Un fanático del Liverpool se puso a vender réplicas de medallas de ganadores de la Premier League a fans del Arsenal en el desfile…
Pero si retiras la pegatina, dice “Liverpool Champions”
😭🔴
Podo podo isih tim gurem wae do padu bab piala, jumlah piala ro driji tangan wae isih akeh driji tangan kok le do kenceng2 to. Mbok ayo fokus pawon e dewe rasah kepecah fokus mung babagan receh ra penting
Maksimalkan laga terakhir untuk lebih cerewet lagi. Simpan dulu flag identitas kalian, penuhi pagar dengan bentangan keresahan ✊🏽
#G910COLLECTIVE#CROWDOFFUN
@LamidetFm mengutip zenrs, “anda tidak bisa membayangkan situasi tanpa kekerasan ketika society-nya sendiri, masyarakatnya sendiri, penuh dengan praktik-praktik kekerasan. Mungkin PSIM enggak tanding, PSS enggak tanding, tapi di lahan parkir setiap hari ada aja yang berkelahi.”
Awalnya gua kira nonton short video di HP itu bisa menjadi pengisi waktu luang. Tapi setelah baca jurnal ini, gua baru tau efeknya bisa berbahaya untuk otak.
Penelitian dari Tiongkok ini meneliti 48 orang, terus dilihat kebiasaan mereka nonton short video, lalu dicek fungsi atensi & kontrol diri, didukung juga dengan pemeriksaan EEG.
Hasil penelitian ini cukup bikin gue kaget antara lain:
-Semakin sering nonton short video, semakin turun kemampuan otak buat kontrol diri
-Fungsi eksekutif otak, terutama atensi, juga menurun
Short video ternyata berasosiasi dengan overstimulasi dengan karakteristik cepat, singkat, dan penuh reward instan. Lama-lama otak jadi kebiasaan butuh stimulus cepat, sehingga bikin fokus jangka panjang makin susah.
Yang menarik dari studi ini adalah:
Semakin tinggi tingkat kecanduan (adiksi) untuk menonton short video di smartphone, berasosiasi dengan semakin rendah tingkat pengendalian diri (self control)
𝗞𝗘𝗦𝗜𝗠𝗣𝗨𝗟𝗔𝗡
Kebiasaan nonton short video ternyata berkaitan dengan penurunan self-control dan turunnya fungsi eksekutif otak, terutama kemampuan atensi.
Guys lebaran 2016 ada kejadian yang sampai sekarang gw rasa belum pernah benar-benar dipertanggungjawabkan secara serius.
Namanya tragedi Brexit.
Bukan Brexit Inggris.
Tapi Brebes Exit pintu keluar tol Brebes Timur.
Ceritanya begini.
Pemerintah baru saja resmikan ruas tol Pejagan-Brebes Timur.
Bangga banget.
Dipamer-pamerin.
Jokowi gunting pita.
Janji waktu tempuh Jakarta ke Jawa Tengah bakal jauh lebih cepat.
Jutaan pemudik percaya.
Masuk tol semua.
Tapi ada satu masalah yang tidak ada yang pikirin sebelumnya.
Tolnya belum tersambung sampai mana-mana. Ujungnya buntu di Brebes Timur.
Dan begitu jutaan kendaraan keluar dari tol kecepatan tinggi mereka langsung ketemu jalan arteri pantura yang sempit, pasar tumpah, dan persimpangan biasa.
Bottleneck.
Kemacetan total.
Puluhan kilometer.
Tidak bergerak lebih dari 24 jam.
Di dalam mobil suhu Brebes saat itu 33 sampai 35 derajat Celsius. AC menyala terus supaya tidak kepanasan.
Tapi mesin menyala terus bikin gas karbon monoksida dari ribuan knalpot numpuk di satu titik dan merembes masuk ke kabin.
Tidak matikan AC juga tidak aman di panas segitu heat stroke bisa mematikan terutama lansia dan anak-anak.
BBM habis.
SPBU kosong.
Air mineral dijual pedagang dadakan dengan harga berlipat-lipat.
Ambulans tidak bisa masuk karena bahu jalan juga penuh kendaraan yang nekat menyalip.
Hasilnya 12 sampai 17 orang meninggal.
Bukan karena kecelakaan.
Tapi karena keracunan karbon monoksida.
Heat stroke.
Dehidrasi akut.
Kelelahan ekstrem.
Serangan jantung.
Mati karena macet.
Dan ini yang paling bikin gw marah dari semua yang gw baca.
Tidak ada satu pun pejabat yang dimintai pertanggungjawaban secara serius.
Tidak ada audit kebijakan yang dibuka ke publik. Tidak ada penetapan ini sebagai kegagalan sistemik.
Yang ada kalimat klise soal volume kendaraan di luar prediksi. Evaluasi dilakukan setelah kejadian.
Sistem one way, contraflow, e-tol semua itu baru dibenerin setelah orang sudah mati.
Bukan sebelum.
Dan ini polanya selalu sama di Indonesia.
Infrastruktur dibangun untuk dipamerkan.
Diresmikan sebelum siap.
Dipotret untuk kampanye.
Dan ketika ada yang mati di atasnya itu masuk statistik mudik tahunan. Bukan kegagalan kebijakan.
Tol dibangun tanpa mikirin ujungnya kemana. Gerbang tol tidak siap menampung volume.
Tidak ada protokol darurat.
Tidak ada koordinasi antar lembaga.
Polisi di setiap daerah sibuk mastiin kemacetan tidak terjadi di wilayahnya masing-masing akibatnya semua menumpuk di satu titik dan meledak di Brebes.
Kamar Film nyimpulin dengan satu kalimat yang gw rasa paling jujur.
Selama keberhasilan negara diukur dari berapa kilometer tol yang dibangun bukan dari berapa nyawa yang terlindungi tragedi seperti ini akan selalu mungkin terulan
Kita bukan kekurangan jalan.
Kita kekurangan pemimpin yang menghitung nyawa lebih penting dari foto gunting pita.
CROWD OF FUN ANTHEM (TRIBUN YANG SAMA)
Silahkan dihapalkan, diresapi liriknya, dan diamalkan. Sampai jumpa dan berkumpul di tribun yang sama untuk bersenang-senang. 🫶🏼
#g910collective#CrowdOfFun
Bajingan dan biadab kamu @Kemlu_RI. Yg terjadi Iran diserang dg serangan udara lebih dulu. Tidak ada statement mengutuk kepada si penyerang, seakan serangan tersebut lazim dan "dibenarkan".
Pemerintahan apa kalian ini.
Bukan manusia kalian. Kalau sudah pro dg zionis, jgn malu2.
Sudin Nermin, ndak klinis
Ramos striker, Haljeta ball boy
Lawan tim sing luwih main terbuka, cocok karo strategine gastel. Lebih efektif.
PR e tinggal ngadepi tim2 low block meh pize 🫶
Entah berapa regulasi yg dia bypass buat impor pikap
1) Menabrak regulasi impor kendaraan utuh (CBU)
2) Mengingkari regulasi konten lokal (TKDN)
3) Tata kelola impor buruk, pengadaan tanpa transparansi
4) Spesifikasi dikunci 4x4, padahal ada opsi 2x4.
5) +62 bukan pasar captive. Sales market di sini 1% itu pun krn si agrinas yg beli.
6) Indikasi apm tidak terlibat, shg
importir tdk bonafit, terindikasi apm besar yg bersiap bermain tlh ditinggalkan.
7) Waspadai perburuan rente.
8) Asal cepat beli tapi tidak asesmen kebutuhan dg benar.
9) Dukung Quick Win KDMP yg menguras resource negara sampai kecabang-cabang kekuasaan di desa.
10) Kalau dibawa ke KPPU mgkin bisa kena sanksi persaingan usaha tdk sehat
Matur nuwun @LamidetFm untuk ngobrolnya saat akhir pandemi di Nutur Kotagede. Juga @BAWAHSKOR@bajolball@DOM65Band . Akhirnya publish setelah berpuluh bulan purnama. Selalu respek untuk panjenengan semua . "Social Media-Circulated Underground Music and Politics The Case of the Lamidet Society" https://t.co/jSGZI56Ypq