@Yanua02_v2 kalau semua cukup disebut “ancaman” tanpa perlu membuktikan dampak dan membedakan tingkat bahayanya, maka istilah “ancaman” akhirnya hanya jdi label untuk membenarkan apa pun yang ingin kita lawan
sexuality orang, memilih ga nikah, childfree, semuanya dianggap ancaman negara.. tapi yg ngerusak alam, ngeruk, bahkan ngebakar tanah adat, korupsi, nepotisme dan masih banyak hal yg lebih urgent lainnya dibiarin aja?
@Yanua02_v2 jdi bkn ga ngerti justru krna paham logikanya, saya mempertanyakan premisnya. klau korupsi, nepotisme, kerusakan alam, dan LGBT disebut sebagai “ancaman”, jgn berhenti pada “label”. jelaskan ancaman bgi siapa atau trhdp apa, mekanisme dampaknya bagaimana, dan bukti empirisnya apa