Day 1 kenalan sama cowo
: tapi ntar klo stop nonton2 kpop gitu bisa kan?
PERGI. PERGI LU NJIIR. PINTU KELUARNYA LSG GUE BUKAIN. SIAPA LU NYURUH2 GUE STOP ANJIIR. MAMA GUE AJA GA ADA NGOMONG BEGITU. LU BARU KENAL GA USAH NYURUH2. SOK IYE LU NGOMONG BEGITU.
GAES!!! aku bakal ke PRJ hari minggu dan bakal live shopping di tiktok.
Boleh banget yuuu join grup wa dulu buat cek cek katalog😍😍❤️❤️ #jastipprj#prj#jastip#jakartafair
https://t.co/A9siqPEXjI
Jumbo mecahin rekor sebagai film animasi Indonesia dengan penonton terbanyak sepanjang masa, dan sesuai pribahasa; semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpa.
Angin-angin ini berbentuk kritik orang tua yang mulai mempertanyakan kehadiran hantu dalam film anak-anak.
Bahkan ada yang bilang ini film musyrik.
Angle kritik ini dipakai banyak orang tua yang lelah menjelaskan ke anak bahwa orang yang sudah meninggal itu tidak akan bisa muncul lagi sebagai arwah.
Pertama, kita sepakat prodak storytelling itu tidak ada yang sempurna dan selalu ada ruang untuk tumbuh. Ngejar sempurna mah mungkin Jumbo ampe 50 tahun lagi juga belom tayang.
Kedua, dalam film, selalu ada angle yang bisa dikomentari; plot, adegan-adegan yang ingin menyisipkan nilai baru, kualitas visual, audio, dsb.
Jadi, sah-sah aja kalau ada yang datang dengan argumen ‘hantu di dalam film anak itu ngajarin musrik!’
Tapi kalau mau ambil angle itu, kita harus fair dengan produk storytelling yang pernah ada dan punya muatan serupa; Lion King ada arwah bapaknya dateng lewat awan, Coco sebagian besar plotnya di alam barzah, Casper cerita tentang hantu baik, Tuyul dan Mbak Yul tentang tuyul insyaf.
Kalau kita selalu merasa produk storytelling ini adalah masalah, jangan-jangan kitalah yang bermasalah dalam menyerap sebuah konsep dan sulit mengkomunikasikannya ke anak. Kesalahan cara berpikir punya dampak lebih serius karena sifatnya turun temurun.
Emosi anak itu campur aduk, jadi kalau misal Film Coco menggambarkan fakta bahwa suatu hari kita akan kehilangan keluarga, anak akan merasakan takut akan kehilangan, lalu berharap bisa bertemu dengan orang tuanya dengan menembus alam barzah lewat genjrengan gitar.
Buat gue, Ini adalah emosi yang perlu divalidasi, bukan dicut dengan langsung menjejali anak soal kuliah hidup setelah kematian.
Sisi luar biasa dari produk storytelling adalah mereka menyampaikan kebenaran, dengan cara-cara yang barangkali gak mungkin terjadi di dunia nyata, sehingga kita berani untuk punya harapan sekali lagi.
Mainan gak bakal hidup kayak di film Toy Story, tapi merasa tergantikan akan dialami semua orang seperti Woody yang takut digantikan kehadiran Buzz.
Ikan gak bakal nyari anaknya kayak di film Nemo, tapi keluar dari zona nyaman karena suatu insiden akan dialami semua orang seperti Marlin yang harus melintasi samudra demi Nemo.
Sampe kapan sih argumen pro AI art tuh "sama aja kyk ojek vs gojek"? NGGA YA PEPEK, GA APPLE TO APPLE. Yg bikin ilustrator geram tuh fakta bahwa buat ngelatih dan produksi karya mereka MENCURI NON KONSENSUAL dari artist. Tolong yg masih pro AI art baca ini!!:
sori party pooper tapi ku sed deh liat ghibli style bisa di-generate dengan ai ini… nyari style yang ikonik gitu kan pasti melewati proses kultivasi bertaun2 ya… trus ini emang ada consent-nya kah dari creator-nya…
Momen yang pas untuk mengangkat lagi utas ini. Bukan, ini bukan ala Ghibli. Tapi kalau terus kita dukung, insya Allah kelak lahir Hayao Miyazaki dari tanah kita sendiri. Semangat!
[UPDATE] DAY6 3RD WORLD TOUR <FOREVER YOUNG> in JAKARTA - Venue Change (Official Seatplan and Category Update).
-
More info: https://t.co/nTpWy8rHM5
-
#DAY6#DAY6_FOREVER_YOUNG_JAKARTA_2025