Sorry, Bud. Ini keliru. Sebagai orang yang ngikutin proses kasus Chromebook dari awal, setidak-tidaknya ada 3 hal yang bisa gw bantu jelaskan untuk membuat terang.
Pertama, narasi pengabdian tidak pernah muncul duluan dari Ibam. Secara kronologis, framing Ibam menerima gaji Rp163juta/bulan dari Yayasan PSPKI seakan-akan ini untuk memuluskan project pengadaan Chromebook muncul duluan.
Padahal kenyataannya Ibam turun gaji saat ingin berkontribusi lewat PSPKI, dan terbukti pula di pengadilan kalau Yayasan PSPKI menggaji Ibam dari donor yang tidak ada sangkut pautnya dengan pengadaan Chromebook.
Ini lah yang membuat narasi white savior tampaknya seakan-akan muncul duluan dari Ibam. Padahal ini adalah fakta persidangan yang terungkap begitu saja.
Kedua, karena gagal membuktikan gaji Ibam itu bukan uang haram yang didapatkan dari pengadaan Chromebook, sangat patut diduga kalau JPU menggeser fokus dengan memaksakan ESOP Ibam di BukaLapak yang sempat naik ke angka Rp16,9 Miliar.
Padahal harga saham setinggi itu bukan realized gain, karena saham tersebut tidak bisa dijual karena masih dalam locked-up period saat IPO (Penawaran Saham Perdana).
Mas Ibam dalam podcast di Ngomongin Uang sebenarnya sempat sebut kalau dia salah satu nyangkuter juga. Realized gain-nya sangat jauh dari angka Rp16,9 Miliar.
Ketiga, persoalan gaji maupun ESOP Ibam bukan lagi fokus pada fakta hukum di persidangan, karena baik gaji maupun ESOP Ibam tersebut adalah penghasilan yang sah atau halal (lawful enrichment), bukan memperkaya diri sendiri secara melawan hukum (illicit enrichment).
Terungkap di persidangan kalau aliran dana korupsi pengadaan malah mengalir pada saksi yang seharusnya itu jadi tersangka. Semua orang yang mempelajari hukum pidana seharusnya tahu kalau pengembalian uang hasil kejahatan tidak menghapus pidana, terkecuali Fajar Trio.
Ironinya, malah yang dipermainkan itu adalah amarah masyarakat akan kegagalan sistem ekonomi kita yang menciptakan problem ketimpangan. Saya yakin kita semua bisa setuju kalau sistem ekonomi kita saat ini masih belum bisa menyejahterakan banyak orang.
Tapi melempar kemarahan ini ke mas Ibam keliru, karena dia bukan pejabat eselon kementerian, menteri, ataupun Presiden yang mempunyai kekuatan/wewenang untuk mengambil keputusan.
Mas Ibam hanya seorang konsultan.
Kita harus adil sejak dalam pikiran kalau mas Ibam juga merupakan korban dari kegagalan sistem yang ada.
Setidak-tidaknya tidak berlebihan untuk bilang mas Ibam adalah korban dari kegagalan sistem hukum yang sudah busuk dan masih terus membusuk.
Ibrahim Arief pernah terpilih sebagai 40 Under 40 Fortune Indonesia. Skrng, tragis betul nasibnya..
Via: Fortune
"Biasa dipanggil Ibam, pria lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini telah bekerja pada sejumlah perusahaan teknologi Eropa kala mengejar gelar Master di benua itu dalam program Erasmus Mundus CIMET. Setelah pulang ke Indonesia pada 2016, dia bergabung dengan Bukalapak dan kemudian menduduki posisi VP of Engineering, VP of R&D serta melapor ke CTO dan COO.
Di sana Ibam, 39, turut membawa perusahaan all-commerce itu untuk tumbuh pesat dan mengubahnya dari perusahaan rintisan kecil menjadi unicorn teknologi yang beroperasi pada berbagai ranah mulai dari e-commerce hingga fintech. Di antara yang menjadi jejaknya di sana adalah pendirian divisi Litbang untuk AI yang mendorong transaksi tahunan tambahan senilai ratusan juta dolar AS.
Pada 2019, dia berlabuh di OVO, salah satu perusahaan fintech terbesar di dalam negeri, dengan tanggung jawab yang meliputi rekrutmen dan pengembangan tim.
Kini dia CTO di Govtech Edu Indonesia, membangun dan mengembangkan sebuah organisasi berisi sekitar 450 orang, serta melahirkan berbagai produk teknologi berskala besar untuk pemerintah Indonesia. Di antara produk-produk itu adalah sebuah superapp yang dapat mempercepat pembelajaran dan pengajaran berkualitas, hingga platform edukasi untuk jutaan siswa.
Ada cerita unik tentangnya saat menimbang pekerjaan di Govtech Edu. Saat itu, dia sebenarnya sedang didekati oleh Facebook, dan ditawari untuk bekerja di luar Indonesia. “Rencana awal saya adalah bertolak ke Eropa dan membangun karier saya di Facebook London,” katanya dikutip dari laman Medium Govtech Edu. “Tetapi, setelah menimbang-nimbang dan melalui proses pengambilan keputusan yang sulit, saya memilih untuk tinggal di Indonesia demi bekerja dengan Govtech Edu.”
Sebagai engineer Indo yang belajar banyak dari Ibam, baca ini sakit hati rasanya.
Satu-satunya saran buat teman-teman tech di titik ini: usahakan cari jalan untuk berkarier di luar negeri. Kalaupun stay, jauh-jauh dari public sector atau pemerintahan, tetap di private sector.
Teknologi di Indonesia sudah selesai. Investasi terbaik saat ini yang bisa kita berikan buat generasi berikutnya: berkarya sebaik-baiknya di luar negeri dan membangun network seluas-luasnya.
Selamat tinggal keadilan, selamat jalan teknologi Indonesia. Unicorn era was a nice ride.
Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara?
Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu.
Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun.
Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai.
Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain.
Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi.
Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook.
Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa:
1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN.
2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal.
3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu.
4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan.
5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian.
Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam.
Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya ‘menyalahkan’ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka.
Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam.
Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan.
Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja.
Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam.
Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek.
Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya “saham yang belum diberikan”. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan.
JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun.
Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara.
Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan.
Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga.
Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum.
Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi.
Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun...
Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit.
Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus.
Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini?
Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara?
Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian.
Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi.
Jakarta, 16 April 2026
Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)
Oggi è un giorno tristissimo. Se n'è andato non solo un grande atleta, ma un uomo dai valori rari: umiltà, dedizione e una serietà professionale fuori dal comune.
Juventus esprime il proprio cordoglio per la scomparsa di Alex Manninger e si stringe alla famiglia in questo momento di dolore.
Andrea Agnelli in a documentary 12 years ago warning of decline in Italian football: “Every cycle, if it is not renewed, ends and what we had was the inability to develop a real vision for future football in the years of maximum splendor”.
In short, during Italy’s best years there was no plan to build for the future. The system was content with success, with no plans towards adapting for the future. Today we are paying for his ignorance.
Agnelli back then compared Serie A to the Premier league: “In Premier League is a League to which the development task is delegated by the League itself, but it is also given all the authority and authority to be able to carry out that task". A clear and centralized structure, which has allowed constant growth.
On the contrary, the Italian system appears fragmented and not very incisive: "In our country the League is the total sum of many ideas where for some it is enough to improve the distribution of the previous year by a couple of million instead of thinking about how to create 500 million of surplus value from the Serie A League".
A limited vision, which favors the short term. This approach prevents the development of ambitious projects. Without a strong guide, any reform remains unfinished. And the gap with the top championships continues to widen.
The theme is that of internationalization, fundamental to increase revenues and visibility. Serie A, however, has also lost ground on this front. He was unable to anticipate emerging markets. This has reduced its overall weight. Investing today would mean building tomorrow. But a coordinated strategy is needed. Without a strong presence abroad, the system risks remaining marginal.
Later he spoke on governance & structural reforms:
"The Serie A League must regain its leadership role, managing to propose a revision of the governance of all Italian football, to clean up a level of contentiousness and lack of transparency that is no longer acceptable today".
The issue of governance is central as Agnelli had pointed out. Internal divisions have blocked any attempt at change:
“There is the utmost urgency" of "some structural system reforms". Among the priorities indicated, also the reduction in the number of professional clubs and a revision of the roses. The goal is to improve the overall quality and promote the growth of Italian players. Without deep interventions, the system will remain fragile. We need an organic reform. And above all, you need the political will to implement it.
(@tuttosport )
Ringkasan poin-poin penting dari Ibrahim Arief yang dijebak dicatut dikambinghitamkan jadi tersangka Chromebook padahal JUSTRU MENOLAK Chromebook yang tidak sesuai untuk daerah dengan kelangkaan koneksi internet:
Berikut adalah poin-poin penting dari video podcast Forum Keadilan TV yang menghadirkan Ibrahim Arif (Ibam), seorang konsultan IT yang menjadi tersangka dalam kasus pengadaan Chromebook di Kemendikbud:
1. Latar Belakang Ibrahim Arif (Ibam)
* Ibam adalah seorang ahli teknologi dengan pengalaman bekerja sebagai software engineer di Eropa dan mantan karyawan awal di Bukalapak (Unicorn) [35:33].
* Ia menolak tawaran pekerjaan bergengsi di London demi kembali ke Indonesia untuk membantu membangun teknologi pendidikan ("Merah Putih") dengan kompensasi yang jauh lebih kecil [41:25].
2. Peran Awal dan Tugas Sebenarnya
* Ibam dikontrak sebagai konsultan eksternal melalui sebuah yayasan untuk merancang teknis Super App Pendidikan (integrasi aplikasi seperti Asesmen Nasional, Rapor Pendidikan, dan Merdeka Mengajar) [07:04].
* Ia menegaskan bahwa kontrak kerjanya murni untuk desain Super App dan tidak ada hubungannya dengan pengurusan pengadaan barang atau Chromebook [12:16].
3. Keterlibatan dalam Isu Chromebook
* Di tengah pekerjaannya, ia diminta memberi masukan teknis terkait bantuan TIK (laptop) untuk sekolah.
* Menolak Chromebook: Dalam presentasinya, Ibam justru merekomendasikan agar tidak hanya menggunakan Chromebook. Ia menyoroti masalah konektivitas internet di daerah dan inkompatibilitas aplikasi kementerian yang berbasis Windows (seperti Dapodik dan ARCAS) [13:35].
* Saran yang Diabaikan: Ia menyarankan opsi Windows tetap ada dan meminta kementerian melakukan uji coba (pengujian emulator) sebelum memutuskan. Namun, pejabat kementerian memutuskan untuk menggunakan "Chromebook saja" tanpa melakukan pengujian yang disarankan [22:22].
* Setelah memprotes keputusan "full Chromebook" tersebut, Ibam tidak lagi dilibatkan dalam rapat-rapat selanjutnya [29:08].
4. Menjadi Tersangka karena Pencatutan Nama
* Ibam ditetapkan sebagai tersangka karena namanya tercantum dalam sebuah Surat Keputusan (SK) yang menugasinya mengawasi pengadaan [30:13].
* Tanpa Sepengetahuan: Ia mengaku namanya dicatut. Ia tidak pernah melihat SK tersebut, tidak pernah menandatanganinya, dan tidak pernah menyetujui tugas pengawasan pengadaan tersebut [30:33].
* Tidak Ada Aliran Dana: Ia menegaskan tidak menerima honor atau kompensasi sepeser pun dari tugas fiktif dalam SK tersebut maupun dari proyek pengadaan Chromebook [31:28].
5. Dampak Pribadi dan Pesan untuk Profesional
* Akibat kasus ini, Ibam diminta mundur dari startup tempatnya bekerja, kehilangan saham, timnya dibubarkan, dan kondisi kesehatan jantungnya memburuk [01:02:07].
* Ia merasa "ditinggalkan" oleh negara padahal berniat membantu, dan dijadikan kambing hitam atas keputusan pejabat [59:28].
* Ia memperingatkan rekan-rekan profesional/konsultan lain bahwa bekerja membantu pemerintah memiliki risiko hukum tinggi, di mana konsultan bisa disalahkan atas keputusan pejabat meskipun konsultan tidak memiliki wewenang eksekusi (hanya pemberi rekomendasi) [48:15].
Video ini menyoroti ironi seorang profesional yang ingin berkontribusi bagi negara namun justru terjerat masalah hukum akibat dugaan maladministrasi yang dilakukan pihak lain.
🚨 | GIVEAWAY TIME!
In honour of the #Juventus 3rd kit being released today, I'm giving away a Yildiz 2025-26 AUTHENTIC third jersey, direct from JuveStore.
Rules are simple:
RT this and follow @juvenewslive - Done!
Winner chosen 15 October. Will send worldwide.
Good Luck!
Saya lihat postingan ini mari kita dukung...
Jangan karena Sahroni, Uya Kuya, Eko Patrio salah omong, negara ini jadi rusuh, Jarah sana jarah sini, bakar sana bakar sini, kita semua masyarakat yang Rugi.
ayokk Normalisasiin ...
⚠️ SEGERA PULANG. MUNDUR! ⚠️
Situasi sudah tidak aman. Aparat diberi instruksi boleh menembak.
Yang masih di baris depan/zona merah, pulang! Sayangi nyawa.