Obat imposter syndrome yang paling cepat
bukan afirmasi.
Tapi duduk di rapat
bersama eksekutif level tinggi.
Begitu kamu melihat dari dekat,
kamu akan sadar:
Mereka juga hanya manusia.
Seringkali sedang “mengira-ngira” di tempat.
Bukan selalu punya jawaban sempurna.
Bukan selalu lebih pintar dari yang kamu bayangkan
Imposter syndrome tumbuh
dari jarak dan imajinasi.
Kamu membayangkan orang di atas
sebagai sosok yang selalu tahu,
selalu yakin, selalu unggul.
Padahal banyak di antara mereka
juga sedang belajar sambil jalan.
Begitu kamu melihat
bahwa mereka juga ragu,
juga salah langkah,
juga terkadang hanya mengisi ruang…
Rasa “aku tidak pantas” mulai longgar.
• Jangan terlalu memuja posisi
• Jangan terlalu merendahkan dirimu sendiri
• Semua orang, di level mana pun, sedang berusaha terlihat kompeten
Kamu tidak perlu menunggu “siap 100%”.
Karena orang yang kamu anggap sudah sampai
juga belum tentu merasa siap.
Gubernur Bank Indonesia Mengundurkan diri
Selama beliau menjabat berhasil meluncurkan:
- QRIS
Kita bisa dengan mudah transaksi antar e-wallet ataupun bank
- BI-FAST
dulu admin transfer antar bank 6,5k tapi karna ada BI-FAST jadi hanya 2,5k
Mundurnya Pak Perry Warjiyo bisa diartikan kalau Ekonomi kita tidak baik-baik saja 💀
Liat Spanyol yang akhirnya menjadi juara, yang diisi banyak pemain Barça, Hansi Flick jelas sangat bangga
Masih inget waktu kemarin akhir musim menjelang pengumuman daftar panggilan timnas, Flick berkata di konpers—ini adalah momen sangat penting bagi para pemainnya untuk menunjukkan siapa diri mereka
Bicara sebuah nama, Gavi menjadi nama yang menonjol. Bagaimana Flick memberikan menit bermain untuknya padahal baru pulih dari cedera operasi dan Gavi pun berhasil memanfaatkan kesempatan itu dengan menunjukkan performanya yang cukup baik
Kalo gak dikasih kesempatan sama Flick kemarin kemungkinan besar Gavi gak bakal dapet panggilan timnas
COOLING DOWN.
Hidup tidak selalu berakhir sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Justru karena pernah gagal, kita belajar menghargai arti sebuah kemenangan.
Jangan lupa, Argentina mengakhiri penantian sejak 1986 dengan menjadi JUARA DUNIA pada 2022.
Empat tahun kemudian mereka kembali menembus FINAL PIALA DUNIA. Tidak banyak tim yang mampu mempertahankan level seperti itu.
ITALIA 2010
SPANYOL 2014
JERMAN 2018
DOWNFALL APA YANG MEREKA RASAKAN.
Jadilah fans yang APRESIATIF dan KRITIKUS yang PROPORSIONAL.
SCALONI salah dalam aproach taktik.
MESSI menghilang di laga final.
NICO GONZALEZ dan GIULIANO tidak selevel DI MARIA.
ENZO, PAREDES, MOLINA kehilangan kontrol diri.
MACCA jauh dari standarnya sendiri.
LAUTARO tidak dapat kesempatan bermain.
Dll.
COOLING DOWN,
SAMPAI KE FINAL PIALA DUNIA BUKAN HAL REMEH.
TANYAKAN PADA
CRISTIANO
NEYMAR
IBRAHIMOVIC
ROONEY
KANE
dll
Lihat Lionel Scaloni dan seluruh staf kepelatihannya. Air mata yang mereka keluarkan bukan karena marah, bukan karena kecewa kepada para pemain. Mereka menangis karena mereka tahu betapa besar perjuangan yang telah dilewati. Mereka hanya ingin satu hal: melihat Argentina kembali menjadi yang terbaik di dunia.
Lihat Messi. Ia berdiri dengan mata yang berkaca-kaca. Bukan karena tidak siap menerima kekalahan, tetapi karena ia tahu dirinya dan rekan-rekannya telah memberikan SEGALANYA. Dan yang membuat momen itu begitu indah adalah ribuan suporter Argentina tetap berdiri, tetap bernyanyi, dan tetap bertepuk tangan. Mereka tidak hanya mencintai trofi, mereka juga menghargai perjuangan.
Dibu Martínez kembali menjadi tembok terakhir. Tagliafico bertarung seperti seorang warrior. Lisandro Martínez dan Cristian Romero mengorbankan tubuh mereka hingga titik darah penghabisan. Molina, Paredes, dan Otamendi bermain dengan keberanian yang luar biasa demi lambang di dada. Mungkin ada keputusan yang keliru, mungkin ada emosi yang berlebihan, tetapi jangan pernah ragukan kecintaan mereka kepada negaranya.
De Paul, Mac Allister, Giuliano Simeone, bahkan Enzo Fernández mungkin akan menjadi sasaran kritik.
Namun sepak bola tidak pernah sesederhana menunjuk satu orang sebagai penyebab kekalahan. Ada taktik, momentum, cedera, kartu merah, approach pelatih, keberuntungan, dan begitu banyak detail yang menentukan hasil sebuah pertandingan.
Di bangku cadangan, Lautaro Martínez dan pemain lainnya tidak berhenti memberikan dukungan. Mereka tentu ingin berada di lapangan, tetapi mereka memilih tetap menjadi energi bagi rekan-rekannya. Itulah arti sebuah tim.
DAN KITA SEBAGAI SUPORTER JUGA PUNYA TANGGUNG JAWAB.
Mendukung ketika tim juara itu mudah. Yang jauh lebih berarti adalah tetap berdiri di belakang mereka ketika mereka pulang tanpa trofi. Kritik boleh. Evaluasi juga perlu. Tetapi jangan sampai rasa kecewa membuat kita lupa betapa banyak kebahagiaan yang telah tim ini berikan selama bertahun-tahun.
Final Piala Dunia 2026 ini memang menyakitkan.
Besok mungkin rasa itu masih ada. Namun satu kekalahan tidak akan pernah menghapus perjalanan luar biasa tim ini.
TERIMA KASIH, SCALONETA.
Terima kasih telah membuat kami percaya lagi setelah puluhan tahun menunggu. Terima kasih telah membawa kami kembali ke Final Piala Dunia. Dan terima kasih karena, apa pun hasil akhirnya, kalian selalu bertanding dengan hati, dengan kebanggaan, dan dengan lambang Argentina di dada.
KITA KEHILANGAN PIALA. TAPI JANGAN SAMPAI KITA KEHILANGAN RASA HORMAT KEPADA MEREKA YANG SUDAH MEMBERIKAN SEGALANYA UNTUK ARGENTINA. 🇦🇷
Itu yang awalnya hujat pemain Barca karena banyak yang dipanggil dan skin ke tim lain, sekarang dengan lantangnya bilang "Terima Kasih Spanyol telah menyelamatkan dunia"
Ternyata perasaannya aneh ya
Sejak sepanjang pertandingan berjalan bahkan hingga sekarang telah usai, perasaannya belum hilang juga
Ternyata lebih besar rasa nggak ingin melihat salah satu dari mereka kalah, daripada rasa ingin melihat salah satu dari mereka menang