Karena berita soal bencana Sumatera udah tenggelam, mau gw naikkin lagi di sini.
Udah lebih dari 3 bulan semenjak bencana banjir bandang. Kondisi di Aceh banyak yg belum pulih!!!
JANGAN BERHENTI MEMBICARAKAN PALESTINA.
Yang terjadi di Palestina, terutama Gaza, BUKAN perang. Tidak pernah ada perang dalam sejarah di mana 80% negara hancur, 100% penduduk mengungsi, dan 50% korban tewas adalah anak-anak. Ini adalah GENOSIDA, dan masih berlanjut.
Di saat para elit dunia bicara soal "perdamaian" yang berorientasi bisnis properti, warga Gaza masih terus dibunuhi Israel. Yang dibicarakan elit dunia adalah perlucutan senjata pejuang yang melawan genosida, bukan perlucutan pelaku genosida. Mereka meminta negara-negara menyumbang 17 triliun rupiah, alih-alih meminta pelaku penghancuran (Israel) mengganti kerugian warga Gaza. Mereka memaksakan dogma bahwa penjahatlah yang harus dilindungi keamanannya, alih-alih korban.
Perdamaian tidak akan terwujud selama pihak penjajah masih dibiarkan membunuh & meduduki wilayah jajahan. Perdamaian tidak akan tegak tanpa keadilan.
Early this morning, a massive fire struck residential areas and rows of kiosks at Kasongan Market, Katingan Regency, Central Kalimantan, Indonesia 🇮🇩(26/26)
The fire spread rapidly, destroying nearby buildings. No official details yet on casualties.
Sesudah menghilangkan kesal pada Fedi, dan sesudah melakukan refleksi lebih mendalam pada film Pangku, inilah ulasannya. Perlu beberapa kali menulis ulang agar tertuang semua yang dirasakan saat menonton.
Ada film yang selesai kita tonton, lalu kita pulang dan hidup seperti biasa. Ada juga film yang membuat kita pulang dengan cara pandang yang berubah. Pangku berada di kelompok kedua.
Dalam debut penyutradaraannya ini, Reza Rahadian memilih menaruh kamera sebagai saksi yang tenang. Di sudut-sudut Pantura, di antara perempuan yang memikul beban rumah tangga sendirian, di warung-warung kecil yang menjadi ruang bekerja sekaligus ruang tawar-menawar martabat.
Di sana kita bertemu Sartika, seorang ibu yang harus menghidupi diri dan anaknya di tengah krisis ekonomi, tanpa pegangan selain tekad untuk bertahan. Kita melihat dilemanya sebagai ibu tunggal dengan perasaan sepi dan kegelisahan akan dokumen yang tak lengkap. Di titik itu film ini mengingatkan kita bahwa keleluasaan memilih adalah sesuatu yang ikut direnggut oleh kemiskinan.
Reza tidak menampilkan fenomena “kopi pangku” dalam film ini sebagai sensasi, melainkan sebagai gejala dari struktur yang timpang. Perempuan dijerumuskan ke dalam keterpaksaan yang berisiko, sementara laki-laki kerap digambarkan punya kelapangan yang lebih besar untuk datang dan pergi. Walau demikian, film ini tidak menghakimi para tokohnya, tapi memperlihatkan bagaimana lingkungan dan ekonomi bisa menyudutkan seseorang ke pojok yang sempit.
Di balik semua itu, terlihat betapa serius Reza menggarap karyanya. Christine Hakim mengatakan bahwa momen nafasnya pun diatur oleh Reza. Ia juga ingat terakhir kali ia disutradarai sedemikian ketatnya adalah oleh almarhum Teguh Karya. Ia benar. Ada ketelitian dan obsesi pada kesempurnaan dalam pembuatan film ini yang mengingatkan pada tradisi Teguh Karya.
Perhatian pada detail membuat dunia Pantura dalam film ini terasa dekat. Kulit yang tampak lengket oleh keringat, pakaian yang terlihat benar-benar usang, hingga ornamen kecil di warung dan rumah. Semuanya membuat kita merasakan gerahnya udara pesisir dan lelah yang menempel di tubuh para tokohnya. Tidak ada glamor yang dipaksakan, yang ada adalah keotentikan yang sering menyesakkan.
Secara alur, Pangku bergerak pelan. Dialognya irit, tapi justru karena jarang, tiap kalimat jadi terasa penting. Seperti pemahat yang mengikis batu karena yakin bentuk patungnya sudah ada di dalam sana, Reza dan tim menyingkirkan kata-kata yang tidak perlu. Sisanya diserahkan pada tatapan, gestur, dan keheningan.
Di sisi peran, Claresta Taufan memberi tubuh dan jiwa pada sosok Sartika. Rapuh dan lelah, tapi enggan menyerah. Christine Hakim adalah Christine Hakim, seorang maestro. Ia memberikan lapisan emosi yang halus pada tokoh Bu Maya. Hangat dan manipulatif dalam satu tarikan nafas. Sementara Shakeel Fauzi sebagai Bayu menjadi pintu empati penonton terhadap anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang “tidak lengkap” di mata masyarakat. Fedi Nuril kembali menambah lapisan dilema moral dalam cerita.
Bagi saya, film tidak punya kewajiban untuk mendidik. Tugas utamanya adalah membangkitkan emosi yang membekas, entah itu tawa, takut, haru, atau geram. Tetapi ketika emosi itu membuat kita merenungkan cara kita memperlakukan ibu-ibu tunggal yang dipinggirkan, anak-anak dengan hak-hak yang diremehkan, dan mereka yang terpinggirkan tanpa dukungan, di situlah film ini berperan lebih jauh sebagai medium pengingat dan pembuka kesadaran.
Pangku tidak memberi kita daftar pesan moral, tapi memberi kita pengalaman. Dari pengalaman itulah, pelan-pelan, kesadaran sosial ikut terbangun. Maka untuk itu, kita berterima kasih kepada Reza, seluruh aktor dan awak yang telah menghadirkan film ini bagi bangsa. Maju terus perfilman Indonesia!
https://t.co/L5xAE4jGEO
Orang Malay ngekritik Anwar Ibrahim karena dianggap "baru muncul" di Sumud Flotilla sama isu Palestina.
Lah warga Indo apa kabar 😭😭😭😭😭😭 presiden kita boro-boro nyebut soal Sumud Flotilla.
Dear our brothers and sisters in Palestine, especially in Gaza. He (prabowo) doesnt represent us as indonesians. We support Palestine all the time and never support that two-state solution.
Please believe us. We always pray for your freedom and may Allah destroy zionists and their supporters soon. Aamiin
Warganet Malaysia, Singapura, dan negara tetangga lainnya ramai-ramai pesan makanan di Jakarta melalui aplikasi ojek online. Makanannya bukan untuk mereka, tapi buat dikonsumsi oleh para supir ojol yang menjemput pesanan dan untuk dibagikan pada rekan-rekan sesama ojol.
Sebuah gestur sederhana, tapi terasa sebagai dukungan yang amat hangat. Membaca komentar-komentarnya memunculkan senyum dan bahagia.
Terima kasih, saudara serumpun! Gerakan ini mengingatkan kita akan kuatnya ikatan solidaritas ASEAN. Batas negara boleh memisahkan, tapi rasa persaudaraan tetap menyatukan.
Semoga situasi segera normal, agar kita bisa kembali saling ganggu dan bertikai penuh cinta, sebagaimana layaknya antar saudara kandung. :)
Israel killed Dr. Marwan Sultan, the Director of the Indonesian Hospital in Gaza.
They dropped a bomb on his home, murdering him, his wife, and their children.
Everyone in this image was killed by Israel today.
His crime? Being a doctor.