@kucinghilang_ Nggak. Bukan salah kultur indo. Ini salah temen lu. Dia yg kurang benar mendidik anaknya. Usia 5 tahun itu emang udah bisa makan sendiri, pake baju kaos kaki dan sepatu sendiri. Ponakan gue aja 4 tahun udah biasa lakuin itu kok.
Nggak perlu nyalahin kultur indo. Introspeksi diri.
korea UMR 25 juta protes americano harga 50rb banyak yg setuju, di indo umr 4 - 5 juta protes matcha harga 100rb langsung rame “BERARTI TARGET MARKETNYA BUKAN ELUUUUU”
ga pernah bisa menilai keimanan diri sendiri, apalagi menilai orang lain.
kejadian di atas seolah ada untuk menjadi pengingat atas diriku bahwa hidayah itu sepenuhnya milik Allah.
kita ga pernah tau keadaan rohani kita malam nanti atau tahun depan. bener2 setakut itu… cuma bisa mengupayakan melakukan hal2 yg baik menurutNya.
pernah denger kalau kita merasa diri kita baik, bisa jadi itu sebuah tanda kalau iman kita sedang tidak baik-baik saja.
astaghfirullahaladzim🥺
adegan paling menguras energi di tempat kerja bukan kerjanya, tapi harus bersikap normal dengan orang orang yang sebenernya pengen kita sleding kepalanya
@yappingfess Jule kok ga marah ya dibercandain gt maaf kek u murahan jul😭🙏🏼 cewe normal ada kesentil harga dirinya dibuat jokes begitu. Dia tuh malah kaya jd objek seksual si sapri….tp dia ga ngeh krn dia menikmati(?)
Tren parenting masa kini yg bikin gw gedeg sebagai orangtua. Grup WA orang tua!!
Ya walaupun anak gw masih SD, tapi anak itu musti belajar tanggung jawab sejak kecil. Jujur gw merasa aneh dan risih kalo pengumuman untuk kepentingan sekolah itu cuman di grup orang tua. Jadi yg dihimbau orangtuanya, bukan anaknya.
Kan bisa ya pas di sekolah anaknya dikasih tahu. Urusan dia lupa ga ngerjain , ya itu salah dia dan di situlah saatnya dia belajar yg namanya tanggung jawab dan konsekuensi.
Masa jadwal ulangan aja anak gw ga tau. Setiap ditanya, “kamu tau ga besok kamu ada ulangan ini?”
“Gak tau, belum dibilang sih”
😩😣☹️
sekarang ngerti knp banyak orang bilang kangen jaman sekolah atau kuliah tuh krn kita sm temen2 kita ada di fase yg sama. mau gimana keadaannya kita gk ngerasa sendirian.
adulting feels so lonely, semua orang sibuk sm hidupnya sendiri. fasenya beda, prioritasnya jg.
statement “jangan nikah atau punya anak kalau miskin” itu classist dan dehumanizing. kekhawatiran dan standar pribadi lo gak seharusnya dipaksakan ke orang lain, apalagi dalam hal yang halal. definisi “mampu” juga beda-beda, gak bisa diseragamkan dan gak ada titik akhirnya, rezeki juga gak selalu stabil.
kebayang ada keluarga sederhana bonceng tiga naik motor, main ke alun-alun, makan batagor di rumput sambil ketawa-tawa. lalu anaknya mulai besar dan baca kalimat “orang tuamu seharusnya tidak punya anak karena miskin” atau “bapak lo seharusnya gak nikahin ibu lo” di internet. selama ini dia punya prasangka baik dan kenangan hangat, tapi beberapa kalimat bisa meruntuhkan itu semua, bahkan mengubah cara dia memandang orang tuanya sendiri. hati orang tua mana yang gak hancur, seakan yang dihitung cuman uang, bukan cinta, usaha, dan pengorbanan mereka selama ini. yang gue percaya, any sane parent would want the best for their child, life also doesnt always go according to human plans, there are things beyond our control that cant be reduced to rigid standards.
semua ini bukan berarti kita menolak ikhtiar perencanaan yah, tapi menyederhanakan nilai manusia hanya dari finansial itu gak adil buat buat gue. so please, maybe we can be more careful with our words, cobalah lebih berempati. di balik setiap keluarga, pasti ada usaha, cinta, ceritanya masing-masing yang gak keliatan buat lo, jangan lah direduksi jadi duit, duit, duit
seleksi PNS adalah seleksi yang paling adil dimiliki indo saat ini, even ngalahin rekrutmen OJK, BI, BUMN apalagi swasta2 lainnya FMCG dll. siapa pun esmelon yang mencetuskan dan melaksanakan ide CAT ini patut dikasih penghargaan pahlawan🫡