Inflasi itu membuat sebagian dari kita menjadi LGBT.
Inflasi membuat kita melacur. Menjilat demi tidak di PHK atau demi uang yang lebih. Sekalipun kita tidak menjilat dan menekankan bahwa kita mencapai posisi tersebut dengan prestasi, kita akan dikelilingi orang yang menjilat.
Dulu Bapak bekerja mencukupi kebutuhan, dan pulang tepat waktu, kita punya figur bapak, walau terbatas. Waktu berjalan, Ibu harus bekerja juga, kita punya figur mereka saat pulang, sekarang Bapak harus bekerja dua pekerjaan untuk mencukupi, lalu hilanglah sebagian waktu yang sudah sedikit itu dengan bapak. Tak punyalah sebagian kita figur menjadi lelaki.
Didunia yang edan ini, beriman lebih menantang daripada hodl Bitcoin.
Sebagian dari kita bahkan menjual Tuhannya demi tidak tersentuh inflasi.
Inilah sistem setan yang kita puja. Sistem dealer kendaraan bermotor yang tidak boleh turun targetnya walau jalan sudah macet.
Inflasi membunuh rasa kemanusiaan.
Sebagian Kita hanya bisa kaya dari memakan keringat sebagian orang, apakah kita memikirkan bagaimana cara hidup dengan 3 juta Dong Vietnam setiap bulan? Kos-kosan tak layak itu 500rb per bulan, Cicilan motor itu 1 juta selama 2 tahun. Yang kalau dikumpulkan tanpa menghidupi bunga blorong bisa dapat 2 motor.
Inflasi adalah pertumbuhan, semakin inflasi semakin tumbuh.
Kenyel Bli ngajeng nasi jinggo. ☹️☹️☹️
Lacur Bli Luh, Sing maan ape.
Saya miskin sayang, ngga punya apa-apa. Capek makan nasi jinggo terus.
Kapankah kita berhenti dari sistem ini?
Kembalilah ke Standar Emas, Emas punya Tuhan, selain itu punya setan.
GOOD MORNING GOOD PEOPLE.
Sebagian kata emas bisa diganti Bitcoin setelah Tiongkok Adopsi
Tolong ini hanya konten, ga karena inflasi juga udah ada LGBT. Sejak jaman Ken Dedes juga udah ada prostitusi.
Engagement saya turun gara-gara Nikita ga menghargai repost an. Jangan saya diserang ya. Peace love and gaul 👌🏾👌🏾👌🏾👌🏾
Pelajar SMK mengirim surat kepada Presiden, ia menolak menerima MBG dan meminta jatah makan MBG miliknya diberikan untuk kesejahteraan guru. Para pelajar kita, ada yang pikirannya tajam dan halus perasaannya. Rafif Arsya, anda membuat sejarah.
🔥🔥🔥🔥🔥
Di bidang astronomi, jarak yg sangat jauh diukur dgn satuan “tahun cahaya”
Di Indonesia ada satuan baru dlm perhitungan harga/biaya yg sangat mahal, yaitu “hari MBG”
* Anggaran beasiswa LPDP: 5 hari MBG
* Subsidi BPJS Kes: 40 hari MBG
* Biaya pembangunan Whoosh: 94 hari MBG
😁
Benarkah Nabi Mengabarkan Yahudi Israel dan Syiah Iran Akan Bersatu Mengikuti Dajjal?
Belakangan ini beredar kembali postingan yang mengaitkan konflik Israel–Amerika melawan Iran dengan sebuah hadis dari Sahih Muslim. Hadis yang sering dikutip adalah:
يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْفَهَانَ سَبْعُونَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ
Artinya:
“Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Isfahan yang mengenakan ṭayālisah (sejenis jubah atau selendang).”
(HR. Muslim)
Hadis ini memang sahih dan termasuk hadis eskatologis, yaitu hadis yang berbicara tentang fitnah akhir zaman.
Masalahnya bukan pada hadisnya.
Masalahnya pada narasi yang dibangun di sekeliling hadis ini.
Sebagian orang kemudian menyimpulkan:
“Tidak usah heran dengan perang hari ini. Sekarang saja mereka konflik tapi nanti mereka akan kompak menjadi musuh Islam. Rasulullah sudah mengabarkan bahwa Yahudi dan Syiah pada akhirnya akan bersatu mengikuti Dajjal.”
Sekilas terdengar meyakinkan.
Padahal kalau kita baca hadisnya dengan teliti, narasi ini tidak berasal dari hadis tersebut.
Nabi tidak pernah menyebut Syiah
Hadis itu hanya mengatakan:
“Yahudi dari Isfahan.”
Memang benar Isfahan hari ini berada di wilayah Iran.
Dan benar pula Iran modern mayoritas bermazhab Syiah.
Namun menyimpulkan bahwa hadis itu berbicara tentang Syiah adalah lompatan logika yang terlalu jauh.
Pertama, penyebutan Isfahan dalam hadis itu bersifat geografis, bukan ideologis atau mazhab.
Kedua, siapa yang bisa menjamin bahwa wilayah tertentu akan tetap berada di bawah identitas mazhab yang sama hingga akhir zaman?
Sejarah menunjukkan wilayah, bangsa, dan mazhab bisa berubah berkali-kali.
Karena itu menjadikan hadis ini sebagai bukti “koalisi Yahudi–Syiah” jelas bukan berasal dari teks hadis, melainkan dari cara kita menafsirkannya.
Hadis tidak selalu menyebut nama bangsa secara eksplisit
Dalam hadis lain tentang akhir zaman disebutkan bahwa pengikut Dajjal memiliki wajah:
“seperti perisai yang dipukul.”
Sebagian ulama klasik mencoba memahami deskripsi ini.
Misalnya Ibn Kathir berpendapat bahwa kemungkinan yang dimaksud adalah bangsa Turk.
Tetapi penting dicatat:
Nabi tidak pernah menyebut kata “Turk” dalam hadis itu.
Itu adalah interpretasi ulama, bukan teks hadis.
Dan istilah Turk dalam literatur klasik juga bukan berarti negara Turki modern.
Yang dimaksud adalah bangsa-bangsa Turkic di Asia Tengah, suku-suku nomadik yang hidup di wilayah luas seperti Turkestan dan Transoxiana.
Ini menunjukkan satu hal penting:
tafsir ulama selalu terkait dengan konteks zaman mereka.
Nama wilayah dalam hadis tidak sama dengan peta politik modern
Hadis-hadis akhir zaman juga sering menyebut nama wilayah seperti:
Khurasan – Wilayah luas di Asia Tengah dan Timur Persia pada masa klasik, mencakup sebagian besar Iran timur laut, Afghanistan, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Tajikistan.
Syam – yang dulu meliputi Suriah, Palestina, Yordania, dan Lebanon.
Rum – Merujuk pada Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium), yang berpusat di Konstantinopel (sekarang Istanbul).
Semua istilah ini adalah geografi dunia klasik, bukan batas negara modern seperti yang kita kenal hari ini.
Batas wilayah dalam sejarah bisa berubah berkali-kali.
Dan bisa saja berubah lagi di masa depan.
Karena itu membaca hadis-hadis ini dengan peta politik hari ini sering kali justru menyesatkan.
Bahaya membaca hadis untuk membenarkan asumsi kita
Masalah terbesar muncul ketika hadis tidak lagi dibaca untuk memahami pesan Nabi, tetapi dipakai untuk menguatkan asumsi dan opini yang sudah kita miliki sebelumnya.
Lalu kita berkata:
“Lihat, Nabi sudah mengabarkan ini sejak dulu.”
Padahal yang terjadi sebenarnya adalah:
kita memasukkan asumsi dan opini kita ke dalam hadis,
lalu mengklaim bahwa itu berasal dari Nabi.
Parahnya lagi asumsi kita itu bisa saja dipenuhi dengan kebencian pada mazhab atau kelompok tertentu.
Ini bukan cara membaca hadis yang sehat.
1/2
Mau tahu bukti tak terbantahkan soal adu domba Sunni Syiah adalah buatan Israel dan Amerika. Ya ini langsung dari omongan senator paling sektarian pendukung Presiden Trump!