Ada dua detail menarik dalam Film Dokumenter Pesta Babi karya @Dandhy_Laksono@watchdoc_ID dkk, yaitu Lukisan Kerahiman Ilahi dan juga Ensiklik Laudato Si’ yang dibentangkan bersama pendirian Salib Merah tanpa perlawanan.
Paus Fransiskus melalui ensiklik Laudato Si’ mengingatkan bahwa bumi bukan sekadar sumber daya untuk dieksploitasi, melainkan “rumah bersama” yang dipercayakan Tuhan kepada manusia untuk dirawat. Implikasinya adalah, ketika hutan dirusak, tanah adat dirampas, sungai dicemari, dan masyarakat adat dipaksa kehilangan ruang hidup demi proyek atau kepentingan ekonomi, yang terluka adalah seluruh ciptaan, bukan hanya manusia saja. Laudato Si’ menegaskan bahwa jeritan bumi dan jeritan orang miskin adalah jeritan yang sama. Masyarakat adat sering menjadi pihak pertama yang merasakan luka itu, di mana mereka kehilangan tanah leluhur, budaya, bahkan masa depan, sementara ekosistem di sekitar perlahan mati demi keuntungan segelintir pihak. Tindakan semacam itu bukan lagi hanya menyinggung persoalan politik atau pembangunan, tetapi juga kaitannya dengan persoalan moral, sebab manusia sedang gagal melihat ciptaan sebagai anugerah Allah.
Kita juga melihat bahwa berdiri juga lukisan Kerahiman Ilahi yang begitu kuat dalam penggalan video tersebut, di mana dari hati Kristus mengalir darah dan air, tanda kasih dan belas kasih Allah bagi dunia. Namun, bagaimana mungkin manusia mengaku menghormati Kerahiman Ilahi sambil membiarkan sesama diinjak dan alam dihancurkan? Kerahiman tidak berhenti pada doa atau devosi pribadi, tetapi ia harus hadir dalam keberpihakan kepada yang lemah, termasuk masyarakat adat dan ciptaan yang terancam. Tragisnya, sejarah juga menunjukkan bahwa tidak sedikit pemuka agama justru memilih diam, bahkan berpihak kepada kekuasaan yang menindas. Ketika suara kenabian dibungkam demi kedekatan dengan penguasa, di situlah agama kehilangan rohnya. Seperti Yudas yang menjual Gurunya sendiri, pengkhianatan paling menyakitkan bukan datang dari musuh, tetapi justru dari mereka yang seharusnya menjaga dan menggembalakan umat.