@ARSIPAJA sangat disayangkan beliau membuat statement seperti itu, seolah menggampangkan permasalahan yang sedang terjadi pada saat ini.
tolonglah kalau belum bisa memberikan solusi yang paling tepat, kurang-kurangi mengatakan sesuatu yang tidak perlu disampaikan dan memperkeruh keadaan
Indonesia merupakan negara demokrasi, unjuk rasa adalah bagaimana masyarakat menyampaikan suaranya, namun apabila hampir disetiap aksi unjuk rasa selalu ada korban berjatuhan, hal itu membuktikan bahwa ada yang "salah'' didalamnya.
#IndonesiaGelap#kapolri#polisipembunuh#DPRRI
Sebelum kebijakan baru, tarif bea masuk AS untuk produk tekstil dan garmen Indonesia berkisar antara 10%-37%.Penambahan Tarif 10%. Dengan tambahan 10% dari kebijakan resiprokal, maka total tarif menjadi:
20% (10% + 10%) hingga 47% (37%+10%)
AS menerapkan kebijakan Reciprocal Tariffs untuk produk impor dari sejumlah negara. tarif awal Indonesia sebesar 32% ditunda 90 hari dan digantikan tarif interim 10%, bea masuk tambahan ini digabungkan dengan tarif MFN yang sudah ada, sehingga total bea masuk tekstil garmen 47%.
Langkah ini diambil setelah AS memberlakukan tarif tambahan sebesar 145% pada impor dari China, yang dibalas oleh China dengan tarif 125% pada barang-barang dari Amerika Serikat
Pihak China memerintahkan maskapai penerbangannya untuk menghentikan pembelian pesawat Boeing sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat.
Namun disisi lain, kelestarian produk lokal bisa saja terancam karena dibanjiri oleh produk luar negeri, dimana saat ini produk lokal masih cukup kesulitan untuk bersaing.
HAPUS KUOTA IMPOR SEBAGAI SALAH SATU REAKSI PAK PRABOWO DARI ''TARIF TRUMP''
Menurut Donald Trump, defisit neraca perdagangan Amerika Serikat yang kian membengkak diakibatkan oleh negara-negara mitra dagang AS memungut impor tarif yang besar.
Hal yang ingin disorot disini lebih kepada kuota impor yang dihapus karena seperti pedang bermata dua.
Di satu sisi Pak Prabowo mengungkapkan bahwa hal ini bisa menjadi peluang baik karena pelaku usaha dalam negeri bisa mendapatkan bahan baku yang melimpah
Sebagai bentuk respon Indonesia terhadap hal ini, pemerintah bernegosiasi dengan AS agar ditemukan jalan tengah yang yang tidak merugikan salah satu pihak. Dalam usaha negosiasi ini pemerintah Indonesia memberikan semacam "iming-iming" untuk AS, salah satunya adalah KUOTA IMPOR