Sampai jam 230 tadi belum bisa tidur. Seperti roller coaster di kepala.
Jalan jaki ke pinggir jalan raya di depan. Ketemu seorang bapak sedang tidur di emperan warung. Tidak lazim di desa begini.
Dia bangun. Kami ngobrol bersebelahan. "Saya diusir istri. Sudah 6 bulan nganggur," katanya dalam bahasa daerah. Mata berkaca. Pandangan kosong. Eautnya terlihat lelah. Dari rumahnya, sekitar 7 km, jalan kaki sejak lepas magrib. Tanpa uang seperak pun.
Usianya 72 tahun. Sudah puluhan tahun menikah. Anak 3. Cucu 2. Mantan sopir bis. "Nyesal saya membangun rumah di tanah istri," imbuhnya tanpa ditanya.
Pertanyaan lebih dalam urung kuajukan. Lebih banyak menyimak beliau bicara terbata-bata. Sepertinya berat nian isi dada.
Ditawari makan dan minum, gak mau. Ditawari diantar ke tujuannya, menolak. Diajak ke rumah atau dipersilakan tidur di musolah, menampik. Beliau lebih memilih tidur di situ agar pagi nanti bisa menyambangi rumah adiknya yang berjarak sekitar 6 km.
Aku bawakan minum dan makanan sekadar pengganjal perut, dan sedikit uang bekal ongkos pagi nanti. Rupanya beliau masih ingin sendiri. Kupersilakan melanjutkan tidur. Dipeluk suhu 22° selsius selepas hujan dan kepedihan.
@tanyarlfes "kita bisa call ga?"
"Gabisa, nanti kedengeran ama kakakku"
"Balik ke kamar aja, biar kita bisa call an"
Aku gapunya kamar sendiri, kamarnya sharing😭😭😭😭😭
@Cee7805@closedhuman0 As a youngest, gue melihat oldest malah kasian. Dia tuh hidupnya pait, masa ortu ga ngerti parenting, fase ortu merintis karir, tekanan sebagai panutan di keluarga, gapunya backingan kalo ada masalah, harus memikul tanggung jawab yg bukan kewajibannya. Untung kakak gue masi waras