Di Indonesia, orang tua sering mati-matian nabung buat ninggalin warisan tanah, rumah, atau kos-kosan. Tapi, ada satu warisan antargenerasi (generational wealth) yang paling diremehkan: exposure (paparan dunia luar). Ngajak anak merantau, nyobain makanan daerah yang aneh di lidahnya, ngobrol sama orang beda suku/agama, atau sekadar lihat cara hidup orang di beda kota โฌ๏ธ๏ฟผ
"i'm preparing for the bar exam. what if i fail again? i'm under too much stress. if i fail again this time, i don't know whether i should get a job or try one more time."
๐ฅ for this one, i can definitely say this. if it's your dream, i don't think you have to overthink it. just keep going. as long as you haven't given up, i don't think the word "failure" will follow you because you are continuing to challenge yourself. if it's something you really want, then i think believing in yourself until the end is the right choice. hug~ everyone, hug! hang in there. do what you can
Dari sekian banyak pidato, pidato kali ini bener bener nyesek
Rakyat yang bayar gaji kalian, dikritik malah dibales:
โEMANG GUE PIKIRINโ dan disambut tepuk tangan yang meriah
Figur Seskab dengan segala kontroversinya. Dan bagaimana dia bisa naik pangkat di militer dengan begitu cepat?
#TeddyOut#KembaliKeBarak
sc : forum keadilan tv
Jawaban saya kepada beberapa media berkaitan dicopotnya kepala BGN karena korupsi, yang tidak semuanya dikutip:
๐Saat ini P2G sedang menjalani sidang JR UU APBN 2026 di MK pada frasa Program Makan Bergizi / MBG dalam UU APBN 2026 yang mengambil 20% anggaran pendidikan.
Maaf nih gue harus terpaksa bilang
Emang ada kok cewek yang mager banget buat keluar rumah. Lu kasih dia wifi kenceng, makanan cukup, sama AC nyala 24 jam, dia bisa betah ngendon di rumah sebulan juga santai aja.
Jadi nggak usah kasihan, malah dia lebih enjoy dan bahagia kalau di rumah. Percaya deh ๐น apalagi kalau kulkas penuh.
TRUST ME, NGL
Apa yang dibilang Pak Kumis ini cacat logika ya temen-temen. Straw man namanya, yaitu kekeliruan logika ketika seseorang mengubah, menyederhanakan, atau memelintir argumen lawan, lalu membantah versi yang sudah diubah itu, bukan argumen aslinya.
Pak Kumis menyederhanakan atau mengubah posisi Mas Tyo menjadi sesuatu yang lebih mudah diserang. Mas Tyo bicara soal pembagian tugas dan kewenangan, tapi Pak Kumis malah mengubahnya menjadi persoalan kompetensi wartawan.
Dito Ariotedjo masuk kabinet dengan harta Rp 282 M. Dari jumlah itu, Rp 162 M-nya adalah "hadiah" , 4 rumah + 1 Alphard , dari mertuanya: Fuad Hasan Masyhur, bos travel haji Maktour.
Nggak masalah? Secara hukum boleh. Dilaporkan di LHKPN. Transparan.
Tapi coba pikir ini ,
Tahun 2023, nama Dito disebut di sidang korupsi BTS Kominfo. Saksi mahkota Irwan Hermawan ngaku kasih Rp 27 M ke Dito buat "pengamanan perkara." Dito bantah. Oke. Kita catat.
Tahun 2025, mertua Dito , Fuad Hasan Masyhur, orang yang kasih dia Rp 162 M itu , dicekal KPK. Kasusnya: dugaan korupsi kuota haji Rp 1 TRILIUN. Kantor Maktour digeledah. Barang bukti disita. KPK bahkan menyebut ada indikasi penghilangan barang bukti.
Akibat korupsi ini: 8.400 calon jemaah yang sudah antre 14 TAHUN gagal berangkat haji.
Bukan gagal karena sakit. Bukan karena meninggal. Tapi karena kuota mereka ,yang memang hak mereka , diduga dimainkan orang-orang berduit.
September 2025, Dito dicopot dari kabinet. Belakangan terungkap ia bahkan sudah mengajukan mundur sendiri sesaat setelah mertuanya dicekal.
Januari 2026, KPK panggil Dito lagi , kali ini soal kasus haji. Dito hadir.
Dito bilang: "Sebagai warga negara saya harus patuh hukum."
Serius?
Jadi begini kronologinya:
a. Hidup disubsidi mertua bos travel haji โ
b. Namanya muncul di dua kasus korupsi berbeda โ
c. Mertuanya dicekal KPK, kantornya digeledah โ
d. 8.400 orang tua yang antre belasan tahun gagal ke Tanah Suci โ
e. Dito dicopot, dan sekarang jadi saksi โ
Dan lo tahu kata2 Dito sendiri waktu ditanya soal hartanya yang Rp 162 M dari mertua itu?
"Kita kan tidak bisa milih lahir dari mana."
Bener banget, Pak.
Yang 8.400 jemaah itu juga nggak bisa milih , mereka nggak bisa milih supaya hak haji mereka nggak diduga dimainkan oleh orang2 yang lo panggil keluarga.
Our president, leader of the Republic of Indonesia, watches the poor eat their meal.
He does the watching from a lavish setting, his own plate stacked with expensive food.
Poverty as an evening's entertainment.
Repost utk anak2 muda yg tanya apa maksud saya dgn "wisdom without fear". Intinya: menyuarakan kebenaran lebih nikmat dari mengejar kekuasaan. You should try it too. Boleh disebar.
Yes dan iya
Segala sesuatu berasal dan berawal dari rumah
Aku pun ngomong aja random, loncat loncat, ide berantakan,tidak runut, tmi when talk, karena ga pernah didengar, tidak diberi ruang untuk bicara, berpendapat, dll
Makanya kenapa heran aja orang orang koq ngebet sekali menikah/menyuruh menikah
padahal segala sesuatu dimulai dari rumah, rumah yang kacau dan ancur
walau tidak semua, ngaruh lah sedikit banyak nya sama hidup dan mental anak
Pemalsuan riset terorganisir yg baru ketahuan saat konferensi di Denmark ini jatuhnya WHITE COLLAR CRIMINAL.
Saya pun penasaran jejaring pelakunya. Di akun IG w.o.d.d sebenarnya udah di-spill nama2nya.
Tapi saya penasaran jejak digitalnya di internet. Dan ini yg saya temukan
Berarti kalau mama ini tidak tahu mau dibuatkan film, smua yg diomongin fakta too..
Makasih mama, mama secara tidak langsung mnmbah kyakinan masyarkat lagi bahwa semua yg di flim dikomenter itu real fakta dan tidak di buat2 seperti flim yg lain lain..
spill disini
Siapa tau ada yang kenal anak s1 UNY jurusan matematika angkatan 2015 terus s2 nya ITB matematika (jalur LPDP) namanya PRIHANTINI, ini dia dan temen2nya fraud bikin jurnal palsu, ikut conference dan dapet travel grant dari eo di banyak negara cuma buat jalan2 doang
Yang ditanggung BPJS tapi sering KELEWAT:
โ Kacamata (subsidi sesuai kelas, 2 tahun sekali)
โ Scaling gigi (setahun sekali, indikasi medis)
โ Tambal gigi (sesuai kebutuhan)
โ Cabut gigi (sesuai kebutuhan)
โ Operasi gigi bungsu (kalau ada indikasi)
Semua MULAI dari faskes tingkat 1. Puskesmas atau klinik BPJS. Jangan langsung ke dokter swasta.
Gajinya Rp 12 juta, Supervisor di perusahaan swasta. Istri, 2 anak. Rumah KPR. Mobil cicilan.
Dari luar: sukses.
Tapi tiap tanggal 27, dia udah gelisah. Karena gaji tanggal 28 udah habis di tanggal 3.
Tabungan: nol.
Dana darurat: gak ada.
Investasi: gak pernah.
Umur 35. Dan dia baru sadar: dia berlari kencang tapi gak ke mana-mana.
RAT RACE!
Guys, pemerintah baru saja mengumumkan sesuatu yang dikemas sebagai kabar baik untuk rakyat kecil.
KPR 40 tahun.
Cicilan hanya Rp773.000 per bulan.
Pekerja bergaji Rp2 juta bisa punya rumah.
Kedengarannya bagus.
Kedengarannya pro rakyat. Kedengarannya seperti solusi.
Tapi gue minta lo berhenti sejenak dan pikirkian apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ini bukan solusi.
Ini adalah desain perbudakan yang dilegalkan.
KPR 40 tahun artinya lo mulai mencicil rumah
usia 25 lo baru selesai di usia 65 tahun.
Tepat saat pensiun.
Tepat saat lo tidak punya penghasilan lagi.
Seluruh masa produktif hidup lo dari muda sampai tua habis untuk membayar satu rumah.
Bukan untuk menabung.
Bukan untuk investasi.
Bukan untuk pendidikan anak.
Bukan untuk menikmati hidup.
Untuk cicilan rumah yang tidak akan lunas sampai lo pensiun.
Dan ini yang paling mengerikan dari kalkulasinya:
Gaji Rp2 juta per bulan.
Cicilan Rp773.000 per bulan.
Itu 38,6% dari seluruh penghasilan hanya untuk cicilan rumah.
Belum makan.
Belum transportasi.
Belum listrik.
Belum air.
Belum biaya anak sekolah.
Belum biaya sakit.
Sisa untuk hidup: Rp1,2 juta sebulan.
Rp40.000 per hari.
Dengan Rp40.000 per hari lo harus makan, transport, bayar semua kebutuhan hidup.
Di era rupiah Rp17.600 per dolar.
Di era harga pangan yang terus naik karena kedelai, gandum, dan minyak semuanya impor dalam dolar.
Dan ini yang tidak pernah diceritakan pemerintah:
Total yang lo bayar selama 40 tahun dengan bunga bukan hanya harga rumahnya.
Lo membayar harga rumah ditambah bunga selama 40 tahun.
Yang bisa berarti lo membayar dua sampai tiga kali lipat harga asal rumah itu.
Rumah yang secara teknis bisa lo beli Rp200 juta lo bayar Rp400-600 juta selama 40 tahun.
Selisihnya masuk ke mana?
Ke sistem keuangan. Ke bank. Ke Tapera.
Rakyat kecil yang tidak punya pilihan lain dipaksa membayar premium berlipat-lipat hanya karena mereka tidak punya uang di awal.
Dan lo tahu apa yang paling gue ingat dari ini:
John D. Rockefeller pernah bilang sesuatu yang sangat terkenal dan sangat mengerikan:
"Saya tidak menginginkan bangsa pemikir.
Saya menginginkan bangsa pekerja."
Dan cara paling efektif untuk memastikan orang tidak berpikir kritis adalah memastikan mereka terlalu sibuk memikirkan cicilan.
Orang yang gajinya Rp2 juta dan cicilannya Rp773.000 tidak punya bandwidth mental untuk memikirkan kenapa rupiah melemah.
Tidak punya waktu untuk mempertanyakan kenapa anggaran pendidikan dipotong 44%.
Tidak punya energi untuk marah tentang Nadiem yang dituntut 27 tahun atau Noel yang bilang menyesal tidak korupsi lebih banyak.
Mereka terlalu lelah.
Terlalu sibuk bertahan.
Terlalu tenggelam dalam tekanan cicilan yang tidak akan selesai sampai mereka pensiun.
Itu bukan kebijakan perumahan.
Itu adalah mekanisme kontrol sosial.
Dan ini sambungkan dengan semua yang sudah terjadi:
Gaji tidak naik signifikan.
Kelas menengah menyusut dari 57 juta ke 46 juta.
Tabungan rata-rata turun dari Rp3 juta ke Rp1,5 juta. Rupiah Rp17.600.
Harga pangan naik.
Guru honorer digaji di bawah UMP.
Tapi solusi yang ditawarkan bukan menaikkan upah.
Bukan menciptakan lapangan kerja berkualitas.
Bukan memastikan inflasi terkendali.
Solusinya:
perpanjang tenor KPR dari 30 tahun menjadi 40 tahun.
Supaya cicilan per bulannya kelihatan lebih kecil padahal total yang dibayar jauh lebih besar.
Supaya lebih banyak orang bisa masuk ke dalam sistem utang jangka panjang yang mengikat mereka seumur hidup produktif.
Ini bukan membantu rakyat memiliki rumah.
Ini membantu sistem keuangan memiliki rakyat.
Dan yang paling miris:
Pemerintah mengklaim ini sebagai kebijakan pro rakyat.
Sebagai solusi untuk krisis perumahan.
Sebagai bukti bahwa pemerintah peduli dengan masyarakat berpenghasilan rendah.
Tapi coba bayangkan satu skenario sederhana:
Lo mulai KPR di usia 25 dengan gaji Rp2 juta.
Lo cicil selama 40 tahun.
Di tahun ke-15 usia lo 40 rupiah makin melemah, harga kebutuhan pokok naik, dan lo di-PHK karena otomasi AI atau karena bisnis tempat lo kerja bangkrut karena investor asing kabur.
Cicilan tetap harus dibayar.
Rumah disita kalau tidak bayar.
Lo kehilangan segalanya setelah 15 tahun mencicil.
Itu bukan kepemilikan rumah.
Itu adalah ilusi kepemilikan yang bisa diambil kapan saja kalau lo tidak bisa membayar.
KPR 40 tahun bukan solusi krisis perumahan.
Itu adalah pengakuan resmi bahwa gaji rakyat Indonesia terlalu kecil untuk membeli rumah dengan cara yang wajar dan alih-alih menaikkan gaji atau menurunkan harga rumah, pemerintah memilih memperpanjang masa perbudakan finansialnya.
Rockefeller tidak membutuhkan rantai untuk mengikat pekerjanya.
Dia cukup memastikan mereka punya cukup utang untuk tidak berani berhenti bekerja.
KPR 40 tahun adalah versi modern dari filosofi itu. Diberikan dengan senyum.
Dikemas sebagai bantuan. D
an dirayakan sebagai terobosan kebijakan.
Sementara yang sebenarnya terjadi adalah: rakyat yang sudah kelelahan dipastikan akan terus kelelahan untuk empat puluh tahun ke depan.