Potong 2 hari MBG tiap bulan aja udah nutup tekornya, malah surplus lagi 400 M. Tapi kan kesehatan cuma prioritas pendukung di negeri yang dipimpin presiden 10+6=17 ini ๐
Lagian, permasalahan di hulunya ini adalah belum optimalnya fungsi puskesmas untuk pencegahan penyakit akibat SDM dan sarana prasarana terbatas. Ya ada sih CKG, tapi cuma lomba input-inputan doang. Program BPJS? Prolanis doang seingatku ๐ค
Puskesmas itu, beban kerja luar biasa tinggi, pekerjaan administrasi banyak, tetap jadi klinis, layanan promotif preventif kuratif rehabilitatif dijalankan
Semua itu dengan dana sangat minim
Mereka di FKTP (Puskesmas / Klinik / TPMD) itu hebat2 tapi dihargai rendah di PerMenKes
Di puskesmas dulu waktu mau akreditasi ada diajarkan itu namanya diagram fishbone, pohon masalah, RCA atau sejenisnya untuk mengetahui pokok masalahnya dan mencari solusinya.
Keknya di pemerintahan kok kaya ga jalan ya.
Masalahnya apa, solusinya apa.
Jadi dr umum 7 thn di Gorontalo, urip ayem tentrem. Akhirnya memutuskan sekolah lagi karena ditanya emak+istri+ketua IDI:
"Ga nyoba sekolah?"
(Tentu dialognya tidak sependek itu)
Nothing to loose, ga ngoyo. Klo lulus alhamdulillah, nek gak lulus yowis lah lanjut slowliving
Hidup itu kompleks, kalau memang perlu, persentase besar tuk ngopi itu gpp, yg penting ga bangkrut
Apalagi jika manfaatnya besar, misal ngurangi sakit (jiwa), hindari pertengkaran (nenangin diri sebelum pulang atau ngadep bos), dll
Yg ga boleh makan uang dan hutan rakyat haha