Bandingkan dgn humor politik tradisional (Bagong/Petruk dalam Wayang atau Srimulat). Humor tradisional menertawakan penderitaan diri sendiri sbg rakyat kecil yg dizalimi penguasa. Humor komika seringkali menertawakan ketololan penguasa dr posisi moral/intelektual yg lebih tinggi.
Masalahnya bukan hanya pada "selera humor" atau "anti-kritik", tapi karena stand-up comedy di Indonesia (yang diwakili figur seperti Pandji) adalah produk budaya kelas menengah yang gagal menangkap keresahan akar rumput secara organik.
Kalau kamu gak ketawa, berarti selera humor kamu buruk, atau kamu tidak peka dgn isu2 yg dikritisinya, atau kamu pro-pemerintah. Fanatisme semacam ini juga bisa menjangkiti mereka yg merasa sedang melawan penguasa. Dua2nya merasa punya superioritas moral & intelektual.
When you order at McDonald's in perfect English, no one bats an eye. But when some white guy orders at a Chinese restaurant in Mandarin... https://t.co/WbSWyOsl7u #indonesia#indonesian
Bagaimana "negara +62" menjadi bagian dari ke-Indonesia-an digital? Saya menulis tentang ini di @ConversationIDN. Simak di sini. https://t.co/eZLmY6KQJX
@Malmalia_ Waalaikumsalam Wr. Wb.
Selamat siang Hadyan Akmal,
Selaku mahasiswa saya yang banyak kesalahan kata dan perilakunya, juga tercela akhak dan adabnya, lain kali janganlah sampai terlupa dan terlewat janji bimbingannya.
Dengan penuh kasih sayang dan kesabaran,
Randy Ridwansyah