang paling langka di sebuah birokrasi.
Menjadi tragedi tersendiri ketika upaya mengintelektualisasi bangsanya, menjadi batu rajam untuk dirinya sendiri.
No one is perfect.
May the great force be on the right side of history.
Strait of Hormuz was open before US bombing.
Several bombs and Iran retaliations later, it's now open again but now Iran sanctions are lifted plus each ship passing must pay a fee.
Reminds of when Man Utd tried to sign Marouane Fellaini, refused the price tag, only to panic and sign him later at higher price.