Tadi malam, telpon Ibu. Pakai WA.
Lima menit.
Ditutup duluanโoleh Ibu saya sendiri:
"Udah, Le. Kamu pasti capek. Ibu udah seneng kok cuma denger suaramu."
Saya iseng, coba hitung-hitung setelahnya.
Hasilnya bikin saya diam lama di kamar mandi.
Padahal niatnya cuma mau gosok gigi.
Bapak saya usia 54.
Saya pulang kampung paling cuma pas Lebaran. Nginep 4 hari.
Saya hitung pelan-pelan pakai kalkulator HP, masih di kamar mandi itu:
Asumsi kasar, Bapak dikasih umur sampai 65.
Sisa 11 tahun.
ร 4 hari per tahun ketemu
44 hari.
Sisa waktu saya sama Bapak: 44 hari.
Itu kalau Tuhan masih kasih panjang umur.
Saya lanjutkan, karena sudah kepalang basah.
Dari 44 hari itu, berapa jam yang benar-benar kita habiskan ngobrol?
Bukan tidur. Bukan nonton TV sambil diam-diaman. Bukan sambil pegang HP masing-masing.
Saya hitung kasar: 3 jam sehari.
44 hari ร 3 jam = 132 jam.
Digabung jadi satu napas?
5,5 hari.
Sisa waktu ngobrol saya sama Bapak, seumur hidup saya, kalau dikumpulkan: lima setengah hari.
Saya jadi ingat, pernah baca hitungan begini:
Katanya, 90% waktu yang bakal kita habiskan sama orang tua,
sudah terpakai sebelum kita umur 18.
Sisa 10%-nya, dibagi rata buat puluhan tahun sesudahnya.
Masuk akal. Kecil dulu serumah tiap hari.
Begitu kerja, merantau, nikahโ
ketemu jadi setahun sekali. Dua kali kalau lagi rejeki.
Ironisnya,
saya ini sibuk banget menghitung waktu saya buat anak.
Takut kurang hadir. Takut nanti dia besar dan cuma ingat ayahnya capek terus.
Tapi waktu saya sama orang tua saya sendiri?
Tidak pernah saya hitung.
Sampai malam ini.
Saya tidak bisa nambah umur Bapak.
Tapi saya bisa nambah isi telpon 5 menit itu.
Tidak buru-buru.
Tidak sambil scroll HP.
Tidak sambil mikir kerjaan kantor.
5 menit itu, kalau dihitung-hitung,
mungkin termasuk salah satu hari
dari sisa hari yang saya punya.
Bapak-bapak,
coba hitung sendiri:
umur orang tua sekarang, berapa kali setahun ketemu, berapa hari sekali ketemu.
Boleh disave dulu kalau belum siap lihat hasilnya.
Kapan terakhir kali telpon orang tua lebih dari 10 menit, tanpa buru-buru ditutup?
Cerita di bawah. ๐
info aja nih guyss......
ternyata kemaren waktu ada demo
prabowo nerima tamu dari jepang
di rumahnya di hambalang
mereka bawa kado ke prabowo
desain kapal perang dengan nama makasa..seneng banget tuh
ekspresi prabowo pas di kasih
bentuk kapalnya, tebak kenapa coba?
Temen gw pengacara perceraian. 7 tahun bolak-balik Pengadilan Agama. Udah megang ratusan kasus cerai.
Gw nanya iseng: "Klien lo yang paling bikin lo merinding itu yang kayak gimana?"
Dia gak jawab "yang berantem hebat" atau "yang suaminya selingkuh."
Dia jawab:
"Yang paling mengerikan itu istri yang dateng TENANG. Duduk rapi. Senyum tipis. Suaranya datar. Gak ada air mata."
"Kenapa itu mengerikan?"
"Karena kalau dia udah TENANG, keputusannya udah final. Biasanya sejak 6 bulan lalu."
Good morning from Gaza.๐ต๐ธ
We are still here, we are still alive.
This a post for those who care.
We are not terrorists.
If you see us, leave a comment even if itโs just a dot(.) or ๐ต๐ธ
Hilang respect dalam hubungan pertemanan itu jauh lebih berbahaya daripada marah atau benci.
Karena marah masih menyimpan harapan. Benci pun masih menyimpan emosi.
Tapi ketika respect hilang, yang tersisa bukan ledakan, melainkan keheningan.
Tokoh politik yg lo idolakan itu ngga akan ngapa-ngapain kalo lo kenapa-kenapa kecuali followers lo banyak.
Jadi sesama kita ya ngga usah gitu-gitu amat. Kalo ada apa-apa kita bahu membahu sendiri lho.